Rabu, 25 November 2015

Kisah dari Nias “Omasido Sekola” Muncul di 10 Besar Erasmus Huis International Documentary Film Festival 2013


Omasido Sekola (OS), film dokumenter garapan sutradara dari Sumatera Utara, Onny Kresnawan, lolos menjadi salah satu dari 10 nominator dalam Erasmus Huis International Documentary Film Festival (Erasmusindocs) 2013. Terpilihnya Omasido Sekola (Bahasa Nias: Aku Ingin Sekolah) lolos ke babak final, sekaligus menjadi catatan tambahan prestasi Onny menyusul sejumlah karyanya seperti Menjejak Smong yang sebelumnya berhasil menjadi film terbaik di Festival Film Kearifan Budaya Lokal Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta.

Film-film yang masuk babak final Erasmusindocs 2013 harus melalui beberapa tahapan penilaian dewan juri dalam dan luar negeri. “Pengumuman 10 besar ini saya terima dari akun jejaring sosial resmi Erasmusindocs kemarin, dan ini cukup membuat saya senang karena bisa membawa film Sumut ke panggung internasional,” kata Onny Kresnawan kepada wartawan di Medan, Jumat (1/11).

Film Omasido Sekola (OS) berdurasi 23:40 menit dengan mengambil setting lokasi kerja berbahaya di Pulau Nias. Film ini mengisahkan seorang anak bernama Febriani Telaumbanua (16 tahun) bersama adik serta anak lainnya yang terpaksa melakoni hidup sebagai pekerja di lokasi tersebut.
Di usia anak yang tak semestinya, mereka terpaksa ikut memikul beban keluarga yang miskin dengan bekerja keras sebagai penderes karet. Masa sekolah dan bermain bersama teman sebaya nya pupus akibat kesehariannya dipacu mencari uang buat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Begitu juga dengan adik-adiknya dan anak kebanyakan di Nias yang harus ikut “bertarung nyawa” mengais rezeki di perbukitan batu terjal berbahaya.

Onny Kresnawan yang juga merangkap kameraman serta editor, dengan dibantu penulis naskah Fachriz Tanjung, mengatakan, tampilan Film OS berasa unik dan menyentuh ketika cerita film dikuatkan dengan theme song yang dinyanyikan oleh penyanyi lokal, Sari Hulu.

“Saya berharap, masyarakat Sumatera Utara turut mendoakan agar Film OS menjadi yang terbaik pada festival internasional ini, agar misi dari Film OS, yakni kampanye pemenuhan hak-hak anak kian meluas,” harap Onny yang sebelumnya juga sudah beberapa kali menjuarai kompetisi film dokumenter di tingkat nasional dan internasional.

Film OS merupakan hasil kerjasama yang dipersembahkan oleh Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) serta didukung oleh UE-ACTED dan diproduksi oleh SFD Indonesia.

Direktur PKPA yang juga produser film ini, Misran Lubis, mengungkapkan kegembiraan pihaknya mendengar berita itu. “Ini sekaligus menjadi momen bagi kita untuk memperluas kampanye terhadap perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak, terutama perlawanan terhadap buruh anak,” ujarnya.
Sementara itu, Erasmusindocs Festival Director, Patar Simatupang, menyebutkan kompetisi tahun ini lebih baik secara kualitas, dimana penilaian lebih menitikberatkan pada teknis dan content.
“Dari enam puluh lima peserta yang ikut berkompetisi, secara umum, kualitasnya lebih mendekati kepada yang kami mau,” kata Patar melalui telepon selularnya pada wartawan. “Ini festival kali ketiga yang kita gelar, dimana event pertama I dan II bertajuk Golden Lens,” tambahnya.
Erasmusindocs adalah program yang dilaksanakan oleh Pusat Kebudayaaan Belanda di Indonesia dan didukung oleh IFDA. Seleksi oleh organisasi ini akan berhulu pada penyandingan karya terpilih dengan karya-karya terbaik dari berbagai festival di dunia. Pengumanan film terbaik dan penganugerahannya akan dilaksanakan 16 November di Erasmus Huis Jakarta.

