Rabu, 11 Januari 2012

Geliat Film Indie Kota Medan

Jumat, 6 Januari 2012 13:46 WIB
TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Perkembangan film Indie di kota medan sepertinya akan menyamai dengan perkembangan di pulau seberang. Hal ini terlihat dari banyaknya komunitas film indie yang berkembang dikalangan mahasiswa .Tetapi ternyata sampai saat ini banyak para pembuat film indie hanya fokus pada bidang produksi , bukan hanya pada screening atau aktivitas pemutaran filmnya. Padahal dari screeninglah karya yang dihasilkan bisa dinikmati publik secara luas.
Hal ini diakui juga oleh Opick salah satu anggota komunitas film indie Kota Medan , "opique Picture", saat ditemui di kampusnya FISIP USU. Penyebanya kebanyakan  karena kurang percayanya masyarakat pada kualitas film indie sehingga susah menarik minat masyarakat. Padahal sudah banyak film indie yang menuai prestasi di ajang perfilman lokal maupun nasional.
Seperti salah satu film indie yang dihasilkan Opique Pictures yaitu "Museum Sejarah yang Terlewatkan yang tahun 2010 lalu menyabet prestasi nasional di ajang FFA 2010 .
"Opique Pictures sendiri sudah beberapa kali melakukan screening , diantaranya yaitu saat merayakan ulang tahun komunitas mereka yang ke 3 dan  pada tanggal 26 November lalu di Aula FISIP USU dalam rangka memeriahkan ulang tahun Komunitas Film Indie New Magacine", ujar Opick yang saat ini juga menjabat sebagai sekretaris umum Opique Picture. Mereka mengakui bahwa dengan adanya screening penonton dapat memberikan saran dan kritikan untuk lebih baik kedepannya.
Dari beberapa wawancara singkat yang kami lakukan terhadap beberapa mahasiswa , kebanyakan belum pernah menonton film Indie, alasan mereka karna tidak tahu kapan adanya pemutaran film indie  itu ada dan juga sebagian menyatakan kurang peduli terhadap film-film indie. Mereka lebih tertarik dengan film-film di layar lebar.
Situasi ini sebetulnya sangat disayangkan mengingat semakin maraknya komunitas film indie yang muncul namun rendahnya apresiasi masyarakat terhadap karya mereka. Seperti kita lihat saat ini film-film indie terus saja mendapat tempat nomor dua akibat dari kapitalisasi industri film komersial, padahal film indie lebih kental dengan warna lokal daerah dan lebih bisa mengangkat persoalan-persoalan yang ada di ruang lingkup sekitar.

sumber : http://m.tribunnews.com/

Majulah film indie Medan

YUMEI PUBLISHER
085374006318


Kapitalisasi industri film komersial  mengakibatkan film- film indie semakin tersingkir posisinya di dunia seni perfilman. Padahal banyak nilai- nilai sosial seperti nilai budaya , agama ,dan sebagainya yang bisa diangkat dari film ini. Ditambah lagi , film indie memiliki warna dan keunikan tersendiri yang saat ini sudah jarang ditemui dalam film-film komersial.

Kondisi ini diakui juga oleh salah seorang editor komunitas pembuat film Indie “Opique Picture” yaitu Muhammad Taufik yang biasa disapa Opik. Namun , menurutnya hal ini tidak membuat semangat mereka menjadi turun untuk menghasilkan karya-karya baru.  Hal ini terbukti dengan  lebih dari 50 buah film yang telah mereka hasilkan di usia Opique Picture  yang masih 4 Tahun terbentuk. Kisah perjalanan  komunitas ini juga tidak mudah. Dengan menggunakan MP4 yang memiliki kamera 2MP-lah  mereka  memulai  aksi kreatifnya. “Bagi kami bukan alat perekam yang menjadikan sebuah film itu menarik atau bagus, tetapi ide pengambilan gambar dan alur cerita yang bervariasilah faktor terpentingnya”, tegas Opik .  Hal ini terbukti dengan prestasi-prestasi yang mereka raih baik lokal maupun nasional.

