Senin, 20 Desember 2010

Makna Sebuah Kontes.

Meningkatkan kreativitas serta membangun kepercayaan diri adalah suatu hal yang wajar dan perlu, karena membuat seseorang mengenali nilai lebih yang dimilikinya sehingga seseorang dapat mengembangkan diri kearah yang lebih baik. Sebab itu, dimasa sekarang lomba adu bakat dan ketangkasan sering digelar seiring dengan beragamnya lembaga kursus dibidang keahlian seperti seni tari, seni musik, informatika, olahraga dan masih banyak lagi. Bahkan sekalipun tidak bisa mengikuti perlombaan, orang masih dapat menunjukkan kelebihannya dengan mengunggah video maupun gambar disertai narasi tentang hasil karya yang dibuat via internet. Tetapi mungkin dengan mengikuti suatu lomba akan memiliki nilai lebih dalam meningkatkan rasa percaya diri, karena seseorang harus bersaing secara sehat untuk meraih gelar juara. Namun ada kalanya sebuah lomba diadakan lebih sebagai salah satu alternatif hiburan, contohnya lomba sepak bola bersarung yang biasa diadakan untuk memeriahkan acara 17 Agustus-an.

Baru - baru ini, saya menonton sebuah lomba yang mungkin terdengar cukup unik yaitu " Lipsync Contest." Kebetulan lomba tersebut diadakan di kota saya yang memang cukup jarang mengadakan acara lomba. Biasanya juga lomba baru akan ramai kalau menjelang 17 Agustus-an, atau Hari Ulang Tahun kota. Kebetulan, saya sedikit mengetahui persiapan lomba tersebut hingga menonton hari pelaksanaannya. Ini menjadi mungkin, karena beberapa teman saya diminta untuk ikut ambil bagian menjadi panitia dan juri.

Saat kali pertama saya mendengar lomba tersebut, sempat terbesit " Wah, lucu juga ya?' . Karena pihak panitia memang mengadakan lomba tersebut untuk menyikapi fenomena meledaknya unggahan video klip " Keong Racun " versi Shinta - Jojo. Tapi ketika melihat poster kontes tersebut, saya malah bingung. Dalam poster tersebut tertera bahwa pemenang akan mendapatkan uang pembinaan. Saya jadi bertanya - tanya, " Lipsync Contest " ada uang pembinaannya, dibina menjadi apa? Karena menurut saya, jika hadiah tersebut disebut sebagai uang pembinaan maka berarti akan ada kelanjutan dari lomba tersebut. Mungkin untuk diarahkan menjadi bintang kota kami, atau mungkin menjadi delegasi untuk lomba sejenis di tingkat yang lebih tinggi. Ketika saya menanyakan hal tersebut kepada salah satu juri yang saya kenal, dia menjawab, " Waduh..kurang jelas ya..sepertinya kok tidak." Lalu saya bertanya lagi, " kok mendadak jadi juri?"

" Lha wong enggak ada yang mau, kasihan panitianya bingung, " jawab teman saya. Dan saya hanya manggut-manggut saja mendengar jawaban tadi sambil mencoba memaklumi bahwa mungkin lomba ini diadakan sebagai salah satu alternatif hiburan akhir pekan di kota kami.

Namun ternyata lomba tersebut tidak berhenti menggelitik hati saya. Puncaknya terjadi pada hari pelaksanaanya. Awalnya sih biasa- biasa saja. Hanya terjadi kedodoran pelaksanaan teknis panitia dan itu tidak terlalu menarik perhatian saya, karena hal demikian sudah wajar dalam sebuah acara.Saya masih bisa tersenyum - senyum melihat para peserta yang didominasi remaja, dengan kostum yang lucu dan rata-rata menampilkan lagu Keong Racun. Tapi ketika hampir berakhirnya kontes, ada seorang kontestan yang dipanggil oleh pembawa acara. Awalnya saya geli karena yang muncul adalah anak laki-laki bertubuh gemuk dan memakai kostum kucing lengkap dengan riasan wajahnya. Ia datang ditemani sang mama. Namun begitu musik mulai diputar, ternyata adalah ( lagi - lagi ) lagu Keong Racun. Masalahnya bukan pada lagu yang dinyanyikan, tapi cara dia menggerakkan mimik muka dan gestur tubuhnya membuat nafas saya terasa sesak. Belum lagi dari layar LCD terlihat zoom out tiap kali si bocah mengoyang-goyangkan pantatnya, atau ketika dia memperagakan kata " bodi seksi ." Entah kenapa, saya merasa ditampar. Seperti inikah tingkah polah anak- anak yang kita inginkan? Apa dia tahu apa makna lagu yang sedang dia bawakan? Kenapa tidak lagu anak - anak saja? Apa tidak ada kategorisasi peserta dan lagu dari panitia penyelenggara? Ironisnya, para penonton tertawa - tawa menganggap pertunjukkan itu lucu, dan sang mama sibuk memotret sambil tersenyum bangga. Akhir cerita, si anak tadi justru memenangkan kategori juara favorit pilihan panitia.