Para dewan juri Erasmusindocs terdiri insan perfilman dari luar dan dalam negeri seperti Jord den Hollander, Hafiz Rancajele, Hans Treffers, Loes Wormmeester, Pawel Ferdek, Nia Dinata, Aryo Danusiri, Ria Ernunsari dan Tomy Widiyatno Taslim.

Lahirnya film-film independen di Sumatera Utara belakangan menandai gejala kebangkitan perfilman daerah ini setelah sempat mati suri cukup lama karena para sineasnya yang lebih suka berproduksi di pusat kota permodalan, Jakarta. Dengan perkembangan teknologi yang memungkinkan para sineas muda dapat memproduksi film berbiaya murah, para seniman Sumatera Utara mulai melihat film sebagai medium yang dapat menyalurkan kreativitas mereka. Film-film dari berbagai genre pun telah berhasil diproduksi, termasuk di antaranya film horor saintifik  semacam The Deepest yang diluncurkan 6 April 2013 lalu.

Gejala mekarnya perfilman di Sumatera Utara ini juga ditandai dengan eksisnya sejumlah komunitas film seperti Komunitas Matasapi Film, Komunitas Film Opique Pictures, dan komunitas-komunitas produksi lain, baik yang bersifat industrial maupun lembaga sosial.

Khusus untuk Omasido Sekola, kehadiran film ini sekaligus menjadi medium refleksi bagi Kepulauan Nias yang baru-baru ini telah diloloskan oleh DPR RI sebagai salah satu propinsi terbaru yang dimekarkan dari Sumatera Utara. Film ini memotret kenyataan sosial dan tidak berdasarkan angka-angka pemekaran yang sering bias karena bersifat reduktif terhadap situasi sosial yang sesungguhnya di masyarakat.

(Fachriz Tanjung/Tikwan Raya Siregar)

sumber: http://sumatrabeyond.com/




FFA dan FTA Didik Anak Lebih Kreatif


MEDAN - Setelah melalui rangkaian panjang, akhirnya penyelenggaraan Festival Film Anak (FFA) dan Festival Teater Anak (FTA) memasuki tahapan akhir dengan diadakannya acara penganugerahan pemenang, di Convention Hall, Mutiara Nafiri Medan, Minggu (22/11).

Kegiatan yang dihadiri berbagai komunitas film dan teater anak, sekolah, universitas, pemerintah, dan organisasi masyarakat Sumut ini merupakan kegiatan FFA kedelapan kalinya sejak 2008, dan untuk ketiga kalinya bagi penyelenggaraan FTA.

Penanggung jawab kegiatan sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA), Misran Lubis, mengatakan, sebagai lembaga perlindungan anak, PKPA terus berkomitmen memberikan ruang kepada anak untuk dapat menyuarakan ide, gagasan, dan solusi perlindungan anak menurut perspektif anak. Dengan begitu anak tumbuh sebagaimana mestinya dan mereka akan semakin kreatif.

“Tahun ini kami mengusung tema utama ‘Kami Berbeda, Kami Istimewa, Kami Punya Masa Depan dengan lima subtema, anak berhadapan dengan hukum, anak disabilitas, anak di situasi bencana, anak penyalahgunaan NAPZA, dan anak dengan HIV/AIDS,” ungkapnya. Misran menjelaskan, rangkaian panjang kegiatan telah dilalui sejak Juni lalu dan bekerja sama dengan Sineas Film Documentary (SFD), Opique Picture, Aliansi Relawan Muda Indonesia (ARMI), Teater O USU, dan dukungan dari Kinder Not Hilfe (KNF) Jerman,.

Penyelenggaraan penganugerahan sengaja dilakukan pada November, karena kegiatan ini sekaligus dalam rangka memperingati Hari Anak Internasional yang jatuh pada 20 November. Tema yang diangkat untuk memperkuat kampanye dan pemenuhan hak-hak, khususnya anak-anak dengan perlindungan khusus.

