Minggu, 10 November 2013

Testimoni Peserta "Aku Cinta Film Indonesia"

 https://fbcdn-sphotos-b-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/q71/s720x720/1231518_546573038729834_384529042_n.jpg



Perfiliman sudah d kenal dari tahun 30 an sudah d jelaskan dlam sejarah perfiliman.. Tp knp baru d buat peringatan perfiliman indonesia pada tahun 1950 an? Karena pada tahun tu lah film indonesia bner" d pegang oleh indonesia..krna sblumnya masih d pegang ahli oleh orang asing...

Ada yg brtanya bagaimana cara mencintai film indonesia secara bnyk film luar yg lbih booming? Caranya dngn membuat karya film yg lbih bnyk mengandung nilai positifnya.. pendidikan, jgn mmbuat film horor yg menjual tubuh saja tp nilai positifny ga ada tula kekurangan kita yg perlu d perbaiki.. Adapun yg bertanya pa saja hambatan saat syuting? Hambatanny tu bnyk mulai kru ataupun pemain yg lain pada telat datang k syuting mmbuat kimberly harus menunggu.. Bangun pagi buta tuk k lokasi syuting padahl masih letih...


Ada yg bertanya bagaimana kementrian bisa menyikapi ttg karya film anak medan, knp sllu yg d tonjolkan jakarta ... Padahal daerah sumatera memiliki potensi yg tidak kalah jauh..
Sutradarany menjawab tidak begitu pasti tp intinya mereka bilang tu sangkut oleh dana juga..
Namun yg paling perlu d perhatikan disini adalah indie dmna indie memiliki keterbatasan dalam produksi film tp kurangny perhatian pemerintah dalam hal ini.. Harapanny lebih d perhatikan dan kalau bisa d bentuk pembinaan soal perfiliman buat anak medan terutama indie...


sebuah pernyataan dari bozhe harahap seusai acara "AKU CINTA FILM INDONESIA" tanggal 9 november 2013 lalu di Medan.

Nama : Bozhe Harahap
konsen make up artist di komunitas film indie asal medan Opique Pictures.
mahasiswi tingkat akhir ini telah mengisi produksi beberapa judul sejak tahun 2012

Jumat, 08 November 2013

inisiasi ilmu komunikasi fisip usu 2013



ini adalah kita,kita yang membuat sejarah. maaf kalo potonya byk yg blur,tp aku yakin masa depan kita pasti cerah,secerah senyuman tangis kita kawan !!!

Apakah itu O-Pictures?


O Pictures adalah sebuah dawah kreatif yang kali ini didirikan oleh komunitas film indie asal medan yaitu Opique Pictures. hal ini terwujud di karenakan oleh semangkin sulitnya seseorang mencari identitas dalam dunia nyata, melalui wadah ini di harapkan tiap peserta dapan menemukan dan menjalani apa yang di inginkannya dalam dunia ini. khusunya dunia sinematography, photography dan designgraphy.

Pada tahap awal ini, dumulai dari kelas sinematography dengan mulainya membuka 4 departemen dasar produksi sebuah film, yaitu :
- departemen penulisan ide cerita.
- departemen Penyutradaraan.
- departemen Kameramen
- departemen editing.

di perkirakan kelas ini akan beroperasi pada akhir tahun 2014, namun yang jadi pertanyaan selama ini kenapa begitu lama membuka kelas ini, hal ini direncanakan menjadi wadah seperti halnya sekolah yang seluruh biaya pendidikannya secara gratis. dan akan diseleksi sampai sekecil mungkin perserta yang mendaftar. guna membuktikan orang-orang pilihan yang layak untuk mengisi kelas ini.

sejauh perkiraan kami, kelas ini akan beroprasi di basecampnya Opique Pictures tepatnya di jalan adam malik gang selamat no 21 Medan Sumatera Utara - Indonesia. dan untuk persentase pendidikan akan dijalankan 30% teori dan 70% praktek.

visi dan misi kami adalah seluruh peserta dapat membuka usaha kreatif dengan hanya melewati masa pendidikan selama 1 bulan, yang artinya selama 1 bulan pendidikan peserta mampu memproduksi filmnya sendiri dengan keinginannya sendiri.

