Senin, 20 Desember 2010

Makna Sebuah Kontes.

Meningkatkan kreativitas serta membangun kepercayaan diri adalah suatu hal yang wajar dan perlu, karena membuat seseorang mengenali nilai lebih yang dimilikinya sehingga seseorang dapat mengembangkan diri kearah yang lebih baik. Sebab itu, dimasa sekarang lomba adu bakat dan ketangkasan sering digelar seiring dengan beragamnya lembaga kursus dibidang keahlian seperti seni tari, seni musik, informatika, olahraga dan masih banyak lagi. Bahkan sekalipun tidak bisa mengikuti perlombaan, orang masih dapat menunjukkan kelebihannya dengan mengunggah video maupun gambar disertai narasi tentang hasil karya yang dibuat via internet. Tetapi mungkin dengan mengikuti suatu lomba akan memiliki nilai lebih dalam meningkatkan rasa percaya diri, karena seseorang harus bersaing secara sehat untuk meraih gelar juara. Namun ada kalanya sebuah lomba diadakan lebih sebagai salah satu alternatif hiburan, contohnya lomba sepak bola bersarung yang biasa diadakan untuk memeriahkan acara 17 Agustus-an.

Baru - baru ini, saya menonton sebuah lomba yang mungkin terdengar cukup unik yaitu " Lipsync Contest." Kebetulan lomba tersebut diadakan di kota saya yang memang cukup jarang mengadakan acara lomba. Biasanya juga lomba baru akan ramai kalau menjelang 17 Agustus-an, atau Hari Ulang Tahun kota. Kebetulan, saya sedikit mengetahui persiapan lomba tersebut hingga menonton hari pelaksanaannya. Ini menjadi mungkin, karena beberapa teman saya diminta untuk ikut ambil bagian menjadi panitia dan juri.

Saat kali pertama saya mendengar lomba tersebut, sempat terbesit " Wah, lucu juga ya?' . Karena pihak panitia memang mengadakan lomba tersebut untuk menyikapi fenomena meledaknya unggahan video klip " Keong Racun " versi Shinta - Jojo. Tapi ketika melihat poster kontes tersebut, saya malah bingung. Dalam poster tersebut tertera bahwa pemenang akan mendapatkan uang pembinaan. Saya jadi bertanya - tanya, " Lipsync Contest " ada uang pembinaannya, dibina menjadi apa? Karena menurut saya, jika hadiah tersebut disebut sebagai uang pembinaan maka berarti akan ada kelanjutan dari lomba tersebut. Mungkin untuk diarahkan menjadi bintang kota kami, atau mungkin menjadi delegasi untuk lomba sejenis di tingkat yang lebih tinggi. Ketika saya menanyakan hal tersebut kepada salah satu juri yang saya kenal, dia menjawab, " Waduh..kurang jelas ya..sepertinya kok tidak." Lalu saya bertanya lagi, " kok mendadak jadi juri?"

" Lha wong enggak ada yang mau, kasihan panitianya bingung, " jawab teman saya. Dan saya hanya manggut-manggut saja mendengar jawaban tadi sambil mencoba memaklumi bahwa mungkin lomba ini diadakan sebagai salah satu alternatif hiburan akhir pekan di kota kami.

Namun ternyata lomba tersebut tidak berhenti menggelitik hati saya. Puncaknya terjadi pada hari pelaksanaanya. Awalnya sih biasa- biasa saja. Hanya terjadi kedodoran pelaksanaan teknis panitia dan itu tidak terlalu menarik perhatian saya, karena hal demikian sudah wajar dalam sebuah acara.Saya masih bisa tersenyum - senyum melihat para peserta yang didominasi remaja, dengan kostum yang lucu dan rata-rata menampilkan lagu Keong Racun. Tapi ketika hampir berakhirnya kontes, ada seorang kontestan yang dipanggil oleh pembawa acara. Awalnya saya geli karena yang muncul adalah anak laki-laki bertubuh gemuk dan memakai kostum kucing lengkap dengan riasan wajahnya. Ia datang ditemani sang mama. Namun begitu musik mulai diputar, ternyata adalah ( lagi - lagi ) lagu Keong Racun. Masalahnya bukan pada lagu yang dinyanyikan, tapi cara dia menggerakkan mimik muka dan gestur tubuhnya membuat nafas saya terasa sesak. Belum lagi dari layar LCD terlihat zoom out tiap kali si bocah mengoyang-goyangkan pantatnya, atau ketika dia memperagakan kata " bodi seksi ." Entah kenapa, saya merasa ditampar. Seperti inikah tingkah polah anak- anak yang kita inginkan? Apa dia tahu apa makna lagu yang sedang dia bawakan? Kenapa tidak lagu anak - anak saja? Apa tidak ada kategorisasi peserta dan lagu dari panitia penyelenggara? Ironisnya, para penonton tertawa - tawa menganggap pertunjukkan itu lucu, dan sang mama sibuk memotret sambil tersenyum bangga. Akhir cerita, si anak tadi justru memenangkan kategori juara favorit pilihan panitia.

