Rabu, 26 Desember 2012

Opique Pictures Medan Bukan Hanya Jago Kandang


Tribun Medan - Selasa, 30 Oktober 2012 12:30 WIB
Laporan Wartawan Tribunmedan/ Ayu Prasandi

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN
- Film indie saat ini sudah menarik perhatian di kalangan anak muda. Salah satunya film indie yang dihasilkan oleh komunitas yang dibentuk pada tahun 2007 oleh 5 orang yang awalnya menamai diri mereka sebagai ghoqielt community ini dulunya hanya  terdiri dari Opik, Adit, Ardy, Johan dan Fadly . kemudian mereka mengganti nama menjadi  Opique Picture.Di usianya yang kelima ini

Opique Picture, mereka sudah menghasilkan sekitar 50 buah judul film. Diantaranya adalah Rumah Kita, Global Never Warming, Gulung Uang, Jo mengejar Cinta, Hydrosper, Dari Hati, Choise Of Demo Grazy, Ketika Kekuatan menjadi Mayoritas, Museum Sejarah yang Terlupakan, 1000 Langkah Satu Tujuan, Pionaring Sahabat dan Kelas Berdinding Angin.

Batu-baru ini, Opique Pictures memunculkan film terbaru mereka yang berjudul Marjinal. Film ini mengangkat tema yang mengisahkan tentang Kulog, pengamen yang berjuang sendiri membiayai pendidikan adiknya, karena orang tuanya sudah meninggal dunia. Karena penghasilan sebagai pengamen tidak cukup, Kulog memutuskan menjual narkoba.

Opique Pictures juga menambahkan bumbu-bumbu percintaan agar film jadi lebih berasa dan tidak membosankan. Opique Pictures sadar membuat film memang memeras banyak tenaga, biaya, dan waktu. Seperti pada persiapan produksi film Marjinal yang memakan waktu satu tahun setengah.

Sutradara film Marjinal Ridho Pratama, mengaku rancangan biaya produksi menelan kurang lebih 102 juta rupiah. Namun, berkat kekompakan Opique Pictures biaya tersebut bisa diatasi.

Ridho memjelaskan, misalnya saja ketika memakai lokasi panti asuhan Opique Pictures mengaku dapat menggunakannya secara gratis. Begitu pula untuk mencari pemain, komunitas yang diketuai Ridho Pratama ini, mengandalkan pemain yang memang mau bergabung secara sukarela. Walau demikian Opique Pictures tidak asal memilih pemain, mereka tetap mengadakan

casting untuk menyeleksi pemain mana yang memang pantas untuk tampil di film yang mulai diproduksi sejak 16 Februari 2012 ini.

“Ya, kami tetap melihat apakah pemainnya cocok dari segi wajah, kemampuan peran, dan karakternya,” jelas Ridho kepada Tribun, Selasa(30/10/2012).

Setelah melewati proses seleksi, pemain diharuskan mengikuti karantina selama dua minggu agar mereka menemukan karakter dan menghayati peran yang mereka ambil. Kata Ridho lagi, hal paling penting untuk bermain di film ini adalah pembinaan hubungan nyaman antara kru dan pemain.

“Saya juga nggak menyangka bisa bergabung dengan tim Opique Pictures. Karena saya suka seni peran, saya memang menikmati karakter yang saya mainkan. Apalagi saya sudah tidak canggung lagi dengan orang-orang baru,” jawab Fany yang berperan sebagai Sofy dalam film marjinal.

 menurut anggota Opique Pictures juga Opick mengatakan, salah satu keunggulan komunitas movie maker ini adalah mereka mampu membuat film yang berkualitas hanya dengan kamera sederhana. Bagi mereka yang membuat film itu bagus adalah ide cerita dan teknik pengambilan gambar yang bervariasi. Keterbatasan dana dan alat perekam tidak menjadikan komunitas ini berhenti berprestasi.

Opick menuturkan beberapa prestasi yang pernah Opique Pictures raih. Diantaranya adalah tahun 2008 Opick dinobatkan menjadi sutradara terbaik film pendek berjudul yang diselenggarakan Lembaga Sosial Masyarakat Pusat kajian Perlindungan Anak (LSM PKPA), tak puas sampai disitu, tahun 2009 mereka masuk ke dalam kategori editor terbaik, dan masih di tahun yang sama Opique Picture kembali menyabet juara II skrip berjudul Memulung Cita-Cita diselenggarakan oleh Festival Film Anak (FFA) pada hari anak nasional.

Tahun 2010 Juara II film dokumnter berskala nasional dalam ajang festival film anak 2010 dengan judul Museum Sejarah Yang Terlupakan dan di Tahun 2011 juara III film dokumenter berskala nasional dalam ajang Festival Jurnalistik Nasional dan Media Expo yang diselenggarakan Departemen Komunikasi FISIP USU dengan judul Kelas Berdinding Angin.

"Berbeda dengan film-film komersial, film indie tidak punya pasar untuk mendistribusikan karya kami. Hal inilah yang menyebabkan film-film indie kurang dikenal di masyarakat. Jika satu atau dua bioskop di Medan memberikan kesempatan untuk memutar film independen, saya yakin film jenis ini bisa dikenal masyarakat dan tidak dianggap sepele lagi," tutur Opick.

Opik mengatakan, Sampai saat ini kebanyakan mereka memutar film tersebut masih di dalam ruang lingkup sempit seperti kampus atau kalangan sendiri. Padahal seperti telah dibahas diatas banyak film-film indie yang kualitasnya sudah diakui lewat festival-festival film.

“Menurut saya film-film itu bisa untuk memberikan angin segar bagi penikmat film yang mulai bosan dengan suguhan film bertema horor plus pornografi yang marak di bioskop,” katanya Mahasiswa Ilmu Komunikasi USU ini.(Cr3/tribunmedan.com)

Penulis : Ayu Prasandi
Editor : Muhammad Tazli
Sumber : Tribun Medan