Ketua Panitia Penyelenggara, Ismail Marzuki, menambahkan, tahun ini ada 14 komunitas film anak dari Aceh dan Sumut, termasuk Nias. Sementara untuk kompetisi FTA diikuti oleh 10 komunitas teater anak dari berbagai sekolah dan sanggar.

“Sampai dengan tahun 2015, setidaknya ada 146 film hasil karya anak yang sudah ikut kompetisi FFA sejak debut pertamanya tahun 2008. Sementara untuk teater sudah ada 31 pementasan dalam tiga tahun belakangan ini,” katanya.

irwan siregar

sumber: http://www.koran-sindo.com/

Selasa, 24 November 2015

Festival Film dan Teater Anak Suarakan Perlindungan Khusus


MEDAN, KabarMedan.com | Setelah melalui rangkaian kegiatan cukup panjang, akhirnya penyelenggaraan Festival Film Anak (FFA) dan Festival Teater Anak (FTA) memasuki tahapan akhir dengan diadakannya acara penganugrahan pemenang di Convention Hall Mutiara Nafiri, Medan, Minggu (22/11/2015).

Setidaknya lebih dari 500 undangan yang terdiri dari berbagai komunitas film dan teater anak, perwakilan Pemerintah, sekolah, universitas, organisasi masyarakat sipil dan stakeholder Sumatera Utara terlihat hadir dan meramaikan apresiasi kreatifitas anak tersebut.

Penyelenggaraan FFA pada tahun 2015 ini merupakan yang ke-delapan kalinya sejak tahun 2008 lalu, sedangkan untuk FTA adalah yang ke-tiga kalinya.

Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) sebagai salah satu lembaga perlindungan anak terus berkomitmen untuk memberikan ruang kepada anak untuk dapat menyuarakan ide, gagasan dan solusi perlindungan anak menurut perspektif anak.

Tentu dalam menyelenggarakan festival ini, PKPA tidak melakukannya sendiri, PKPA bekerjasama dengan Sineas Film Documentary (SFD), Opique Picture, Aliansi Relawan Muda Indonesia (ARMI) dan Teater O USU. Penyelenggara juga mendapatkan dukungan dari Kinder Not Hilfe (KNH) Jerman, Aqua Grup, dan Kampung Halaman dengan media partner Daai TV dan KabarMedan.com.

Rangkaian panjang kegiatan yang telah dilalui sejak bulan Juni lalu diantaranya pengumuman pendaftaran, technical meeting festival, produksi film dan teater, pementasan dan penjurian teater, screening dan penjurian film. Festival film dan teater tahun ini secara khusus diberikan kepada anak-anak di Sumatera Utara dan Aceh.

“Tahun ini kami mengusung tema utama ‘Kami Berbeda, Kami Istimewa, Kami Punya Masa Depan’, dengan lima sub tema : anak yang berhadapan dengan hukum, anak disabilitas, anak di situasi bencana, anak korban penyalahgunaan napza, dan anak dengan HIV/AIDS”, kata Misran Lubis, selaku penanggungjawab kegiatan sekaligus Direktur Eksekutif PKPA.

Tema tersebut diangkat sebagai upaya untuk memperkuat kampanye dan pemenuhan hak-hak, khususnya anak-anak dengan perlindungan khusus. Anak-anak dengan perlindungan khusus seringkali menjadi kelompok yang terabaikan dan terlupakan saat program pembangunan sedang dilakukan.

Sementara itu, Ismail Marzuki selaku Ketua Panitia penyelenggara menyampaikan bahwa pada tahun ini setidaknya 14 komunitas film anak dari Aceh dan Sumatera Utara, termasuk Nias telah berkompetisi dan melewati proses penjurian untuk kategori film fiksi dan dokumenter. Sedangkan untuk kompetisi FTA telah diikuti 10 komunitas teater anak dari berbagai sekolah dan sanggar.

“Sampai dengan tahun 2015, setidaknya sudah ada 146 film hasil karya anak yang sudah ikut kompetisi FFA sejak debut pertamanya tahun 2008, sedangkan untuk teater sudah ada 31 pementasan dalam tiga tahun terakhir,” ujar Ismail.

