Rabu, 11 Januari 2012

Medan Young Videographers !

Teks oleh Mustika T. Yuliandri @perempuanthicka | Foto oleh Shinko Siburian @shinkosiburian

Setelah fotografi menjadi tren dan sukses dicintai anak muda Medan, geliat hobi anak muda di kota kita ini sebagian beralih ke videografi. Dekat dengan fotografi membuat hobi satu ini semakin mudah menemukan pencintanya, terutama para penikmat foto yang ingin mencoba sesuatu yang baru.


Opique Pictures :
Mencoba Profesional Walaupun Masih Amatir
Terdiri dari beberapa anak muda yang memiliki hobi dan misi yang sama, terbentuklah Opique Pictures, sebuah komunitas yang menjadi wadah aspirasi dalam membuat film. Terbentuk pada 19 Januari 2008 hingga sekarang Opique Pictures telah menghasilkan puluhan film.

“Awalnya kami hanya iseng-iseng mendokumentasikan segala se-suatu di sekitar kami. Yah, pada mulanya hanya pakai kamera biasa yang dua mega pixel aja. Terus lama-lama, kami mikir, kenapa nggak kita jadikan film aja, kan seru tuh,” cerita Opik mengawali. Beranggotakan 13 orang anggota yang aktif, Opique Pictures mengaku kalau membuat film itu sebenarnya tidak memerlukan dana yang mahal. Terbukti dari film-film mereka yang kebanyakan tidak membutuhkan budget besar.

Meski begitu, mereka pernah meraih prestasi untuk beberapa filmnya seperti Global Never Warming yang meraih penghargaan untuk sutradara terbaik dalam ajang Festival Film Anak di Medan pada 2008. Selain itu, film mereka Memulung Cita-Cita, pernah meraih penghargaan script terbaik 2009 untuk piala gubernur pada Hari Anak Nasional 2009. Film mereka Gulungan Uang, juga pernah meraih penghargaan untuk editor terbaik dalam Festival Film Anak di Medan pada tahun 2009.

Saat ditanya apa kesulitan dalam membuat film, Opique Pictures mengaku tak mengalami kesulitan yang berarti. “Di Medan me-nemukan lokasi syuting yang pas agak susah, karena di mana-mana rame dan kalo syuting masih sering diliatin orang, padahal kadang kita butuh lokasinya itu sepi,” kata Rido. Mereka memiliki pengalaman seru saat syuting film Dari Hati, film yang bercerita tentang persahabatan beda strata sosial ini dalam salah satu scene-nya harus mengambil lokasi gang yang sepi. Jadi pada saat malam hari, saat mau mulai take gambar, mereka mengalami kejadian yang seru tapi bikin deg-degan. Gimana nggak, berhubung peralatan dan lighting yang kurang, mereka menggunakan senter sebagai penerangan. Kelihatan seperti “mengendap-endap” warga sekitar lokasi syuting menyangka mereka maling. Alhasil, berbondong-bondong warga datang. Setelah dijelaskan barulah mereka mendapat izin syuting di sana.

“Kami membuat film dengan alat-alat yang sangat sederhana sekali.. Istilahnya, mencoba profesional walaupun masih amatir. Ha-ha-ha,” kata Rido diiringi gelak tawa teman-temannya. “Kami berharap suatu hari nanti film kami bisa masuk Cannes, Sundace dan beberapa ajang bergengsi lainnya. Oleh karena itu kami masih terus belajar dan berusaha menghasilkan film-film yang bagus,” tutur Opik mengakhiri.

Komunitas Rufi
Bagi anak Medan yang tahu tentang film Susahnya Bilang Cinta pasti tahu dong siapa yang yang ada di balik kepopularan film itu, yup dialah Komunitas Rufi. Bercita-cita untuk membawa perfilman Medan ke kancah nasional dan memiliki mimpi menjadikan Medan pusat industri film nasional, Rufi yang telah menghasilkan beberapa film ini mencoba menghasilkan film-film baik dengan mengedepankan genre fiksi, walau ke depannya tak menutup kemungkinan bagi mereka untuk membuat film dokumenter juga. “Komunitas Rufi terbentuk karena kami ingin menghasilkan film-film yang baik dan membuktikan bahwa anak Medan juga bisa menghasilkan film bagus, serta menjadi tempat bagi mereka yang ingin belajar dan tertarik mengenai dunia film. Oleh karena itu, kami menerima siapa saja yang ingin gabung di Rufi. Mau dia anak sekolah, mahasiswa, atau pekerja,” cerita Abrar.