BIJAK MENYELENGGARAKAN KONTES
Dari pengalaman panjang yang saya tuturkan tadi, saya melihat bahwa kebutuhan manusia untuk berkompetisi dewasa ini memang besar. Selain sarana aktualisasi diri, juga untuk meningkatkan prestise dan prestasi. Untuk itu memang perlu adanya pihak - pihak yang menyelenggarakan bermacam kompetisi. Akan tetapi perlu diingat, harus dipertimbangkan latar belakang dan tujuan yang ingin diraih dari kegiatan tersebut, terlebih bila acara itu memiliki lingkup yang luas untuk umum. Karena jika tidak, kegiatan itu hanya seperti kran bocor, tidak ada efek positif yang lebih daripada hanya untuk kesenangan sesaat mengabiskan uang sponsor.Apalagi dengan adanya embel- embel "Uang pembinaan", yang membuat peserta berharap lebih akan adanya kelanjutan dari lomba yang diikutinya. Jangan sampai ternyata itu hanya harapan kosong. Jika memang lomba itu hanya untuk senang-senang, menurut saya tidak perlu ada kata - kata " PEMBINAAN." C

Idealnya, sebuah kompetisi akan membuat peserta belajar banyak hal yang mungkin dapat bermanfaat untuk mengikuti kompetisi yang akan datang. Selain itu membuat mereka merasakan adanya proses persiapan lomba, menampilkannya, hingga keputusan akhir dari lomba, menang atau kalah dapat diterima sebagai keberhasilan yang tertunda, atau mempertahankan kualitas kemampuan mereka. Serta kebanggaan yang wajar atas prestasi yang layak dibanggakan oleh mereka dan keluarganya.

Selain itu, perlu adanya kebijakkan lebih jika dalam suatu kompetisi memungkinkan adanya keikutsertaan anak-anak. Hal tersebut bisa diantisipasi dengan membuka kategori untuk anak - anak serta anjuran agar apa yang mereka pertontonkan adalah apa yang sesuai dengan usia mereka, seperti lomba menyanyi dengan lagu anak- anak misalnya. Sehingga penonton kita juga belajar melihat kepolosan anak yang alami, bukan karena melihat mereka pandai bertingkah seperti orang dewasa.

BIJAK MENJADI KONTESTAN.
Ya, cerdas menangkap peluang untuk menjadi lebih maju dan dikenal itu baik. Jangan sampai mengikuti lomba hanya untuk dikenal dan melupakan apa tujuan lomba itu sebenarnya. Seseorang yang ingin menambah pengalaman dan rasa percaya diri yang positif, tentunya juga harus bisa melihat seperti apa lomba itu nanti akan bermanfaat bagi dirinya seraya menentukan apa tujuannya mengikuti lomba. Cukup untuk meraih hadiahnya yang memiliki nominal lebih?Atau juga ingin membantu dirinya ke jenjang prestasi yang lebih tinggi? Pilihan ada ditangan peserta, hanya perlu diingat jika apa yang dikeluarkan sebanding dengan manfaat yang akan diterima, apalagi jika bisa lebih.

Pada akhirnya, saya melihat lomba diatas, yang tempat dan cara pelaksanaannya terbilang " wah!", tidak lebih hanya sebagai hiburan yang getir. Saya hanya mencoba maklum, bahwa acara ini memang sama dengan acara yang ada di lomba- lomba menjelang 17 Agustus-an. Mungkin akan lebih tepat jika diadakan di momen itu.

Jadi sekarang akan menyelanggarakan kompetisi apa? Selamat berkompetisi dengan sehat dan cerdas!