Ketika di temui di kampusnya , Opik yang saat ini menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi USU, juga berbagi pengalaman tentang prestasi yang telah mereka raih. Diantaranya adalah: tahun 2008 Opik dinobatkan menjadi sutradara terbaik film pendek berjudul “Global Never Warming “yang diselenggarakan Lembaga Sosial Masyarakat Pusat kajian Perlindungan Anak (LSM PKPA), kemudia Tahun 2009 masuk ke dalam kategori editor terbaik dengan judul “Gulung Uang”  Tetap di tahun yang sama kembali meraih Juara II skrip berjudul “Memulung Cita-Cita “diselenggarakan oleh Festival Film Anak (FFA) pada hari anak nasional. Di tahun ketiga mereka , tahun 2010 menempati Juara II film dokumnter berskala nasional dalam ajang Festival Film Anak (FFA) dengan judul “Museum Sejarah Yang Terlupakan” dan  di Tahun 2011 meraih juara III film dokumenter berskala nasional dalam ajang Festival Jurnalistik Nasional dan Media Expo yang diselenggarakan Departemen Komunikasi FISIP USU dengan judul “Kelas Berdinding Angin”.

“Sampai saat ini kebanyakan kami memutar hasil karya kami masih di dalam ruang lingkup sempit seperti kampus atau kalangan sendiri. Hal ini karna film indie tidak memiliki pasar di Medan dan juga harus kita akui apresiasi masyarakat pada film Indie Medan juga masih kurang,” tambah Opick lagi. Hal ini sangat disayangkan mengingat banyak film-film indie yang kualitasnya sudah diakui lewat festival-festival film baik nasional maupun internasional. Dan sebenarnya film-film itu bisa untuk memberikan angin segar bagi penikmat film yang mulai bosan dengan suguhan film bertema horor plus pornografi yang marak di bioskop.  Harus kita akui, kehadiran komunitas- komunitas kreatif ini memang sangat kita harapkan untuk dapat menjadi wadah bagi kawula muda di kota Medan ini dalam mengembangkan talenta yang mereka miliki..

sumber : http://waspada.co.id/

Selasa, 10 Januari 2012

Komunitas Film indie Medan Opique Picture, Bukan Hanya Jago Kandang

CERITAMU.COM - Dunia perfilman independen (indie) lokal di kota Medan dari waktu ke waktu terus berkembang. Belasan komunitas film indie yang rata-rata di bentuk oleh kawula medan ini tumbuh dan bertebaran. Padahal harus diakui , tidak mudah membentuk suatu komunitas baru .

Tidak hanya sulit dalam dana dan peralatan tetapi juga dalam tekad dan kesatuan tim. Untuk itulah diperlukan sebuah komitmen dan pengorbanan. Salah satu anggota Komunitas Film maker Indie yaitu “Opik” menyatakan bahwa mereka tidak melihat film dari nilai jualnya melainkan kesenangan dan kepuasan karna bisa menuangkan imajinasi mereka kedalam wujud film sehingga terlihat nyata. Hal inilah yang membuat dia dan keempat sahabatnya membentuk suatu komunitas film indie yang diberi nama "Opique Picture".

Walaupun mereka masih muda namun kreatifitas mereka patut diberi acungan jempol. Bayangkan saja, di usianya yang masih 4 tahun, Opique Picture telah menghasilkan lebih dari 50 karya . Beberapa judulnya adalah Global Never Warming, Kelas Berdinding Angin, dan Museum Sejarah yang Terlupakan.

Dan seolah tidak ingin hanya menyalurkan hobi, komunitas ini juga tiap tahun selalu menuai prestasi di berbagai ajang festival film , tahun 2008 Opik dinobatkan menjadi sutradara terbaik film pendek berjudul “Global Never Warming “yang diselenggarakan Lembaga Sosial Masyarakat Pusat kajian Perlindungan Anak (LSM PKPA), kemudian Tahun 2009 masuk ke dalam kategori editor terbaik dengan judul "Gulung Uang". Tetap di tahun yang sama kembali meraih Juara II skrip berjudul "Memulung Cita-Cita" diselenggarakan oleh Festival Film Anak (FFA) pada hari anak nasional.

