Jumat, 11 Oktober 2013

Malam Penganugrahan FFA 2009: BERHARAP BERLANJUT KETINGKAT INTERNASIONAL

Jumat, 25 Desember 2009

ANTARA- Karya perfilman sineas Sumatera Utara (Sumut) mulai dilirik setelah berhasil menyelenggarakan Festival Film Anak (FFA) Nasional kedua. Akibatnya, aktor handal Didi Petet menantang masyarakat untuk menyelenggarakan festival itu di tingkat internasional.
"Saya bangga Sumut mampu menyelenggarakan festival film untuk anak dan diharapkan dapat berlanjut ke tingkat internasional," katanya pada malam penganugerahan Festival Film Anak ke-2 yang diselenggarakan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) dan Komunitas Film Medan, di Medan, Senin (30/11) malam.
Ia menjelaskan, festival film yang melibatkan partisipasi anak itu, merupakan festival pertama di Indonesia, sehingga Sumut berpotensi untuk lebih berkembang dalam dunia perfilman.
Karya film para sineas muda diharapkan bisa mewarnai film-film tingkat nasional, katanya. Karya itu nantinya, juga diharapkan bisa merambah pada dunia industri perfilman indonesia.
Didi Petet menilai, karya film sineas Sumut sangat kreatif dan menarik. Untuk itu, harus menjadi motivasi bagi sineas-sineas lain yang berasal dari kabupaten/kota untuk bersaing unjuk kemampuan.
Film PEREMPUAN NIAS MERETAS JALAN KESETARAAN (PNMJK), yang berkisah penolakan terhadap kekerasan dalam rumah tangga dan pernikahan usia dini, yang di sutradarai oleh sineas asal Medan dan telah diputar di berbagai daerah di Indonesia, merupakan salah satu bukti Sumut punya segudang talenta karya film.
Ketua Panitia FFA, Jufri Bulian Ababil, menambahkan, Sumut memiliki sejarah baik dalam dunia perfilman dan mewarnai film tanah air. Namun, saat ini gaung perfilman itu mulai hilang.
Eforia kesuksesan film Sumut pada tahun-tahun sebelumnya yang telah sunyi itu, kini harus dibangkitkan kembali, katanya, salah satu upaya untuk membangkitkan perfilman di Sumut, antara lain berupa festival film yang berlandaskan partisipasi anak.
Jufri berharap, dengan keberhasilan Sumut menjadi pelopor festival anak pertama di Indonesia, maka perlu diapresiasi dengan baik, bahkan dukungan dari berbagai pihak, khususnya pemerintah provinsi Sumatera Utara.
Wakil Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho, pada kesempatan itu mengatakan, sineas Sumut harus bisa menghadapi berbagai tantangan untuk bisa bersaing di tingkat nasional.
Gatot mengungkapkan, pemerintah akan mendukung langkah PKPA dan komunitas film di Sumut, dalam upaya mengembangkan perfilman, khususnya dengan melibatkan anak-anak agar dapat berkreasi melalui film.
"Tahun 2010, Pemprov Sumut melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata akan memasukkan anggaran dana untuk penyelenggaraan festival film ini, agar terus berlanjut," katanya.
Berlanjutnya kegiatan festival film itu setiap tahun, diharapkan bisa menjadi daya tarik di bidang pariwisata Sumut, sehingga dapat mendatangkan kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara.
Sebelumnya, Direktur PKPA Ahmad Sofyan yang juga menjadi penggagas FFA bersama Onny Krenawan, salah seorang sineas dari komunitas film di Sumut, menyebutkan, saatnya mereka membuktikan bahwa anak-anak di Indonesia memiliki bakat dan kemauan yang besar di dalam perkembangan per-film-an. Untuk itu, menurut sofyan, saatnya pula kita mendukung serta memberi ruang seoptimal mungkin dalam penyaluran bakat dan kreativitas anak.
Dalam kesempatan yang sama, Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi atau yang populer dipanggil Kak Seto, menyambut gembira dilaksanaknnya FFA. Menurut Kak Seto yang kehadiranya diundang sebagai tamu kehormatan anak, FFA merupakan ajang kreativitas bahkan media ekspresi positif bagi anak untuk menuangkan ide serta gagasannya. "Saya yakin, ini yang pertama ada di indonesia. Dan perlu diteruskan dan didukung oleh semua pihak" kata Kak Seto.
Sebelumnya, dari 30 film fiksi dan dokumenter yang berasal dari Sumatera, Aceh dan Jawa di screening oleh dewan juri yang terdiri dari, Didi Petet (Ketua), Onny Kresnawan (Sekretaris), Harist Merdeka Sirait (Anggota), Marhamah (Anggota) dan Fatimah Hanun Lubis (Anggota).
Menurut Sekretaris Dewan Juri Onny Kresnawan, ke tiga puluh film yang masuk screening temanya sangat beragam yakni seputar pertemanan, keluarga, jenaka sampai ke percintaan. Meski menurutnya secara Cinematography masih minim kualitas namun semangat dan ide cerita yang disampaikan anak-anak cukup menantang.
"ide dan gagasan itu yang mahal, tinggal sinematografy-nya ke depan harus terus dipoles. Untuk itu, FFA mendatang workshop-nya harus lebih dipertajam. Prinsipnya, saya siap membantu teman-teman di Medan" sela Didi Petet memberi rekomendasi FFA ke depan.
Uniknya, dari tiga puluh film karya anak itu, menurut Arist Merdeka Sirait ada berkisar delapan film yang memiliki ide cerita yang sama, yakni membangun sebuah pertemanan dan kebersamaan dengan penggalangan dana dengan cara mengamen. "Ini potret buruk sebenarnya, membangun pertemanannya oke tapi mencari duit dengan mengamen itu yang ngak betul. Seolah-olah dipikiran anak hanya mengamen cara gampang mencari duit, padahal masih banyak solusi cerdas lainnya" ujar Arist berharap FFA ke depan akan lebih baik lagi.