(Catatan dari sebuah kota kecil di, Probolinggo)

Cerita dari sahabat kita: Shenobi Sutanto

Pelajaran Berharga dari Gadis Kecil

putrinya dirundung kesedihan. Maka ia pun bertanya kepada putrinya itu tentang sebab kesedihannya. Anak: “Aduhai ibuku, sesungguhnya ibu guru telah mengancam akan mengusirku dari sekolah karena pakaian panjang yang kupakai.”

Ibu: “Tetapi itu adalah pakaian yang dikehendaki oleh Allah, wahai putriku.”

Anak: “Benar, wahai ibu, akan tetapi ibu guru tidak menghendakinya.”

Ibu: “Baiklah, wahai putriku, guru itu tidak menghendaki, tetapi Allah meng­hendakinya. Lalu siapakah yang akan kamu taati? Apakah kamu akan mentaati Allah yang telah menciptakanmu dan membentukmu, serta yang telah mengaruniakan kenikmatan kepadamu? Ataukah kamu akan mentaati seorang makhluk yang tidak mampu memberikan manfaat dan madharat kepada dirinya?”

Anak: “Sesungguhnya saya akan taat kepada Allah.”

Ibu: “Bagus, wahai putriku, kamu tepat sekali.”

Pada hari berikutnya, gadis kecil itu pergi dengan mengenakan baju yang panjang. Tatkala ibu guru melihatnya, ia langsung mencela dan memarahinya dengan keras. Gadis kecil itu tidak mampu memikul amarah tersebut, ditambah lagi oleh pandangan teman-teman perempuannya yang mengarah kepadanya.

Tidak ada yang ia lakukan selain berteriak menangis. Kemudian, gadis kecil itu mengeluarkan kata-kata yang besar maknanya meski sedikit jumlahnya, “Demi Allah, saya tidak tahu siapa yang akan saya taati, anda ataukah Dia?”

Ibu guru itu pun bertanya, “Siapakah Dia itu?”

Anak itu menjawab, “Allah. Apakah saya harus taat kepada anda, sehingga saya mesti memakai pakaian seperti yang engkau kehendaki, tetapi saya berbuat maksiat kepada-Nya. Ataukah saya mentaati-Nya dan tidak mentaati engkau? Ah, biarlah saya akan mentaati-Nya saja, dan apa yang terjadi terjadilah.”

Aduhai, betapa agungnya kalimat yang keluar dari mulut si kecil itu. Sebuah kalimat yang menampakkan wald (ketaatan) yang mutlak kepada Allah. Gadis kecil itu bertekad untuk berpegang kuat dan taat ke­pada perintah Dzat Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa Akan tetapi….apakah bu guru itu hanya berdiam saja darinya?

Ibu guru itu meminta dipanggilkan ibu si anak kecil tersebut. Apa yang ia inginkan darinya?

Maka datanglah si ibu itu…

Ibu guru berkata kepada ibu anak kecil itu, “Sesungguhnya putri anda telah menasihatiku dengan nasihat paling besar yang pernah aku dengar di sepanjang hidupku.”

Benar, ibu guru telah mengambil pelajaran dan nasihat dari murid kecilnya. Ibu guru yang mengajarkan pendidikan dan telah mengambil bagian yang besar dari ilmu.

Seorang guru yang ilmunya tidak dapat menghalanginya untuk mengambil nasihat dari seorang gadis kecil yang mungkin seusia dengan putrinya.

Salam penghormatan, semoga terlimpahkan kepada guru ini. Salam peng­hormatan juga untuk gadis kecil yang telah memberikan pendidikan Islamiyah dan telah berpegang kepadanya.

Salam penghormatan untuk sang ibu yang telah menanamkan dalam diri putrinya rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang ibu yang yang telah mengajarkan kepada putrinya rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Wahai ibu-ibu muslimah, di depan anda lah anak-anak anda. Mereka seperti adonan tepung. Anda bisa membentuknya sebagai-mana yang anda kehendaki, maka bersegera-lah untuk membentuk mereka dengan bentuk yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Ajarkanlah shalat kepada mereka

Ajari mereka ketaatan kepada Allah

Ajari mereka untuk bisa tetap tegar dan kokoh di atas kebenaran

Ajarkanlah semua itu kepada mereka, sebelum mereka menginjak usia baligh.