Penyelenggaraan penganugrahan sendiri sengaja dilakukan pada bulan November sebagai bagian dalam peringatan Hari Anak Internasional yang jatuh pada tanggal 20 November 2015.
Berikut ini para pemenang kompetisi FFA 2015 :
Kategori Film Fiksi
  • Juara 1 : “Ku Bisa Jadi Pemimpin” produksi Fakoli Production
  • Juara 2 : “Indra” produksi Dharmateta Production
  • Juara 3 : “Secercah Cahaya” produksi X- Studio Production
  • Insan Sutradara Berbakat : Benvan Eliezer Zalukhu dalam film “Ku Bisa Jadi Pemimpin” produki Fakoli Production
  • Insan Kameramen Berbakat : Ari Barona dalam film “Secercah Cahaya” produksi X- Studio Production
  • Insan Editor Berbakat : Angelita Gea dalam film “Ku Bisa Jadi Pemimpin” produki Fakoli Production
  • Insan Pemeran Utama Pria Berbakat : Andhyka Libawardana Pulungan dalam film “Secercah Cahaya” produksi X- Studio Production
  • Insan Pemeran Utama Wanita Berbakat : Putri Fadhillla Sari dalam film “Indra” produksi Dharmateta Production
Kategori Film Dokumenter
  • Juara 1 : “Aku Ingin Pulang” produksi SMK Broadcasting Bina Creative
  • Juara 2 : “Setumpuk Asa Di Tanah Karo” produksi Deadline Creative
  • Juara 3 : “Disabilitas” produksi Theater 36
  • Insan Sutradara Berbakat : Feni Eriska dalam film “Aku Ingin Pulang” produksi SMK Broadcasting Bina Creative
  • Insan Kameramen Berbakat : Nurul Shanaz dalam film “Aku Ingin Pulang” produksi SMK Broadcasting Bina Creative
  • Insan Editor Berbakat : Maulana Ridwan dalam film “Setumpuk Asa Di Tanah Karo” produksi Deadline Creative
Pemenang FTA 2015
  • Juara 1 : Judul pementasan “Janji Dedek” garapan komunitas teater Dharmateta
  • Juara 2 : Judul pementasan “Pergi Sekolah” garapan teater Temuga
  • Juara 3 : Judul pementasan “Surat maria untuk Presiden” garapan komunitas teater Rengget Sinabung
  • Juara Harapan : Judul pementasan “Bukan Penghalang Segalanya” garapan komunitas teater Eceng Gondok

sumber: http://kabarmedan.com/

Senin, 03 Agustus 2015

Festival Film dan Teater Anak 2015 di Medan


Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) melakukan kompetisi di Festival Film Anak (FFA) dan Festival Teater Anak (FTA). Kegiatan itu diawali dengan technical meeting di gedung Balai Pendidikan Formal dan Non Formal Indonesia (BPPNFI) I Medan, Rabu (29/7). Menurut Penasehat FFA dan FTA tersebut Sulaiman, tema tahun ini adalah "Kami Istimewa, Kami Berbeda, dan Kami Punya Masa Depan". Tema tersebut dikembangkan menjadi lima sub tema, yakni anak yang berkonflik dengan hukum, anak korban penyalahgunaan NAPZA, anak korban dari tindak pidana perdagangan orang (trafficking), anak penyandang disabilitas, dan anak korban bencana alam.

Ketua panitia kegiatan Ismail Marzuki mengingat, perjalanan FFA cukup panjang dan telah mencatatkan setidaknya 132 film untuk kategori fiksi dan dokumenter sampai tahun 2014. Untuk FTA mencatat 21 pementasan dari berbagai komunitas teater di Sumut.

Penyelenggaraan FFA tahun ini merupakan yang ke-8, sedangkan untuk FTA ke-3. PKPA bekerjasama dengan Sineas Film Documentary (SFD), Opique pictures, Teater O USU dan ARMI dengan dukungan utama saat ini dari Kinder Not Hilfe (KNH).