BIJAK MENYELENGGARAKAN KONTES
Dari pengalaman panjang yang saya tuturkan tadi, saya melihat bahwa kebutuhan manusia untuk berkompetisi dewasa ini memang besar. Selain sarana aktualisasi diri, juga untuk meningkatkan prestise dan prestasi. Untuk itu memang perlu adanya pihak - pihak yang menyelenggarakan bermacam kompetisi. Akan tetapi perlu diingat, harus dipertimbangkan latar belakang dan tujuan yang ingin diraih dari kegiatan tersebut, terlebih bila acara itu memiliki lingkup yang luas untuk umum. Karena jika tidak, kegiatan itu hanya seperti kran bocor, tidak ada efek positif yang lebih daripada hanya untuk kesenangan sesaat mengabiskan uang sponsor.Apalagi dengan adanya embel- embel "Uang pembinaan", yang membuat peserta berharap lebih akan adanya kelanjutan dari lomba yang diikutinya. Jangan sampai ternyata itu hanya harapan kosong. Jika memang lomba itu hanya untuk senang-senang, menurut saya tidak perlu ada kata - kata " PEMBINAAN." C

Idealnya, sebuah kompetisi akan membuat peserta belajar banyak hal yang mungkin dapat bermanfaat untuk mengikuti kompetisi yang akan datang. Selain itu membuat mereka merasakan adanya proses persiapan lomba, menampilkannya, hingga keputusan akhir dari lomba, menang atau kalah dapat diterima sebagai keberhasilan yang tertunda, atau mempertahankan kualitas kemampuan mereka. Serta kebanggaan yang wajar atas prestasi yang layak dibanggakan oleh mereka dan keluarganya.

Selain itu, perlu adanya kebijakkan lebih jika dalam suatu kompetisi memungkinkan adanya keikutsertaan anak-anak. Hal tersebut bisa diantisipasi dengan membuka kategori untuk anak - anak serta anjuran agar apa yang mereka pertontonkan adalah apa yang sesuai dengan usia mereka, seperti lomba menyanyi dengan lagu anak- anak misalnya. Sehingga penonton kita juga belajar melihat kepolosan anak yang alami, bukan karena melihat mereka pandai bertingkah seperti orang dewasa.

BIJAK MENJADI KONTESTAN.
Ya, cerdas menangkap peluang untuk menjadi lebih maju dan dikenal itu baik. Jangan sampai mengikuti lomba hanya untuk dikenal dan melupakan apa tujuan lomba itu sebenarnya. Seseorang yang ingin menambah pengalaman dan rasa percaya diri yang positif, tentunya juga harus bisa melihat seperti apa lomba itu nanti akan bermanfaat bagi dirinya seraya menentukan apa tujuannya mengikuti lomba. Cukup untuk meraih hadiahnya yang memiliki nominal lebih?Atau juga ingin membantu dirinya ke jenjang prestasi yang lebih tinggi? Pilihan ada ditangan peserta, hanya perlu diingat jika apa yang dikeluarkan sebanding dengan manfaat yang akan diterima, apalagi jika bisa lebih.

Pada akhirnya, saya melihat lomba diatas, yang tempat dan cara pelaksanaannya terbilang " wah!", tidak lebih hanya sebagai hiburan yang getir. Saya hanya mencoba maklum, bahwa acara ini memang sama dengan acara yang ada di lomba- lomba menjelang 17 Agustus-an. Mungkin akan lebih tepat jika diadakan di momen itu.

Jadi sekarang akan menyelanggarakan kompetisi apa? Selamat berkompetisi dengan sehat dan cerdas!

(Catatan dari sebuah kota kecil di, Probolinggo)

Cerita dari sahabat kita: Shenobi Sutanto