Karena jika pada saat mereka masih kecil tidak mendapatkan pendidikan yang baik, maka sesungguhnya anda sekalian akan menyesal dengan penyesalan yang besar, karena mereka akan menjadi anak-anak yang menyimpang pada saat mereka telah dewasa.

Gadis kecil ini tidak hidup pada zaman Sahabat dan juga Tabi’in. Sesungguhnya ia hidup pada zaman modern sekarang ini.

Ini menunjukkan bahwa, kita bisa menciptakan generasi-generasi semisal gadis kecil tersebut dengan izin Allah. Seorang gadis kecil yang bertakwa lagi berani untukmenampakkan kebenaran serta tidak takut akan cemohan dan ejekan orang orang, demi membela agama ALLOH.

Wahai saudariku yang beriman, inilah putrimu.

Ia berada dihadapanmu,

berilah ia air minum takwa dan kesalihan

Perbaikilah lingkungannya dengan cara menjauhkannya dari air yang kotor, serta bakteri yang membahayakan.

Hari-hari telah berada dihadapan anda,

Perhatikanlah apa yang akan anda perbuat,

terhadap amanah yang telah dititipkan kepada anda,

Oleh ALLOH Tuhan Pemilik langit dan bumi.

Jangan Hanya Bermodal Cinta

Bila mencintaimu itu cukup, maka akan ku hentikan rindu, sayang, dan kegiatanku untuk memikirkanmu. Bila hanya dengan menyebut namamu, cinta itu terasa cukup, maka aku akan membuang fotomu. Bila hanya dengan memasakkan makanan kesukaanmu, cinta itu terasa cukup, maka aku akan menghancurkan angan-angan tentangmu.

Cinta itu kebersamaan.
Saling berbagi.
Saling melindungi.
Saling support.
Sama-sama memahami.

Sayang...
Dengar aku!

Cinta itu tidak cukup hanya dengan kata cinta. Cinta tidak cukup hanya dengan yakin kalau dia mencintai kita. Cinta tidak cukup hanya dengan kita yakin bahwa primbon menyatakan kalau kita berjodoh. Cinta tidak cukup dengan SMS setiap hari atau telepon sampai pagi.

Tolong mengerti. Cinta itu terlalu luas untuk kita bicarakan sekarang. Yang ingin aku tanyakan, apakah kau benar-benar akan menikahiku bulan depan?

Kau tidak gila, kan!?

Maaf! Aku bukan mau meragukan tingkat kewarasanmu, tapi teman-temanku sering sekali mengajakku untuk memeriksakan otakku ke rumah sakit jiwa. Kata mereka penyakitku ini harus segera di tangani.

Karena kalau tidak nanti aku akan semakin parah.

Menurutmu apa benar aku segila itu?

Aku hanya tidak suka memakai rok. Aku juga tidak terlalu suka dengan bedak. Apalagi dengan yang namanya lipstik atau lipglos. Aku juga tidak terlalu menyenangi acara-acara yang mempertontonkan keindahan tubuh wanita. Apa mereka tidak punya malu? Masih bagus kalau bodinya itu seksi, paling tidak dimaklumi sedikit. Tapi bagaimana kalau badannya itu setipis kertas. Tapi dibilangnya potongan peragawati papan atas. Haduh! Kasian sekali.

Oops! Tidak sayang. Aku tidak bermaksud untuk membicarakan orang. Hanya selingan saja.

Aku hanya tidak menyukai berbicara seperti Putri Keraton yang begitu teratur. Aku juga tidak terlalu respon dengan kegiatan perempuan seperti ke salon, berbelanja, bergosip tentang artis di infotainment, atau berbagi tips dimana tempat aman unuk melakukan pembesaran payudara.

Jangan kaget, sayang. Walaupun aku sedikit "terbelakang", namun urusan kecil begitu aku juga tahu.

Jadi, lebih baik pikirkan lagi sekarang. Apa benar kau mau menikahiku?

Bila kau bertanya kenapa aku mau menikah denganmu, baiklah aku akan jujur.

Kau berhasil membuatku sulit tidur. Ah! Bukan karena ku lupa pasang obat nyamuk. Tapi karena aku gelisah memikirkan apakah besok aku akan bertemu kau atau tidak. Memikirkan apa kau akan lewat depam kelasku atau tidak. Memikirkan apa kau akan pura-pura ke kelasku untuk mengambil absen atau tidak.