"Selain sebagai media kampanye perlindungan dan partisipasi anak, FFA akan memberikan tontonan yang layak bagi anak karena kami sangat prihatin atas tontonan anak di televisi saat ini", ungkapnya. Berbagai pihak diharapkan dapat mendukung penyelenggaraan acara anak ini, baik sebagai sponsor maupun media partner dalam kegiatan. (auda zaschkya)

sumber : http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2015/07/31/177922/festival-film-dan-teater-anak-di-medan/#.Vb-boUYRIgQ

Minggu, 07 Juni 2015

Ketentuan Partisipasi Kompetisi Festival Teater Anak (FTA) Ke-3

Ketentuan Partisipasi Kompetisi Festival Teater Anak (FTA) Ke-3 Sumatera Utara dan Aceh 2015 Tema: Kami Istimewa. Kami Berbeda. Kami Punya Masa Depan

Hadiah: Tabungan + Piala + Sertifikat

KETENTUAN PARTISIPASI:
SUB TEMA
Setiap komunitas peserta dapat memilih salah satu dari 5 (lima) sub tema:
 Anak yang berkonflik dengan hukum
 Anak korban penyalahgunaan NAPZA
 Anak korban dari tindak pidana perdangan orang (trafficking)
 Anak penyandang disabilitas
 Anak-anak korban bencana alam

PESERTA
- Peserta adalah tim yang terdiri dari minimal 3 orang anak (berusia 6 - 18 tahun)
- Tim didampingi seorang dewasa (Misalnya: Guru, orang tua salah seorang anggota tim atau staf lembaga pendamping anak)
- Seluruh proses produksi teater dan pemeran seluruhnya masih berusia anak.
- Peserta wajib mengisi formulir pendaftaran dan mengikuti tahapan kegiatan FTA
- Peserta wajib menyerahkan soft copy file naskah dan 4 (empat) fotocopy naskah untuk Juri.

KRITERIA PENILAIAN
- Penyutradaraan
- Keaktoran
- Artistik (penggarapan unsur-unsur pendukung)
- Totalitas/performansi sebagai pertunjukan teater.

KETENTUAN PELAKSANAAN
- Durasi pementasan maksimal selama 20 menit, termasuk menyetting panggung yang dibantu panitia.
- Tidak boleh merubah keadaan panggung/stage yang sudah di setting panitia.
- Peserta yang menggunakan property sampah, atau yang menimbulkan kotoran di panggung wajib membersihkannnya lagi selesai pementasan
- Pementasan tidak diperkenankan menggunakan property yang dapat membahayakan audience (api, air, cat, minyak) dan bahan kimia yang mungkin bisa dikonfirmasikan dengan panitia terlebih dahulu
- Panitia hanya menyediakan standar property (meja dan kursi)
- Peserta diharap tepat waktu dalam penggunaan panggung saat Operasional panggung yang telah di jadwalkan panitia
- Masing-masing peserta diharapkan bertanggung jawab atas Set Up dan Clean Up pada pementasannya
- Segala property dan perlengkapan pentas peserta menjadi tanggung jawab masing-masing peserta
- Beberapa hal yang belum tercantum di atas dapat dikordinasikan lebih lanjut dengan panitia saat technical meeting.

KETENTUAN PENCAHAYAAN DAN SOUND SYSTEM
Cahaya
 Penata cahaya dan penata musik peserta yang akan pentas stand by di area FOH. (boleh menyiapkan musiknya saat transisi pementasan)
 Panitia menyiapkan lampu panggung sederhana
 Perubahan fokus dan colour didampingi oleh stage crew.
 Dilarang merubah tata letak lampu.
Sound
 Panitia menyediakan :
1. Sound
2. Microphone 2 buah
3. Stand mic 1 buah
4. Laptop
5. Kabel jack
 Penata musik peserta yang akan pentas stand by di area yang telah ditentukan dan disediakan panitia. Persiapan penataan musik pada saat transisi pergantian pementasan, jarak 1 peserta sebelumnya.
 Beberapa hal yang belum tercantum di atas dapat dikordinasikan lebih lanjut dengan panitia saat technical meeting.