Pemilihan genre fiksi dipilih Rufi bukan tanpa alasan. Mereka me-ngaku kalau di Medan sendiri movie maker di Medan masih jarang yang menggeluti genre fiksi, biasanya Medan lebih sering membuat film-film dokumenter. “Membuat film fiksi itu susah-susah gampang. Dari segi kesulitan dan dana pasti lebih susah dari film dokumenter. Dan untuk membuat sebuah film fiksi yang baik kita dituntut untuk memainkan imajinasi dengan sangat tinggi,” cerita Abrar lagi. Rufi yang telah menghasilkan beberapa film antara lain Mencuri Bunga (film awal Susahnya Bilang Cinta), Susahnya Bilang Cinta dan yang akan segera rilis yaitu Bait Cinta Di balik Hijab. Selain itu mereka juga telah membuat naskah untuk film terbaru mereka Melur yang berkisah tentang puaka dalam adat Melayu.

Yang bikin bangga adalah selain menggarap film, Komunitas Rufi juga menggarap soundtrack film mereka sendiri. Seperti untuk film Bait Cinta Dibalik Hijab sendiri, soundtrack-nya yang berjudul Bait Cinta Dibalik Hijab dan Kaukan Temui Aku Saatku Sudah Pergi sudah bisa di-download di 4shared. Dan kalo penasaran tentang film Bait Cinta Dibalik Hijab, trailler-nya bisa dilihat di YouTube. “Rufi adalah komunitas film yang independen. Jadi dalam menggarap sebuah film kamu akan berusaha sekuat tenaga untuk menggunakan kemampuan kami. Hal itu mencakup proses produksi termasuk soundtrack-nya kami garap sendiri,” tutur Abrar

Selina Irwan dan Katina Irwan
Kalo kita udah ngebahas tentang komunitas film Medan, yang satu ini nggak kalah menarik untuk disimak. Walaupun masih sangat muda, kakak-adik Selina dan Katina Irwan membuktikan bahwa bakat itu tak kenal usia. Buktinya aja, siswa Singapore International School ini mampu membuat video-video bagus yang telah mereka unggah di YouTube dan mostly video-video mereka sering memenangkan kontes yang diadakan di YouTube. Sampai hari ini puluhan video klip telah berhasil mereka ciptakan dengan waktu lumayan singkat. “Dulu kami membuat video itu iseng-iseng aja. Waktu itu kami menghadiri pernikahan saudara dan kebetulan mengikuti pro-sesnya mulai dari fitting baju dan lainnya. Setelah itu kami edit. Eh nggak disangka pengantinnya justru suka dengan hasil video kami dan video itu ditampilkan di acara resepsi,” cerita Katina mengenai awal mula dia membuat video.

Hingga sekarang ini, mereka membuat video klip lagu-lagu Internasional versi mereka sendiri. Kemarin Aplaus sempat melihat beberapa video yang mereka unggah di YouTube antara lain lagunya Ke$ha ‘Blah-Blah-Blah’, Avril Lavigne ‘When You’re Gone’ dan banyak yang lainnya. Selain video klip, Seliana dan Katina juga membuat Canon Commercial di You Tube. Saat ditanya mau nggak suatu hari nanti menggarap film, mereka punya jawaban sendiri. “Kami nggak menutup kemungkinan untuk membuat film suatu hari nanti. Tapi sekarang ini membuat video adalah langkah awal untuk menuju ke sana,” tutur Katina. Katina dan Seliana mengaku tidak kesulitan untuk membuat video klip. Satu hari cukup buat mereka menggarapnya. ”Biasanya kami harus tahu dulu lagu apa yang mau dibuat videonya dan memulai membuat story board, mencari lokasi yang cocok, kostum yang pas dan mulai syuting. Setelah itu lalu melakukan pengeditan. Kami pakai software i-movie,” cerita Katina panjang-lebar. Bagi kamu yang penasaran sama karya-karya Katina dan Selina bisa langsung lihat di YouTube dengan keyword SelinaIrwanxoxo. Have a nice watch!