Sesimpel itu. Tapi sukses membuatku nyaris stres.

Sayang, pikirkan perbedaan kita yang seperti langit dan bumi.

Pikirkan seberapa hebohnya reaksi teman-temanmu ketika menerima undangan pernikahan kita nanti. Mungkin bila mereka sedang memegang gelas, gelas tersebut akan retak dalam genggaman. Pikirkan bagaimana reaksi mantan-mantan wanitamu dulu yang pasti langsung melontarkan seribu sumpah serapah atas kebodohanmu.

Huh! Memikirkan iu membuatku ingin langsung mengambil sarung tinju. Tapi aku ingat, aku sudah harus 'sehat'. Aku tidak boleh menyelesaikan masalah itu secara bar-bar, bukan.

Aku boleh minta waktu sebentar? Aku ingin ke belakang untuk tertawa. Dan karena aku tidak tega bila harus melihatmu nyaris pingsan karena caraku tertawa yang sudah seperti gunderuwo, aku yang mengalah. Tapi baiklah bila kau ingin melihat ku tertawa.

Aku memikirkan apa yang akan kita lakukan setelah resmi. Apa kita akan berkaraoke seperti saat masih pacaran? Atau kita akan memasak telur rebus. Kau putihnya aku kuningnya. Jangan lupa!

Apa yang akan kita lakukan, hmm?

Oke!

Itu kita bahas lagi nanti. Diam-diam saja. Karena itu akan menjadi rahasia kita.

Jadi, jangan cintai aku dengan sesederhana itu. Yang ku mau, aku tidak ingin cinta kita hanya cukup dengan kata, ucapan, pesan maupun kue cinta saja. Aku mau cinta yang ada tidak hanya terasa hangat ketika menjadi pengantin baru saja. Aku mau cinta kita tidak hanya wangi ketika malam pertama saja. Aku mau cinta kita tidak akan selalu "membara" seperti ciuman pertama kita.

Kau pasti mengerti karena kau laki-laki.

Begitulah adanya. Cinta tidak cukup hanya cinta.

Cerita dari sahabat kita: Lii Na Yeon

Cintaku Bertasbih Pada Seorang PEMULUNG SAMPAH

Kepada kekasihku yang saat ini mungkin tengah memunguti sampah dan limbah..


Engkau tercipta sebagai tulang punggung dalam keluargamu

Engkau begitu berbakti kepada ayah bundamu

Engkau begitu menyayangi adik adik kecilmu


Kanda,

Setiap pagi kau berangkat dengan baju kusam dan lusuh

Kau membawa bekal nasi dan air tuk mengirit uang jatah makanmu

Kau membawa semangat seorang pahlawan yang tak pernah padam


Aku menangis sedih kala kau kecup keningku

Kau berkata, "JANGAN SEDIH DINDA. PEKERJAANKU BUKANLAH SESUATU YANG HINA.

KARNA ALLAH TIDAK MELIHAT HAMBANYA DARI PEKERJAANNYA,,TAPI DARI KETAKWAANNYA.."


Kanda, hatiku sedih melepas kau berangkat MEMUNGUTI ATOM,tembaga, kardus,dll yang akan kau kumpulkan dan akan kau jual

Setiap serpihan dan kepingan kecil dengan telaten kau bersihkan

karna itulah ladang uang bagimu

Betapa hatiku pilu membayangkan kau dikejar penduduk desa karna dikira kau mencuri barang mereka

Hatiku khawatir ketika hingga magrib kau belum pulang kanda..


Duhai kanda,aku mencintaimu bukan karna apa

Aku mencintai hatimu yang ikhlas dan penuh pengabdian

Aku mencintaimu meski kau hanya SEORANG PEMULUNG SAMPAH


Ketika semua lelaki sibuk dengan dunia maya

dengan FACEBOOK,TWITTER,BLOG BLOG,

Ketika semua lelaki lebih memilih ke warnet dan menghabiskan puluhan ribu tiap harinya tuk berselancar di dunia maya

Tapi kau tidak.

Kau lebih memilih bekerja dan tidak peduli orang bilang apa

Usiamu yang masih teramat muda tidak membuatmu malu dan gentar

Panas dan hujan tak kau hiraukan.