Founder

M Tuafik Pradana
Ketua Umum Opique Pictures 2013-2014



sumber : http://o-pictures.blogspot.com/2013/11/apakah-itu-o-pictures.html

Senin, 28 Oktober 2013

Ratusan Anak Ikuti Kompetisi FTA 2013

https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/1395781_715003531862322_431546156_n.jpgphoto oleh M Syawal



Sukses menggarap event akbar Festival Film Anak (FFA) sejak tahun 2008 dengan hasil karya 120 film anak dalam kategori fiksi dan documenter, Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) kini mengembangkan "sayapnya" dalam upaya memberikan apresiasi terhadap kreatifitas anak Indonesia melalui penyelenggaraan Festival Teater Anak (FTA) 2013 di gedung pagelaran Teater O USU (26/10). FTA dengan tema Aku dan Indonesiaku ini merupakan event perdana, dengan dukungan dari komunitas Teater O USU dan Kinder Not Hilfe, PKPA telah berhasil menginisiasi kompetisi teater anak dengan berbagai lintas status sosial, baik kalangan teater pelajar, komunitas teater anak nelayan, komuitas teater anak jalanan dan komunitas miskin kota.

Sepuluh komunitas teater dengan jumlah pemain sekitar 15 anak setap komunitasnya telah diberikan technical meeting pada tanggal 24 Oktober 2013 dengan harapan bahwa anak dapat melakukan pementasan dengan baik dan tidak lari dari kesesuaian tema yang diberikan.

"Dengan tema Aku dan Indonesiaku, anak kami bebaskan untuk menyuarakan gagasan, ide, harapan dan bahkan kritik sosial terhadap kondisi-kondisi sosial di Indonesia, khususnya yang bersinggungan dengan hak anak" ucap Ismail Marzuki, selaku ketua panitia, kepada MedanBisnis.

Semua komunitas teater anak telah memberikan tontonan yang sangat atraktif dan menghibur, dengan berbagai isu sosial yang diangkat, seperti nasionalisme, pendidikan, kesehatan, anak jalanan, anak yang berhadapan dengan hukum, korupusi.

Teater Temuga melakukan pementasan dengan judul naskah "Tegar Nak", teater 8 dengan judul impianku tak berhenti sampai di sini, teater Dharmateta dengan judul Cinderlela panti asuhan, teater Pekan Belawan membawakan naskah meraih mimpi, teater Windows Production dengan judul kedai kesayanganku, teater PPA MDC dengan judul :Si anak bawang", teater Koala Amplas dengan judul nyanyian anak jalanan, teater Eceng Gondok dengan judul garuda di dadaku, teater Semut dengan judul aku lelah dan teater Roteta dengan judul otong oh otong.

Berbagai atraksi hiburan dari para penonton semakin meriuhkan suasana, diantaranya joget cesar, battle shuffle dance, beatbox, dan stand up comedy.Tampak jelas raut wajah para peserta FTA begitu harap-harap cemas saat dewan juri yang terdiri dari bapak Eddy Siswanto, bapak Yusrianto dan Irwan Hadi naik ke panggung pementasan untuk membacakan para pemenangnya.

"Dan juara pertama pada Festival Teater Anak tahun ini adalah…, ayoo siapa.., siapa ayoo.., dan pemenangnya adalah nomor penampilan delapan dengan judul garuda di dadaku," ucap pak Eddy Siswanto sebagai ketua dewan juri. Dengan rasa haru dan gembira terlihat berbagai ekspresi yang muncul dari komunitas teater Eceng Gondok menyambut pengumuman tersebut.

Juara kedua diraih komunitas teater Temuga, juara ketiga didapatkan komunitas Semut dan kategori ide cerita terbaik dimenangi teater PPA MDC.Dalam penutupannya, Ismail mengatakan bahwa semua komunitas teater telah memberikan penampilan yang sangat luar biasa dan pantas untuk mendapatkan apresiasi, sehingga hal tersebut menjadikan motivasi yang besar bagi penyelenggara untuk dapat menggelar kembali FTA tahun 2014. ( prawira)

