Selasa, 01 Januari 2013

Workshop Film FFI di Santika Premiere Medan

MEDAN-Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention mendukung program pemerintah yakni “Aku Cinta Film Indonesia” dimana Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar workshop dan pemutaran film dengan menghadirkan sineas muda Indonesia.

Acara yang berlangsung pada 18 Desember 2012 ini mendapat sambutan hangat dari para undangan yang berprofesi sebagai sutradara dan produser film.

Public Relation Manager, Gledy Simanjuntak mengatakan pihak Santika Premiere Dyandra sangat antuasias sewaktu pihak Indonesia Kreatif yang ditunjuk Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyambangi Santika Premiere Dyandra untuk mengadakan acara workshop dan pemutaran film.

“Santika Premiere Dyandra ingin berpartisipasi dengan meningkatkan event-event anak muda seperti ini di Ulos CafĂ©, sehingga masyarakat kota Medan bisa lebih tergerak membuat karya yang berkualitas”, ujar Gledy.

Workshop dan pemutaran film ini berkonsentrasi pada film nominator piala Citra FFI besuutan Sammaria Simanjuntak. Acara yang dihadiri puluhan peserta itu turut menghadirkan sutradara dan produser film Medan Rius Suhendra, sineas lokal dari Tofique Picture dan pengamat film Medan dr. Daniel.

Film berjudul “Demi Ucok” ini mendapat respon luar biasa dan mendapat 8 nominasi di FFI, antara lain Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Penulis Cerita Asli Terbaik, Penulis Skenario Terbaik, Pengarah Artistik Terbaik, Penata Suara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik yang akhirnya mendapat juara. Oleh majalah Tempo, film ini disebut sebagai salah satu film Indonesia terbaik tahun ini.

Selain berbicara banyak mengenai proses pembuatan film Demi Ucok, pada kesempatan yang sama juga diputar dua film pendek Sammaria berjudul “Emit” dan “Pengakuan Acun”. Keduanya telah mendapat pengakuan di ajang penghargaan film indie di Eropa. Juga diputar film pendek karya sineas lokal Opique Pictures berjudul “Gak Belok Lagi”.

Yang tidak kalah menarik ialah diskusi tentang film lokal Medan. Rius Suhendra, sutradara film “Golden Egg” bercerita bagaimana proses mendapatkan sponsor. Film berbahasa Hokkien itu juga mendapat respon yang luar biasa dari kalangan penikmat film lokal dengan penjualan keping DVD sebanyak 200.000. Keuntungan film juga cukup fantastis, mencapai Rp 400 juta.

Pengamat film Medan, dr. Daniel yang hadir sebagai narasumber dadakan mengatakan, sebenarnya ada banyak orang-orang kreatif di industri film lokal Medan. Sayangnya, para sineas masih sering terkendala dalam hal biaya produksi. Alhasil, banyak ide pembuatan film yang tidak terwujud.

Taufik Pasaribu dari Opique Pictures mengakui kendala itu. “Cara yang sering kami lakukan untuk mendapatkan dana ialah dengan bekerjasama dengan sejumlah pihak yang terlibat di film. Kami juga melakukan pemutaran film gaya layar tancap untuk mendapatkan kontribusi dari penonton.”

Sammaria menambahkan menganggap upaya mendatangi penonton seperti yang dilakukan Rius dan Taufik merupakan salah satu cara indie mengatasi biaya produksi yang besar. “Beda dengan produser film mainstream, sineas indie memang harus lebih agresif ke penonton,” katanya.

Tri Damayanto dari Indonesia Kreatif, selaku pelaksana event ini mengatakan, event ini dilakukan berkaitan dengan program Kemenparekra “Aku Cinta Film Indonesia” yang telah diluncurkan belum lama ini. “Film Indonesia itu bukan hanya film berbahasa Indonesia, bisa juga film berbahasa lokal dengan mengetengahkan kedekatan budaya lokal,” katanya. Film ini seperti ini, kata Tri, masih memiliki peluang besar untuk digarap para sineas Indonesia.

sumber : http://www.investor.co.id/