Hitam kulitmu tak kau pedulikan

Dengan BISMILLAH kau langkahkan kaki menuju sampah sampah yang menunggu tanganmu menjamahnya...


DUHAI KEKASIHKU..

Betapa besar pengorbananmu

Betapa luhur budimu

Betapa indah cintamu

DAN BETAPA AKU TAK MALU MENJADI PENDAMPINGMU KELAK..


YA ALLAH YA RAHMAN..

Berikanlah rejeki kepada kami

Berikanlah kemudahan kami dalam mencapai cita cita kami

Kami ikhlas dengan jalan hidup ini

Namun, berikanlah kesempatan pada kami tuk seperti orang2 lain

Mempunyai pekerjaan yang layak..


YA ALLAH YA RABBI..

Ampunilah kami

Bukannya kami tidak bersyukur

Namun,kami hanya tidak tega mendengar orang mencemooh anak kami kelak

ANAK SEORANG PEMULUNG SAMPAH

Ya ALLAH Ya Muhaimin..

Hanya kepadamulah kami mengadukan jeritan ini.

BERIKANLAH PEKERJAAN YANG LAYAK BUAT KAMI

ya ALLAH, dengarkanlah

Kabulkanlah Ya ALLAH...


DENGAN TETESAN AIR MATA INI

KEPADA KEKASIHKU DI SANA

SEMOGA KAU TABAH DAN SETIA MENANTI CINTA KITA....!

YA ALLAH KU INGIN JODOH YANG TERBAIK

YA ALLAH KU INGIN JODOH YANG TERBAIK

Adalah suatu yang wajar jika setiap kita menginginkan jodoh kelak di kemudian hari seorang yang sempurna di sana sini.akan tetapi apakah setiap orang akan mendapatkannya???Bagaimana agar keinginan itu tdk sekedar angan2 saja????Bagaimana pula jika ternyata kelak realita tak seindah mimpi dan angan yang kita bayangkan...???

*JODOH ADALAH POTRET DIRI *

Ungkapan ini tdk berelebihan kiranya,krn bukankah pepatah mengatakan:barang siapa menanam dia akan memetik??? artinya dia akan menikmati hasil jerih payah yg dia usahakan demikian juga seseorang yg berusaha menjadikan dirinya baik,menjaga dirinya dr hal-ha lyg jelek,dan terus meningkatkan kebaikan2 diri dia akn''memanen'' jerih payahnya kalau diri kita mengingkan orang lain dalam hal ini calon jodoh kita yg baik.diapun menginginkan untk dirinya calon jodohnya yg baik pula.maka tdk pas kiranya jika kita berharap mendapat jodoh yg ''serba plus'' sementara kita membiarkan diri kita''serba minus''.

Wajib untk kita selalu ingat bahwa jika kita ingin mendapatkan jodoh yg baik jadikandiri kita baik terlebih dahulu allah swt.berfirman:''Wanita-wanita keji adalah untk laki-lakiyg keji,dan laki-laki yg keji adalah untk wanita yg keji (pula),dan wanita-wanita yg baik adalah untk laki-laki yg baik dan laki-laki yg baik adalah untk wanita-wanita yg baik(pula)''(QS.An-Nur:26).

Dalam ayat lain allah swt.berfirman:

''laki-laki yg berzinah tdk mengawini kecuali perempuan yg berzinah atau perempaun yg musyrik;dan perempaun yg berzinah tdk di kawini kecuali oleh laki-laki yg berzinah atau laki-laki yg musyrik;dan yg demikian itu di haramkan bagi orang2 mukmin''(QS.An-Nur:3).

kalau ada yg bertanya : mengapa ada istri nabi yg durhaka,semisal istri nabi Luth dan nabiNuh...???Di sini kita tdk melihatnya dr sisi yg baik untuk yg baik ,akan tetapi kita khususnya wanita bisa mengambil pelajaran bahwa kita hendaknya bersemangat dlm beramal shaleh krn kedudukan orang2 terdekat kita semisal pasangan hidup yg shaleh tdklah menjamin keselamatan diri kita dr azab allah.