Movie Anak Medan
Sebuah komunitas film baru di Medan yang terdiri anak-anak Medan yang peduli dengan film dan pendidikan. Beranggotakan Debi Dwi Anisa Fitri, Rini Syafrida, Gilbert Jhontari, Arif Kurniawan, dan Echa, Movie Anak Medan memilik harapan besar untuk mengangkat riuh perfilman Medan ke arah yang lebih baik. Walau terbilang baru, me-reka optimis bisa menghasilkan film-film bagus dengan kemampuan masing-masing mereka. Dalam waktu dekat ini Movie Anak Medan akan kembali memproduksi sebuah film yang akan diikutsertakan dalam sebuah kompetisi. Judul filmnya sendiri masih dirahasiakan karena akan menjadi sebuah kejutan.

“Movie Anak Medan sebenarnya dibuat untuk penyambung lidah rakyat. Maksudnya, kami ingin membuat film yang dapat menyampaikan aspirasi rakyat ke pemerintah. Oleh karena itu kami berniat untuk fokus di genre dokumenter walau tak menutup kemungkinan akan membuat film genre lain,” cerita Debi. Movie Anak Medan memiliki program selain membuat film mereka juga akan melakukan workshop ke sekolah-sekolah. “Di sini tujuan kami nggak hanya sekedar membuat film dan selesai. Tetapi juga sebagai media yang dapat membantu bagi siapa saja yang ingin belajar dan tertarik tentang film,” kata Gilbert. Movie Anak Medan memiliki harapan bahwa kelak Medan akan menjadi pusat film nasional dan menjadi kiblat film.

sumber : http://www.aplausthelifestyle.com/

Geliat Film Indie Kota Medan

Jumat, 6 Januari 2012 13:46 WIB
TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Perkembangan film Indie di kota medan sepertinya akan menyamai dengan perkembangan di pulau seberang. Hal ini terlihat dari banyaknya komunitas film indie yang berkembang dikalangan mahasiswa .Tetapi ternyata sampai saat ini banyak para pembuat film indie hanya fokus pada bidang produksi , bukan hanya pada screening atau aktivitas pemutaran filmnya. Padahal dari screeninglah karya yang dihasilkan bisa dinikmati publik secara luas.
Hal ini diakui juga oleh Opick salah satu anggota komunitas film indie Kota Medan , "opique Picture", saat ditemui di kampusnya FISIP USU. Penyebanya kebanyakan  karena kurang percayanya masyarakat pada kualitas film indie sehingga susah menarik minat masyarakat. Padahal sudah banyak film indie yang menuai prestasi di ajang perfilman lokal maupun nasional.
Seperti salah satu film indie yang dihasilkan Opique Pictures yaitu "Museum Sejarah yang Terlewatkan yang tahun 2010 lalu menyabet prestasi nasional di ajang FFA 2010 .
"Opique Pictures sendiri sudah beberapa kali melakukan screening , diantaranya yaitu saat merayakan ulang tahun komunitas mereka yang ke 3 dan  pada tanggal 26 November lalu di Aula FISIP USU dalam rangka memeriahkan ulang tahun Komunitas Film Indie New Magacine", ujar Opick yang saat ini juga menjabat sebagai sekretaris umum Opique Picture. Mereka mengakui bahwa dengan adanya screening penonton dapat memberikan saran dan kritikan untuk lebih baik kedepannya.
Dari beberapa wawancara singkat yang kami lakukan terhadap beberapa mahasiswa , kebanyakan belum pernah menonton film Indie, alasan mereka karna tidak tahu kapan adanya pemutaran film indie  itu ada dan juga sebagian menyatakan kurang peduli terhadap film-film indie. Mereka lebih tertarik dengan film-film di layar lebar.
Situasi ini sebetulnya sangat disayangkan mengingat semakin maraknya komunitas film indie yang muncul namun rendahnya apresiasi masyarakat terhadap karya mereka. Seperti kita lihat saat ini film-film indie terus saja mendapat tempat nomor dua akibat dari kapitalisasi industri film komersial, padahal film indie lebih kental dengan warna lokal daerah dan lebih bisa mengangkat persoalan-persoalan yang ada di ruang lingkup sekitar.

