Senin, 01 Juli 2013

MEDAN MANA FILM-MU


Deddy Mizwar Film Naga Bonar
    Denyut perfilman Medan telah lama binasa. Praktis semua ikut binasa termasuk studio, pekerja, produser dan para pelakon film pun  ikut rahib di telan zaman.  Studio film seluar 5  hektare di Sunggal  sejak didirikan praktis tak pernah dimanfaatkan untuk produksi film, kini nasibnya  telah ditelan bumi. Para pekerja film tak ada yang bertahan di Medan semuanya hengkang ke Jakarta sebagai kru film.  Produser film tak ada  lagi di Medan. Karena tidak ada kegiatan industri perfilman yang menopang hidupnya profesi produser film.  Walhasil, perfilman Medan pun senyap lebih dari dua dasawarsa.Yang tinggal hanya jejak sejarah sineas Medan  pernah berbuat banyak dalam perfilman nasional.
    Diera digital begitu mudahnya membikin film. Sakin mudahnya, banyak sineas kagetan menjadi sutradara film. Mereka itulah yang mengisi perfilman nasional saat ini, yang kesemuanya kebetulan berdomisili di Ibukota Jakarta. Tak ada sutrdara film nasional saat ini yang berdomisili di luar kota Jakarta. Banyak diantara sineas muda itu sineas asal Medan atau Sumatera Utara. Satu hal yang membingungkan, kondisi rill saat ini, 80% film nasional diproduksi beraroma seks dan klenik.  Hanya satu dua yang berkwalitas. Selebihnya hanya mengejar kwantitas. Bahkan memperburuk moral anak bangsa. Jangan harap kondisi sekarang ini tema kedaerahanan akan tampil, paling cuma "Laskar Pelangi" (Belitung/2008), "Sang Pemimpi" (Belitung/2009), "Naga Bonar Jadi Dua" (Sumatera Utara/2007) namun tidak diproduksi di Medan dan melipatlkan seniman Medan dan terakhir "Seleb Kota Jogja"  (Yogyakarta/2010).
Mengapa sineas Medan tak pernah bangkit? Jawabnya satu; tak ada orang yang berprofesi sebagai produser film di Medan. Dalam produksi film produser memegang peranan penting. Bahwa profesi seorang produser bukanlah pemilik uang, tapi pengelola uang dari investor atas gagasan yang dicetuskannya. Pun juga tak ada sinema grilya yang dilakukan sineas Medan. Artinya memproduksi film secara grilya seperti yang dilakukan sutradara Rudy Soedjarwo  saat memproduksi film "Bintang Jatuh" (2000). Baik mengedarkan dan produksinya dilakukan secara grilya. Untuk mengedarkan film perdana artis Dian Sastrowardoyo itu, Rudy mengedarkannya  dengan memutarnya berkeliling kampus dan ke berbagai daerah dengan alat digital sederhana yang dibawanya sendiri. Saat mengerjakan film "Bintang Jatuh", Rudy Soedjarwo bertindak sebagai sutradara sekaligus produser dan pengedar filmnya sendiri. Kalau itu pengusaha bioskop (Cineplex 21) tidak berpihak kepada perfilman nasional.
    Dalam perjalanan perfilman nasional, Medan pernah memiliki produser  REFIC (Rencong Film Corporation) Abubakar Abdi (1958)  memproduksi "Turang", "Piso Surit" dan  Ordipa (Orang Orang di Kebun Para). Produser Surya Indonesia Medan Film A.Gani Rahman  memproduksi Setulus Hatimu dan  Orando Film Omar Bach, memproduksi "Butet"  serta produser Sinar Film Corporation Ibrahim Sinik memproduksi  "Batas Impian". Sejak itu film nasional hanya mengambil setting Sumatera Utara untuk lokasi syuting seperti film "Secangkir Kopi Pahit", "Sorta", "Buaya Deli" dan Musang Berjanggut".