Dan jangan lupa terkadang kita d uji dngn orang2 terdekat kita..kalau istri nabi saja bisa seprti itu,apakah tdk mungkin lg istri kita...???ketika kita menyadari hal ini,maka semestinya sejak awal kita mencari yg terbaik dengan harapan akn terus baik dan bahkan meningkat kebaikkan nya,dan tentu saja hendaknya mendorong kita untuk menjadi lbh baik dan terus memperbaiki diri Bukankah blm tentu pasangan seseorang baik,meski dia tergolong orang yg baik...???apakah lagi jika dia tdk termasuk orang yg baik...???

*JANGAN HARAP TERIMA JADI*

Dalam segala hal,kita di tuntut untk banyak belajar .orang tua khususnya ibu,begitu susahpayah mendidik balitanya agar bisa mengenakan pakaian sendiri,mengembalikan mainan ke tempatnya semula,tdk sembarangan membuang sampah,mencuci tangan sebelum & sesudah makan dan seterusnya...:baru kemudian dia bisa besenang hati melihat si kecil tumbuh menjadianak yg baik dan membanggakan.

Demikian juga seorang suami or istri,tdk bisa mengharap pasangannya menjadi istri or suamiyg semakin baik,tnp berusaha membantu pasangannya untuk itu,ketika seorang laki-laki dan perempuan bertemu dalam suatu pernikahan,masing2 datang dngn kelebihan dankekurangan yg di sandangnya,kelebihan patut di syukuri,adapun kekurangan jangan di sesali.

bahkan hendaknya di usahakan bersama untk menguranginya or bahkan menghilangkan nya jika itu memungkinkan jika tdk khususnya apabila berkaitan dengan fisik maka memunculkan kelebihan2 baru yg lebih berarti dr pada mempersoalkan kekurangan yg tdk mungkin lg di perbaiki.itu setelah pernikahan sebelum pernikahan...???jangan pernah berharap calon jodoh yg sempurna.kenyataannya memang tdk ada pribadi ygsempurna yg terpenting,kedua pihak yg hendak menikah adalah pribadi yg siapdan punya motivasi berubah menjadi lebihi baik.syukur-syukur sudah punya track record yg bagus.

*AKUI KELEMAHAN DIRI SENDIRI*

Ketika melihat diri,mesti jujur kita akui bahwa kita adalah hamba yg dha'if mungkin sekali segala yg tampak setelah proses ta'aruf syar'i atau terdenger tentang seseorang yg sedangkita bidik unutk di jadikan pasangan hidup adalah serba indah tak bercacat sedang apa ygdi balik itu yg tdk sampai ke mata n telinga kita,kita tdk mengetahuinya bahkan orang yg kita anggap tedekat dengan si dia pun blh jd tdk ngeh...Taruhlah si dia itu memang sprt apa yg kita lihat dan kita denger.

tetapi bukankah si dia boleh jd baik bagi orang lain dan tdk baik bagi kita...???tidakkah kita pernah mendengar ada pasangan suami-istri yg bercerai gara2 lama tdk mendapat keturunan setelah masing2 menikah lagi ternyata masing2 di anugerahi keturunan lalu mesti gimana....???

Sikap yg terbaik tentu saja kita bertanya kepada yg maha mengetahui Dialah ALLAH dzat yangmaha berkuasa atas segala sesuatu ALLAH berfirman,

''.........Boleh jadi km membenci sesuatu padahal itu baik bagimu,dan boleh jadi km mencintai sesuatu

padahal ia buruk bagimu,ALLAH maha mengetahui ,sedangkan kamu tdk mengetahui'' (QS.AL-Baqarah:216).

Adapun caranya telah di ajarkan oleh Rasulullah saw.yaitu shalat istikharah lengkap dngn do'anya

So 'ingin jodoh yg baik....??? perbaiki diri,jangan menghayal yang tdk2,jangan berharap yg berlebihan ,banyak2 berdo'a,dan jangan lupa bertanya kepada yang maha tahu dan maha kuasa semoga dapat jodoh yang terbaik....!!! amin....amin

Apa iya wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik?

Kalau kita lihat di Al-Qur�an surat An-Nuur ayat 26 memang disebutkan demikian

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)"

Tetapi coba lihat konteksnya, di dalam Tafsir Ibnu Katsir jilid 6 Pustaka Imam Syafii halaman 32 dijelaskan bahwa yang dimaksud laki-laki yang baik dalam ayat ini adalah Rasulullah saw sebagai manusia yang paling baik sedangkan wanita yang baiknya adalah Aisyah ra sebagai isteri Rasulullah saw. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam pun menjelaskan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah wanita yang jahat hanya pantas bagi laki-laki yang jahat dan laki-laki yang jahat hanya cocok bagi wanita yang jahat. Wanita yang baik hanya layak bagi laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik hanya patut bagi wanita yang baik.