Dalam pembacaan penganugerahan yang dibacakan sponsor, komunitas film, dewan juri dan panitia, diumumkan pemenang film kategori fiksi dan dokumenter, serta insan perfilman anak kategori fiksi dan dokumenter, antara lain:

Film pemenang untuk kategori dokumenter adalah Juara 1 "Kami Kelas 2 A", produksi Lapas Anak Medan, Sumut; Juara 2 "Peluh Sang Iwan" produksi SMA Sri Mersing Tanjungpura Langkat Sumut, Juara III "Info Sekolah" Produksi SMA 4 Lhokseumawe NAD, juara favorit "Ari Electric" produksi SMK Telkom Sandhy Putra Medan.

Sedangkan untuk produksi film fiksi pemenangnya adalah Juara I "Baju Buat Kakek" produksi Sawah Artha Film/ SMP Satu Atap Karangmoncol Purbalingga Jatim; Juara II "Melompat Sejauh Mimpi" produksi Inside production, Malang; Juara III "Tetap Semangat" produksi Abah Production Medan, Sumut, juara Favorit "Hadiah Terindah" produksi Q-can production Gunungsitoli, Nias Sumut.


Untuk insan perfilman berpersfektif anak penghargaan terbaik untuk kategori dokumenter diberikan kepada Ardi Syahputra sebagai Sutradara terbaik dalam film "Kami Kelas II A", Danu sebagai editor terbaik dalam film "Info Sekolah", Wandi sebagai ide cerita terbaik dalam film "Peluh Sang Iwan" dan Berty Nainggolan sebagai narator terbaik dalam film "Annai Velangkali".


Insan perfilman berpersfektif anak penghargaan terbaik untuk kategori fiksi diberikan kepada Andhika Thelambanua dalam film "Impian Anakku", aktris terbaik Narti dalam film "Baju Buat Kakek", editor terbaik M Taufik Pradana dalam film Gulungan Uang, Rizkan Jania MN sebagai ide cerita terbaik dalam film "Hadiah Terindah", Jenthro sebagai penata suara terbaik dalam film "Melompat Sejauh Mimpi", dan Fachri Anziar sebagai setter/ artistik terbaik dalam film "Aku Nak Merantau".

Film-film dan sineas muda terbaik ini diperoleh berdasarkan hasil sidang penjurian yang berlangsung di Royal Perintis Hotel, Jalan Parintis Kemerdekaan Medan, Minggu (29/11) dengan Dewan juri terdiri dari Didi Widiatmoko (Didi Petet/ aktor), Arist Merdeka Sirait (Sekjen Komnas PA), Onny Kresnawan (Sutradara), Marhamah (Biro PP Anak dan KB Sekdaprovsu) dan Siti Fatima Syahnur Lubis (Putri Sumut) / Disari dari beberapa sumber SFD