sumber : http://m.tribunnews.com/

Majulah film indie Medan

YUMEI PUBLISHER
085374006318


Kapitalisasi industri film komersial  mengakibatkan film- film indie semakin tersingkir posisinya di dunia seni perfilman. Padahal banyak nilai- nilai sosial seperti nilai budaya , agama ,dan sebagainya yang bisa diangkat dari film ini. Ditambah lagi , film indie memiliki warna dan keunikan tersendiri yang saat ini sudah jarang ditemui dalam film-film komersial.

Kondisi ini diakui juga oleh salah seorang editor komunitas pembuat film Indie “Opique Picture” yaitu Muhammad Taufik yang biasa disapa Opik. Namun , menurutnya hal ini tidak membuat semangat mereka menjadi turun untuk menghasilkan karya-karya baru.  Hal ini terbukti dengan  lebih dari 50 buah film yang telah mereka hasilkan di usia Opique Picture  yang masih 4 Tahun terbentuk. Kisah perjalanan  komunitas ini juga tidak mudah. Dengan menggunakan MP4 yang memiliki kamera 2MP-lah  mereka  memulai  aksi kreatifnya. “Bagi kami bukan alat perekam yang menjadikan sebuah film itu menarik atau bagus, tetapi ide pengambilan gambar dan alur cerita yang bervariasilah faktor terpentingnya”, tegas Opik .  Hal ini terbukti dengan prestasi-prestasi yang mereka raih baik lokal maupun nasional.

Ketika di temui di kampusnya , Opik yang saat ini menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi USU, juga berbagi pengalaman tentang prestasi yang telah mereka raih. Diantaranya adalah: tahun 2008 Opik dinobatkan menjadi sutradara terbaik film pendek berjudul “Global Never Warming “yang diselenggarakan Lembaga Sosial Masyarakat Pusat kajian Perlindungan Anak (LSM PKPA), kemudia Tahun 2009 masuk ke dalam kategori editor terbaik dengan judul “Gulung Uang”  Tetap di tahun yang sama kembali meraih Juara II skrip berjudul “Memulung Cita-Cita “diselenggarakan oleh Festival Film Anak (FFA) pada hari anak nasional. Di tahun ketiga mereka , tahun 2010 menempati Juara II film dokumnter berskala nasional dalam ajang Festival Film Anak (FFA) dengan judul “Museum Sejarah Yang Terlupakan” dan  di Tahun 2011 meraih juara III film dokumenter berskala nasional dalam ajang Festival Jurnalistik Nasional dan Media Expo yang diselenggarakan Departemen Komunikasi FISIP USU dengan judul “Kelas Berdinding Angin”.

“Sampai saat ini kebanyakan kami memutar hasil karya kami masih di dalam ruang lingkup sempit seperti kampus atau kalangan sendiri. Hal ini karna film indie tidak memiliki pasar di Medan dan juga harus kita akui apresiasi masyarakat pada film Indie Medan juga masih kurang,” tambah Opick lagi. Hal ini sangat disayangkan mengingat banyak film-film indie yang kualitasnya sudah diakui lewat festival-festival film baik nasional maupun internasional. Dan sebenarnya film-film itu bisa untuk memberikan angin segar bagi penikmat film yang mulai bosan dengan suguhan film bertema horor plus pornografi yang marak di bioskop.  Harus kita akui, kehadiran komunitas- komunitas kreatif ini memang sangat kita harapkan untuk dapat menjadi wadah bagi kawula muda di kota Medan ini dalam mengembangkan talenta yang mereka miliki..

sumber : http://waspada.co.id/