Film Musang Berjangut
   Cukup lama sineas  kota  Medan  tak ikut andil dalam perjalanan panjang  perfilman nasional. Padahal sebelumnya Kota Medan  lebih dua dasawarasa  yang lalu,  sineas kota Medan  disegani dalam  kancah perfilman perfilman nasional. Tak lain karya Anak Medan sempat “bicara” dalam perfilman nasional lewat karyanya. Yang namanya Anak Medan (seniman) akan selalu  mengatakan  bahwa Medan gudang seniman, termasuk pekerja film. Itulah semangat Anak Medan untuk berkiprah dalam dunia kesenian termasuk perfilman. Tapi, semua itu hanya semangat. Ide segudang tak ada artinya bila tidak diwujdukan.
    Bisakah perfilman Medan kembali bangkit? Jawabnya; bisa! Film Medan akan bisa "bernafas" jika ada produser film Medan  yang tak semata  beroerientasi Jakarta. Sineas Medan harus tampil dengan kemedanannya, namun bisa menembus peredaran seluruh Indonesia. Tak usah pakai bahasa "deh" dan "dong", pakailah dialek Medan atau bahasa Indonesia yang baik. Sebab 80%  bahasa yang dipergunakan dalam film nasional tak punya sopan santun. Kalimat; "Anjing", "Ngewek" (bersetubuh) dan bahasa pasaran lainnya menjadi bahasa resmi film nasional. Lembaga Sensor Film (LSF) hanya memperhatikan adegan seks vulgar, tanpa memperhatikan bahasa yang tak beradab.  Jika sineas Medan hendak bangkit, jangan harapkan pemerintah daerah untuk membangkitkannya. Sebab bangkitnya perfilman nasional kembali setelah mati suri selama satu dasawarsa  bukan karena campur tangan pemerintah, tapi karena kemauan keras para sineasnya.  Lucunya, Menbudpar "bernyanyi" dalam FFI 2009 kemarin, seakan bangkitnya film nasional karena campur tangan pemerintah. Film nasional bangkit lagi setelah film garapan Riri Reza "Petualangan Sherinna" (1999) dan film bergenre horornya sutrdara Rizal Mantovani dan Jose Purnomo "Jekangkung" (2002) meledak saat diedarkan di bioskop.
    Sesungguhnya Konsep, ide dan pemikiran seniman Medan tak kalah dengan sineas yang ada di Jakarta. Tapi sayang, dominasi Jakarta sejak munculnya film pertama yang diproduksi sienas negeri ini tak pernah “dipatahkan” kota lain. Jakarta sebagai ibukota dibangun dan dikembangan oleh anak daerah yang tersebar penjuru negeri ini, termasuk dunia perfilman. Nyaris semua sineas negeri ini adalah putra daerah yang menggembangkan kreatifitas keseniannya di Jakarta. Putra Sumatera Utara memberikan kontribusi yang cukup  meyakinkan dalam perjalanan perfilman nasional. Baik sebagai sutradara, penulis skenario, kamerawan, peƱata artistik, produser dan tentu saja sebagai aktor dan aktris. Tapi, semasa di daearah asalnya para sineas itu tidak memberikan apa-apa dalam perfilman nasional. Sebab daerah  tempat asal para sineas  tak memberikan harapan untuk bisa memproduksi film atau mewujudkan kreatiftasnya.
    Sumatera Utara yang terdiri dari berbagai etnis dan sub etnis serta ras  memiliki segudang gagasan ide cerita yang bisa dilayarlebarkan. Potensi kekayaan ide cerita  bertema horor, komedi, laga, epos maupun drama percintaan seperti tambang emas yang tak pernah dieksplorasi.