KETENTUAN TAMBAHAN**
- Tidak melanggar hak anak selama proses produksi dan pendampingan (Misalnya: meninggalkan aktifitas sekolah)
- Kompetisi FTA tahun ini untuk wilayah Sumatera Utara dan Aceh
- Peserta mendapat persetujuan dari orang tua
- Peserta hanya diperbolehkan mendokumentasikan pementasan dalam bentuk foto dan video di area yang sudah ditentukkan dan tanpa menggunakan blitz.
TAHAPAN KEGIATAN
- Pendaftaran partisipasi: sekarang – 30 Juni 2015
- Pengumpulan draft naskah: 30 Juni 2015
- Verifikasi berkas pendaftaran dan draft naskah: 03 Juli 2015
- Pembekalan/ technical meeting I: 11 Juli 2015
- Produksi teater: 11 Juli – 10 September 2015
- Technical meeting II: 11 September 2015
- Deadline Penyerahan naskah final: 05 Oktober 2015
- Pementasan dan penjurian teater: 07-08 Oktober 2015
- Penganugerahan FTA : 24 Oktober 2015

SEKRETARIAT FESTIVAL TEATER ANAK (FTA)
Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA)
Jln. Abdul Hakim 5A, Pasar I Setia Budi, Tanjung Sari Medan, Indonesia - 20238
Telp. (061) 8200170 – 8201113, Fax. 8213009
CP: 0823 6964 4244 (Ismail), 0831 9725 0111 (Opict), 0812 6332 2206 (Bambang)
FB: festivalfilm anak / Yayasan PKPA
Pin: 7EBA3E98
E-mail: pkpamdn@gmail.com / fevro.mail@gmail.com

Download Formulir Klik Disini
** Konsekwensi pengabaian dari ketentuan tambahan mengakibatkan pementasan peserta didiskualifikasi berdasarkan laporan yang diterima panitia dari orang tua atau pihak sekolah.

Ketentuan Partisipasi Kompetisi Festival Film Anak (FFA) Ke-8

Ketentuan Partisipasi Kompetisi
Festival Film Anak (FFA) Ke-8 Sumatera Utara dan Aceh 2015
Tema: Kami Istimewa. Kami Berbeda. Kami Punya Masa Depan

Kategori: Film Fiksi & Dokumenter
Hadiah: Tabungan + Piala + Sertifikat

KETENTUAN PARTISIPASI: SUB TEMA
Setiap komunitas peserta dapat memilih salah satu dari 5 (lima) sub tema:
 Anak yang berkonflik dengan hukum
 Anak korban penyalahgunaan NAPZA
 Anak korban dari tindak pidana perdangan orang (trafficking)
 Anak penyandang disabilitas
 Anak-anak korban bencana alam

PESERTA
- Peserta adalah tim yang terdiri dari minimal 3 orang anak (berusia 6 - 18 tahun)
- Tim didampingi seorang dewasa (Misalnya: Guru, orang tua salah seorang anggota tim atau staf lembaga pendamping anak)
- Seluruh proses produksi film dan pemeran film minimal 80% anak-anak dan keterlibatan orang dewasa hanya sebagai pembimbing dan perannya tidak lebih dari 20%. (dewasa bukan aktor/aktris utama).
- Peserta wajib mengisi formulir pendaftaran dan mengikuti tahapan kegiatan FFA
FILM
- Film yang diikutsertakan berdurasi maksimal 15 menit
- Film yang diikutsertakan tidak mengandung tema-tema bernuansa SARA, pornografi/ pornoaksi, tidak memvisualisasikan kekerasan, tidak mempertunjukkan Drug/Rokok, tidak melanggar hak cipta orang lain baik secara audio maupun visual.
- Film mempromosikan perlindungan dan pemenuhan hak anak, khususnya anak dalam situasi khusus.
- Screenplay film dikirim dalam format DVD atau AVI sebelum berakhir masa pendaftaran ke Sekteratiat FFA.
- Panitia mendapatkan hak publikasi dan sewaktu-waktu dapat mengambil seluruh atau sebagian isi untuk promosi hak anak, hak milik karya cipta tetap pada peserta.
- 1`(satu) komunitas maksimal mengirimkan 2 film.
- Pengiriman film wajib dalam bentuk hardcopy dengan melampirkan softcopy cover film atau still foto (dalam CD) serta sinopsis (30-50 kata)
- Film yang sudah diserahkan kepada panitia tidak dapat diambil kembali.
- Hasil penjurian bersifat tetap dan tidak dapat diganggu gugat.