sumber : http://www.medanbisnisdaily.com/

Jumat, 11 Oktober 2013

Malam Penganugrahan FFA 2009: BERHARAP BERLANJUT KETINGKAT INTERNASIONAL

Jumat, 25 Desember 2009

ANTARA- Karya perfilman sineas Sumatera Utara (Sumut) mulai dilirik setelah berhasil menyelenggarakan Festival Film Anak (FFA) Nasional kedua. Akibatnya, aktor handal Didi Petet menantang masyarakat untuk menyelenggarakan festival itu di tingkat internasional.
"Saya bangga Sumut mampu menyelenggarakan festival film untuk anak dan diharapkan dapat berlanjut ke tingkat internasional," katanya pada malam penganugerahan Festival Film Anak ke-2 yang diselenggarakan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) dan Komunitas Film Medan, di Medan, Senin (30/11) malam.
Ia menjelaskan, festival film yang melibatkan partisipasi anak itu, merupakan festival pertama di Indonesia, sehingga Sumut berpotensi untuk lebih berkembang dalam dunia perfilman.
Karya film para sineas muda diharapkan bisa mewarnai film-film tingkat nasional, katanya. Karya itu nantinya, juga diharapkan bisa merambah pada dunia industri perfilman indonesia.
Didi Petet menilai, karya film sineas Sumut sangat kreatif dan menarik. Untuk itu, harus menjadi motivasi bagi sineas-sineas lain yang berasal dari kabupaten/kota untuk bersaing unjuk kemampuan.
Film PEREMPUAN NIAS MERETAS JALAN KESETARAAN (PNMJK), yang berkisah penolakan terhadap kekerasan dalam rumah tangga dan pernikahan usia dini, yang di sutradarai oleh sineas asal Medan dan telah diputar di berbagai daerah di Indonesia, merupakan salah satu bukti Sumut punya segudang talenta karya film.
Ketua Panitia FFA, Jufri Bulian Ababil, menambahkan, Sumut memiliki sejarah baik dalam dunia perfilman dan mewarnai film tanah air. Namun, saat ini gaung perfilman itu mulai hilang.
Eforia kesuksesan film Sumut pada tahun-tahun sebelumnya yang telah sunyi itu, kini harus dibangkitkan kembali, katanya, salah satu upaya untuk membangkitkan perfilman di Sumut, antara lain berupa festival film yang berlandaskan partisipasi anak.
Jufri berharap, dengan keberhasilan Sumut menjadi pelopor festival anak pertama di Indonesia, maka perlu diapresiasi dengan baik, bahkan dukungan dari berbagai pihak, khususnya pemerintah provinsi Sumatera Utara.
Wakil Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho, pada kesempatan itu mengatakan, sineas Sumut harus bisa menghadapi berbagai tantangan untuk bisa bersaing di tingkat nasional.
Gatot mengungkapkan, pemerintah akan mendukung langkah PKPA dan komunitas film di Sumut, dalam upaya mengembangkan perfilman, khususnya dengan melibatkan anak-anak agar dapat berkreasi melalui film.
"Tahun 2010, Pemprov Sumut melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata akan memasukkan anggaran dana untuk penyelenggaraan festival film ini, agar terus berlanjut," katanya.
Berlanjutnya kegiatan festival film itu setiap tahun, diharapkan bisa menjadi daya tarik di bidang pariwisata Sumut, sehingga dapat mendatangkan kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara.
Sebelumnya, Direktur PKPA Ahmad Sofyan yang juga menjadi penggagas FFA bersama Onny Krenawan, salah seorang sineas dari komunitas film di Sumut, menyebutkan, saatnya mereka membuktikan bahwa anak-anak di Indonesia memiliki bakat dan kemauan yang besar di dalam perkembangan per-film-an. Untuk itu, menurut sofyan, saatnya pula kita mendukung serta memberi ruang seoptimal mungkin dalam penyaluran bakat dan kreativitas anak.
Dalam kesempatan yang sama, Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi atau yang populer dipanggil Kak Seto, menyambut gembira dilaksanaknnya FFA. Menurut Kak Seto yang kehadiranya diundang sebagai tamu kehormatan anak, FFA merupakan ajang kreativitas bahkan media ekspresi positif bagi anak untuk menuangkan ide serta gagasannya. "Saya yakin, ini yang pertama ada di indonesia. Dan perlu diteruskan dan didukung oleh semua pihak" kata Kak Seto.
Sebelumnya, dari 30 film fiksi dan dokumenter yang berasal dari Sumatera, Aceh dan Jawa di screening oleh dewan juri yang terdiri dari, Didi Petet (Ketua), Onny Kresnawan (Sekretaris), Harist Merdeka Sirait (Anggota), Marhamah (Anggota) dan Fatimah Hanun Lubis (Anggota).
Menurut Sekretaris Dewan Juri Onny Kresnawan, ke tiga puluh film yang masuk screening temanya sangat beragam yakni seputar pertemanan, keluarga, jenaka sampai ke percintaan. Meski menurutnya secara Cinematography masih minim kualitas namun semangat dan ide cerita yang disampaikan anak-anak cukup menantang.
"ide dan gagasan itu yang mahal, tinggal sinematografy-nya ke depan harus terus dipoles. Untuk itu, FFA mendatang workshop-nya harus lebih dipertajam. Prinsipnya, saya siap membantu teman-teman di Medan" sela Didi Petet memberi rekomendasi FFA ke depan.
Uniknya, dari tiga puluh film karya anak itu, menurut Arist Merdeka Sirait ada berkisar delapan film yang memiliki ide cerita yang sama, yakni membangun sebuah pertemanan dan kebersamaan dengan penggalangan dana dengan cara mengamen. "Ini potret buruk sebenarnya, membangun pertemanannya oke tapi mencari duit dengan mengamen itu yang ngak betul. Seolah-olah dipikiran anak hanya mengamen cara gampang mencari duit, padahal masih banyak solusi cerdas lainnya" ujar Arist berharap FFA ke depan akan lebih baik lagi.