Perhatikan!

Hanya pantas, hanya cocok, hanya layak, hanya patut, ini tidak berarti wanita yang baik pasti akan mendapat laki-laki yang baik atau sebaliknya. Mau bukti? Pasti semua kenal dengan Fir�aun. "Sesungguhnya dia adalah orang yang sombong, salah seorang dari orang-orang yang melampaui batas." (QS. Ad Dukhaan:31). Bahkan dengan beraninya, (Seraya) berkata:"Akulah tuhanmu yang paling tinggi". (QS. An Naazi�at : 24).

Tapi coba perhatikan isterinya !

"Dan Allah membuat isteri Fir�aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir�aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim."(QS. At-Tahrim : 11)

Ternyata terbukti, seorang wanita yang baik belum tentu mendapat laki-laki yang baik, lalu perhatikan lagi contoh ini !

"Perhatikan bagaimana istri Nabi Luth dibinasakan, Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)." ( (QS.Al-A�raaf:83).

Waw, seorang Nabi mendapatkan istri yang demikian! Tidak hanya Nabi Luth yang dapat istri seperti itu, tapi juga Nabi Nuh !

"Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)". (QS. At-Tahrim : 10)

Ternyata terbukti, seorang laki-laki yang baik belum tentu mendapat wanita yang baik!

Shalih atau tidaknya seseorang, baik atau tidaknya diri kita, itu urusan kita kepada Allah.

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintakan pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Tetapi jika kita mendapat pasangan yang tidak baik maka sangat mungkin itu adalah ujian dari Allah swt.

Di dalam Al-Qur�an pun disebutkan, "Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara ISTERI-ISTERIMU dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun : 14)

Juga di dalam Al-Qur�an surat Ali �Imran ayat 14 " Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: WANITA-WANITA, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)"

Maka sangat baiklah jika kita berdoa. "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqaan : 74)

Hmmm, menarik bukan? Bahkan di sekitar kita juga banyak contoh yang bisa kita saksikan. Ada wanita shalihah, malah mendapat laki-laki bermasalah.

Ada laki-laki yang rajin ibadah, malah sering dikihianati wanita yang banyak berulah. Siapa menyangka, banyak orang beribadah berujung pada kekecewaan. Karena mereka mempunyai tujuan, orientasi, motivasi, atau niat yang salah: shalat Dhuha agar menjadi kaya, sedekah agar mendapat gaji berlipat atau jadi orang shalih agar mendapat istri/suami shalih. Padahal setiap shalatnya kita selalu bersumpah, dengan doa iftitah inna shalati wanusuki, wamahyaya, wamamati lillahirabbil�alamin (Sesungguhnya Shalatku, Ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam).

Dan dijelaskan bahwa segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya (H.R. Bukhori No:01 dan Muslim No:1907)

Ini artinya, segala amal ibadah haruslah diniatkan hanya kepada Allah swt. sehingga mendapat balasan yang setimpal dari Allah swt. Allah menjanjikan balasan itu, tapi tidak selalu semua balasan akan kita terima di dunia ini. Orang-orang yang kecewa itu karena hanya berharap pada balasan yang langsung dia dapat di dunia.

Jadi, kalau mau rajin ibadah, ya beribadahlah karena Allah swt. Kalau mau menjadi orang shalih, ya jadilah orang shalih karena Allah swt.

Kita tidak akan MERUGI apalagi KECEWA jika segala sesuatu dikerjakan dengan IKHLAS hanya karena Allah swt, bukan karena wanita yang ingin dinikahi, atau dunia yang ingin dimiliki.

Pasti semua tahu, beginilah orang-orang shalih menerima balasannya.

"Tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan" (QS.Sabaâ:37)

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya[670], di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan.(QS. Yunus :9)

[670]. Maksudnya: diberi petunjuk oleh Allah untuk mengerjakan amal-amal yang menyampaikan surga.

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(QS.An-Nahl:97)

[839].

Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.