    Gagasan cerita yang dimiliki  Sumatera Utara hanya secuil saja yang diangkat ke layar lebar. Karya  novel Merari Siregar dengan "Azab Sengsara," meski masih relevan dengan kondisi sekarang hanya dilakukan sebatas membikin sinetron.  Sinetron  Azab dan Sengsara yang disutradarai Edward Pesta Sirait  itu pun tak pernah ditayangkan meski Pemda Sumut ketika diera Gubernur Raja Inal Siregar cukup mensuport dengan anggaran yang terbilang  besar.
    Selain  cerita legenda, hikayat dan cerita rakyat, Sumut juga punya segudang ide cerita  untuk layar dilayarlebarkan yang bisa disajikan tidak saja berskala nasional tapi juga internasional. Perjalanan Koeli Kontrak dari tanah Jawa yang ditipu Belanda yang rencanakannya akan dikirim ke Suriname, ternyata dikirim ke tanah Deli. Politik kolonial Belanda  membuat munculnya bangsa Tamil dan China di  Sumatera Utara untuk dipekerjakan sebagai kuli di perkebunuan di Tanah Deli. Puluhan tema masih banyak yang belum tergali.
    Kemunculan bangsa China daratan dan Tamil memiliki gagasan ide yang  tak kalah menariknya  dari novel Remy Silado yang dilayarlebarkan oleh Nia DiNata dengan judul yang sama  "Cau Bau Kan" (2001).  Di Medan, ada tokoh multikulturalisme, Tjong A Fie cukup  menarik untuk dilayarlebarkan. Sosok koeli miskin dari China daratan menjadi tokoh yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Kota Medan. Tak lain  karena jasanya yang cukup besar terhadap kedamaian dan kemakmuran di kota  Medan.
    Bikin film itu mudah! Namun saat ini tidak ada yang menjadi lokomotif perfilman Medan. Kalau pun ada produser film asal Medan, lebih memilih "bertarung" di Jakarta, seperti yang dilakukan  produser Anthony Pictures lewat  film "Tapi Bukan Aku" (2008), namun hasilnya jeblok. Membikin film seperti membikin pesta, bisa mahal bisa murah. Ratusan tema yang menarik bisa diangkat ke layar lebar. Cerita sederhana jika digarap serius bisa menghasilkan karya apik. Produksi film di Medan jauh lebih murah dari daerah lainnya, dengan peralatan digital dan peralatan yang standar bisa melahirkan sebuah karya film. Tapi siapakah yang menjadi lokomotif perfilman di Medan? Untuk itu diperlukan seorang produser yang loyal dengan perfilman Medan. Bila saja ada produser yang memproduksi film untuk membikin master saja, itu sudah sebuah kemajuan. Sebab, biaya termahal dari produksi film adalah biaya pasca produksinya. Untuk satu juudl film bisa edar serentak di seluruh penjuru negeri diperlukan minimal 40 copy. Jika tidak, para pembajak film di Glodok, Jakarta, siap membajak  film yang sedang beredar. Biaya produdksi film  bisa sampai 3 miliar tak lain karena semua film nasional masih diblow-up di Thailand dan biaya satu copy 10 juta di Inter Studio, Jakarta.
    Sinema  gotong royong, adalah tepat untuk membangkitkan perfilman Medan. Biaya produksi dilakukan secara gotong royong, begitu saat pasca produksi. Artis dan kru tak perlu 100% dari Jakarta. Untuk nilai komersil, setidaknya diperlukan artis Jakarta yang sudah populer. Selebihnya bisa dikerjakan oleh para sineas Medan yang sudah puluhan tahun tak memproduksi film bergaya Medan.  Dengan konsep itu, setidaknya, para pengusaha, pejabat Pemda, politisi dan sponsor bisa mematangkan biaya pasca produksi. Pertanyaannya sekarang, siapa yang mau menjadi lokomotif perfilman Medan meski hanya untuk memproduksi master film tok? (***)

Pesing Koneng, April 2010
(Dimuat di buku: INI MEDAN, BUNG, penerbit Seniman Medan 2010)