Di tahun ketiga mereka , tahun 2010 menempati Juara II film dokumnter berskala nasional dalam ajang Festival Film Anak (FFA) dengan judul “Museum Sejarah Yang Terlupakan” dan di Tahun 2011 meraih juara III film dokumenter berskala nasional dalam ajang Festival Jurnalistik Nasional dan Media Expo yang diselenggarakan Departemen Komunikasi FISIP USU dengan judul “Kelas Berdinding Angin”.

Kehadiran komunitas- komunitas kreatif ini memang sangat kita harapkan untuk dapat menjadi wadah bagi kawula muda di kota Medan ini . Karna seperti ada pepatah yang mengatakan bahwa kelanjutan masa depan suatu bangsa bergantung pada kawula mudanya.

Salut, semoga anak muda Medan terus berprestasi, lebarkan sayap nasional bahkan internasional. (CAKP)

sumber : http://www.ceritamu.com/Komunitas-Film-indie-Medan-Opique-Picture-,-Buka

“Opique Pictures” Bukan Komunitas Film Biasa

Tanpa disadari dunia perfilman independen (indie) lokal di kota Medan dari waktu ke waktu terus berkembang. Bak cendwan di musim penghujan, belasan komunitas film indie yang rata-rata di bentuk oleh kawula medan ini tumbuh dan bertebaran. Padahal harus diakui , tidak mudah membentuk suatu komunitas baru . Tidak hanya sulit dalam dana dan peralatan tetapi juga dalam tekad dan kesatuan tim. Untuk itulah diperlukan sebuah komitmen dan pengorbanan.
Salah satu anggota Komunitas Film maker Indie yaitu “Opik” menyatakan bahwa mereka tidak melihat film dari nilai jualnya melainkan kesenangan dan kepuasan karna bisa menuangkan imajinasi mereka kedalam wujud film sehingga terlihat nyata. Hal inilah yang membuat dia dan keempat sahabatnya membentuk suatu komunitas film indie yang diberi nama’ Opique Picture’.Walaupun mereka masih muda namun kreatifitas mereka patut diberi acungan jempol. Bayangkan saja ,di usianya yang masih 4 tahun, Opique Picture telah menghasilkan lebih dari 50 karya .Beberapa judulnya adalah Global Never Warming, Kelas Berdinding Angin ,dan Museum Sejarah yang Terlupakan.
Dan seolah tidak ingin hanya menyalurkan hobi, komunitas ini juga tiap tahun selalu menuai prestasi di berbagai ajang festival film , tahun 2008 Opik dinobatkan menjadi sutradara terbaik film pendek berjudul “Global Never Warming “yang diselenggarakan Lembaga Sosial Masyarakat Pusat kajian Perlindungan Anak (LSM PKPA), kemudia Tahun 2009 masuk ke dalam kategori editor terbaik dengan judul “Gulung Uang” Tetap di tahun yang sama kembali meraih Juara II skrip berjudul “Memulung Cita-Cita “diselenggarakan oleh Festival Film Anak (FFA) pada hari anak nasional. Di tahun ketiga mereka , tahun 2010 menempati Juara II film dokumnter berskala nasional dalam ajang Festival Film Anak (FFA) dengan judul “Museum Sejarah Yang Terlupakan” dan di Tahun 2011 meraih juara III film dokumenter berskala nasional dalam ajang Festival Jurnalistik Nasional dan Media Expo yang diselenggarakan Departemen Komunikasi FISIP USU dengan judul “Kelas Berdinding Angin”.
Kehadiran komunitas- komunitas kreatif ini memang sangat kita harapkan untuk dapat menjadi wadah bagi kawula muda di kota Medan ini . Karna seperti ada pepatah yang mengatakan bahwa kelanjutan masa depan suatu bangsa bergantung pada kawula mudanya. Semoga anak muda medan bukan hanya jago kandang namun dapat melebarkan prestasi untuk nasional dan internasional.

sumber : http://hiburan.kompasiana.com/film/2012/01/06/opique-pictures-bukan-komunitas-film-biasa/

Rabu, 28 Desember 2011

Foto Indonesia Di Majalah LIFE- 13 Februari 1950