Dalam pembacaan penganugerahan yang dibacakan sponsor, komunitas film, dewan juri dan panitia, diumumkan pemenang film kategori fiksi dan dokumenter, serta insan perfilman anak kategori fiksi dan dokumenter, antara lain:

Film pemenang untuk kategori dokumenter adalah Juara 1 "Kami Kelas 2 A", produksi Lapas Anak Medan, Sumut; Juara 2 "Peluh Sang Iwan" produksi SMA Sri Mersing Tanjungpura Langkat Sumut, Juara III "Info Sekolah" Produksi SMA 4 Lhokseumawe NAD, juara favorit "Ari Electric" produksi SMK Telkom Sandhy Putra Medan.

Sedangkan untuk produksi film fiksi pemenangnya adalah Juara I "Baju Buat Kakek" produksi Sawah Artha Film/ SMP Satu Atap Karangmoncol Purbalingga Jatim; Juara II "Melompat Sejauh Mimpi" produksi Inside production, Malang; Juara III "Tetap Semangat" produksi Abah Production Medan, Sumut, juara Favorit "Hadiah Terindah" produksi Q-can production Gunungsitoli, Nias Sumut.


Untuk insan perfilman berpersfektif anak penghargaan terbaik untuk kategori dokumenter diberikan kepada Ardi Syahputra sebagai Sutradara terbaik dalam film "Kami Kelas II A", Danu sebagai editor terbaik dalam film "Info Sekolah", Wandi sebagai ide cerita terbaik dalam film "Peluh Sang Iwan" dan Berty Nainggolan sebagai narator terbaik dalam film "Annai Velangkali".


Insan perfilman berpersfektif anak penghargaan terbaik untuk kategori fiksi diberikan kepada Andhika Thelambanua dalam film "Impian Anakku", aktris terbaik Narti dalam film "Baju Buat Kakek", editor terbaik M Taufik Pradana dalam film Gulungan Uang, Rizkan Jania MN sebagai ide cerita terbaik dalam film "Hadiah Terindah", Jenthro sebagai penata suara terbaik dalam film "Melompat Sejauh Mimpi", dan Fachri Anziar sebagai setter/ artistik terbaik dalam film "Aku Nak Merantau".

Film-film dan sineas muda terbaik ini diperoleh berdasarkan hasil sidang penjurian yang berlangsung di Royal Perintis Hotel, Jalan Parintis Kemerdekaan Medan, Minggu (29/11) dengan Dewan juri terdiri dari Didi Widiatmoko (Didi Petet/ aktor), Arist Merdeka Sirait (Sekjen Komnas PA), Onny Kresnawan (Sutradara), Marhamah (Biro PP Anak dan KB Sekdaprovsu) dan Siti Fatima Syahnur Lubis (Putri Sumut) / Disari dari beberapa sumber SFD