Sabtu, 22 Januari 2011

FILM MERAH PUTIH (Film Indonesia Pertama Visual Effect TERMAHAL..!!!)




REVIEW :

Merah Putih merupakan film Indonesia yang dirilis pada 13 Agustus 2009 yang disutradarai oleh Yadi Sugandi. Film ini dibintangi antara lain oleh Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Darius Sinathrya, Zumi Zola, Teuku Rifnu Wikana, Rahayu Saraswati, Rudy Wowor, dan Astri Nurdin.

Tak tanggung-tanggung, biaya produksi dan promosi untuk film yang mengisahkan perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah berjudul MERAH PUTIH dikabarkan mencapai Rp60 miliar.

"Dana tersebut mencakup pembuatan tiga seri film MERAH PUTIH karena memang dijadikan sebagai film trilogi," kata produser dan penulis film MERAH PUTIH, Conor Allyn, di Semarang, Jumat (14/08).

Menurut dia, pembuatan film dengan dana sebesar itu memang masih kalah dibandingkan dengan film-film sekelas Hollywood yang kisarannya US$175 juta.

Namun, lanjutnya, untuk pembuatan film-film di Indonesia, dana sebesar itu memang terbilang tinggi, sehingga pihaknya menyiasatinya dengan membuat film menjadi tiga bagian (trilogi).

"Kalau soal kualitas, kami menjamin film MERAH PUTIH tidak kalah dengan film-film Hollywood karena pembuatannya juga menggandeng beberapa pihak yang telah malang melintang menggarap film terkenal," kata Conor.

Di antaranya, ahli spesial efek Inggris Adam Howarth yang pernah menggarap film SAVING PRIVATE RYAN, HARRY POTTER AND THE SORCERER'S STONE dan sutradara senior Inggris Rocky McDonald yang telah menjajal kemampuannya dalam film MISSION IMPOSIBLE II dan THE QUIET AMERICAN.

Sedangkan aktor yang membintangi film itu, antara lain Lukman Sardi yang berperan sebagai Muslim (pernah membintangi LASKAR PELANGI, QUICKIE EKSPRESS, 9 NAGA, dan GIE) dan Donny Alamsyah yang pernah membintangi FIKSI, 9 NAGA, dan GIE, serta Darius Sinathrya yang berperan sebagai Marius, paparnya.

Menurut dia, MERAH PUTIH adalah film yang menggambarkan kisah perjuangan para pahlawan saat tahun 1947 silam melawan Belanda yang melancarkan agresi dipimpin Van Mook dan menyerang jantung kota Jawa Tengah.

"Karena itu, sebagian besar adegan diambil di Semarang, di antaranya di Gedung Lawang Sewu, daerah Bandungan, lereng Gunung Ungaran, kawasan Tinjomoyo dan Candi Baru Semarang," katanya.

Film produksi bersama PT Media Desa Indonesia dan Margate House Ltd yang disutradarai Yadi Sugandi tersebut telah merampungkan sekitar 60% penyuntingannya dan siap diputar untuk seri pertama film MERAH PUTIH mulai 13 Agustus.

"Yadi Sugandi merupakan pembuat film dan penata terbaik yang telah berpengalaman menangani LASKAR PELANGI, UNDER THE TREE, TIGA HARI UNTUK SELAMANYA, dan THE PHOTOGRAPH," kata Conor.

Sementara itu, aktor Donny Alamsyah mengatakan, proses pembuatan film tersebut tidak mudah, sebab harus melalui beberapa proses casting secara bertahap dan para pemain harus mengikuti pelatihan militer untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

"Apalagi proses pembuatan film MERAH PUTIH banyak menampilkan adegan di luar ruangan sehingga membutuhkan daya tahan yang prima, terutama saat syuting di daerah Bandungan yang berhawa sangat dingin," kata aktor yang berperan sebagai Thomas itu.

Teuku Rifnu Wikana yang memerankan tokoh Dayandi film itu juga mengungkapkan hal serupa karena beberapa kali harus mengubah karakter yang harus dimainkan.

VISUAL EFFECT FILM INDONESIA TERMAHAL (kurang sempurna) :

Jika disaksikan secara seksama, Efek Visual dalam film tersebut tergolong Jempolan jika dibandingkan dengan film-film Indonesia yang lainnya. Dalam Film Tersebut ada banyak efek Explossion/Ledakan, Muzzle Flash/Api Senjata, dan Blood Particle/Efek Cipratan Partikel Darah.

Semua Efek tersebut didesain dalam ruang yang riil (nyata) kecuali effek muzzle flash, mungkin itulah mengapa sebabnya film ini tergolong mahal karena harus mengeluarkan banyak uang untuk membeli bahan peledak dan membayar efek visual yang tergolong standar hollywood.

Namun yang saya herankan, kenapa efek ledakan dan efek cipratan darah dibuat dengan material yang nyata, padahal kalau kita berkaca pada Hollywod, terlebih film-film yang visual effectnya ditangani perusahaan seperti ILM atau WETA DIGITAL, mereka cukup menggarap semua effect tersebut dengan komputer, dan tentunya hal itu dapat menghemat biaya. mungkinkah pembuat efknya JADUL atau hal tersebut merupakan permintaan sang sutradara/produser? hanya mereka yang tahu.

Andai saja pembuat film merah putih memilih efek yang virtual (tidak riil), maka semua kebocoran logika dalam film tersebut bisa diatasi. Misalnya Setting dalam film tersebut adalah tahun 1947, namun mengapa jalannya sudah di Hotmix/Aspal? padahal dengan software 3d Max dan After Effect seorang yang sudah mencapai level Advance dalam software tersebut bisa melakukan Manipulating Environment (manipulasi lingkungan). Jadi lingkungannya dibikin jadul juga, misalkan merubah / memanipulasi Jalan Hotmix tersebut dengan batu atau tanah.
Sekian..


Go Visual Effect Indonesia ...!!!!!

sumber : http://www.verlanymulticom.co.cc/search/label/Resensi