KETENTUAN TAMBAHAN**
- Tidak melanggar hak anak selama proses pembuatan dan pendampingan (Misalnya: meninggalkan aktifitas sekolah)
- Karya Film Pemenang Kompetisi FFA ke 8 berkesempatan mengikuti kompetisi film nasional (FFI dan AFI sesuai undangan ke panitia FFA)

TAHAPAN KEGIATAN
- Pendaftaran Partisipasi: sekarang – 30 Juni 2015
- Pengumpulan draft sinopsis: 30 Juni 2015
- Verifikasi berkas pendaftaran dan draft sinopsis: 03 Juli 2015
- Pembekalan/ Technical Meeting: 11 Juli 2015
- Produksi Film: 12 Juli – 28 September 2015
- Deadline Penyerahan berkas dan film: 29 Oktober 2015
- Screening Film: 01-02 Oktober 2015
- Upload film ke akun youtobe FFA: 05-06 Oktober 2015
- Penjurian Film/ Insan Film : 09-10 Oktober 2015
- Penganugerahan FFA: 24 Oktober 2015

SEKRETARIAT FESTIVAL FILM ANAK (FFA)
Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA)
Jln. Abdul Hakim 5A, Pasar I Setia Budi, Tanjung Sari Medan, Indonesia - 20238
Telp. (061) 8200170 – 8201113, Fax. 8213009
CP: 0823 6964 4244 (Ismail), 0831 9725 0111 (Opict), 0812 6332 2206 (Bambang)
FB: festivalfilm anak / Yayasan PKPA
Pin: 7EBA3E98
Mail: pkpamdn@gmail.com / fevro.mail@gmail.com

Download Formulir Klik Disini


** Konsekwensi pengabaian dari ketentuan tambahan mengakibatkan film peserta didiskualifikasi berdasarkan laporan yang diterima panitia dari orang tua atau pihak sekolah.

Senin, 11 Mei 2015

Premier Film "Pencari Syafaat" produksi Opique Pictures

Nonton Film "Pencari Syafaat"karya M Ali Akbar, diskusi film oleh M Taufik Pradana dari Opique Pictures.
Pada      : Jum'at, tanggal 15 Mei 2015
Pukul     : 16.00 wib
Tempat  : Restoran Kampoeng Deli Jalan Kapt Muslim No 75 Medan

Buruan daftar dan beli tiketnya, karena hanya 100 peserta. Gratis DVD original "Pencari Syafaat" + info lengkap pendirian Rumah Tahfidz

contact person Mulia : 085262645292

Organizer by : Lembaga Peduli Pendidikan Anak dan Rumah Tahfidz Mukim As-Salim.
Supported by : Opique Pictures

 

Rabu, 04 Maret 2015

Jual Rumah dan Ruko Medan Area





Rumah 18m x 8m
Ruko 20m x 4m 

Jalan Ar Hakim masuk Jalan Seto 54a dan 54b Medan Area Kel Tegal Sari II 
tempat strategis, nyaman, asri, pusat kota dan jalan tidak buntu.

hanya Rp 1.7 Milyar (Nego)

untuk info lebih lanjut bisa hub ibu Ani di 081375881777

Senin, 19 Januari 2015

Apresiasi Film Rp.1000

mari merapat dan apresiasikan film lokal karya anak bangsa