Senin, 16 Desember 2013

Kami Masih Beridiologi Independen

Minggu, 15 Desember 2013

Opique pictures merupakan sebuah komunitas film indie asal Kota Medan yang lahir pada tanggal 9 Januari 2008. Tidak sedikit film-film karya mereka  mendapat penghargaan di berbagai ajang festival film. Bagaimana perjalanan M Taufik Pradana membangun komunitas ini? Berikut wawancara Jurnal Asia dengan Taufik Pradana, beberapa waktu lalu?

Sejak kapan Anda mulai terjun di Industri perfilman?
Sejak tahun 2008, saat masih duduk di kelas 2 SMA bersama kawan-kawan iseng-iseng mendokumentasikan sebuah perjalanan dan tanpa senggapa membuat nama produksi Opique Pictures.

Apa yang memotivasi Anda untuk memilih usaha ini?
Saya memang memiliki rasa penasaran yang tinggi, setelah mengetahui bagaimana cara sedernaha memproduksi film sederhana dan Kemudian mengikuti ajang Festival Film Anak dan mendapatkan penghargaan menjadi motivasi dasar jalan hidup saya di dunia sinematografi ini.

Bagaimana awalnya Anda mulai membangun usaha ini?
Dari awal hingga saat ini komunitas kami masih beridiologi independen dan menguatkan wadah penyaluran bakat. Lambat laun dari non komersil guna mambantu usaha kawan, dan ternyata ini bisa di jadikan sumber pemasukan. Dari dana yang didapat diputar menjadi modal produksi film idealis guna mengikuti ajang kompetisi film lainnya.
Di tambah lagi dengan sulitnya mencari pendukung dana di kota medan ini, sehingga kegiatan komersil menjadi alternatif untuk biaya produksi film non komersil.

Menurut Anda, apakah usaha ini memang memiliki peluang bisnis yang menjanjikan?
Menurut saya sangat ia dikarenakan semangkin majunya kemajuan teknologi, akan tetapi film tidak akan mati. Sebab sulitnya memasukan karya seni ke televisi namun mendia online dapat menjadi alternatif. Bahkan kita lihat dalam beberapa saat ini semangkin banyak yang terkenal di dunia online dari pada dari televisi. Di tambah lagi dengan adanya audio visual membuat para audience atau penonton lebih mudah mencerna dari pada membaca buku. Walau memang cenderung membuat orang lain menjadi malas. Tapi ini sudah menjadi kebutuhan orang banyak.

Selama ini sudah berapa banyak film yang Anda garap? 
Sejauh ini sudah ratusan judul film yang kami buat, walau lebih banyak produksi film durasi pendek. Diantanya adalah dokumentasi acara, film fiksi pendek, film documenter pendek, iklan produk, iklan layanan masyarakat, videoklip, liputan feature bahkan poto slide.

Film-film apa saja itu?  
Film fiksi “Ego” di produksi oleh Opique Pictures, Dharmateta, Komfaz Prod, WWB Prod dan Intermediaproject (2013), film fiksi “Marjinal” di produksi oleh Opique pictures dan Ghoqielt community (2012), film fiksi “Gak Belok Lagi” di produksi oleh Opique Pictures (2011), videoclip close time story –teringat sejenak dirimu di produksi oleh Opique Picture’s (2011), Videoclip dua lagu coconuthead – cover bang-bang tut slank dan hello brother di produksi oleh Opique Pictures (2011), film documenter “menjejaki air terjun dwi warna” di produksi oleh Opique Pictures dan Krikil Picture’s (2011, film documenter “Kualanamu, Lepas landas apa lepas kandas” di produksi oleh Opique Pictures dan Krikil Picture’s (2011), film documenter “Kelas Berdinding Angin” di produksi oleh Opique Pictures dan Krikil Picture’s (2010), film fiksi “1000 Langkah 1 Tujuan” di produksi oleh Opique Picture’s dan Kofamzah Picture’s (2010), film fiksi “Pionering Sahabat” di produksi oleh Opique Picture’s dan Komfaz production (2010) dan film “Freedom Of Choise” peserta lomba cipta film democrazy yang di selenggarakan America Government di produksi Opique Picture’s (2010).        
Kemudian film docudrama “museum, Sejarah yang Terlupakan”  produksi Opique Picture’s (2010), film profil 2 sekolah dasar negeri medan di produksi oleh Opique Picture’s (2010), Iklan Chitato “pos id” di produksi oleh Opique Picture’s (2010), videoklip sederhana Portal band di Produksi oleh Opique Picture’s (2010), company profil sirup markisa Noerlen di produksi oleh Opique Picture’s (2009), film fiksi “Dari Hati” di produksi oleh Opique Picture’s (2009), film documenter “Hydrosfer” di produksi oleh Opique Picture’s (2009), film fiksi “Gulungan Uang” di produksi oleh Opique Picture’s (2009), film fiksi “Joe Mengejar Cinta” di produksi oleh Opique Picture’s (2009), film documenter “Rumah Kita” di produksi oleh Opique Picture’s (2008) dan film documenter “Global Never Warming” di produksi oleh Opique Picture’s (2008).

Karya film Anda juga banyak mendapat penghargaan?
Sutradara terbaik versi film documenter FFA (Festival Film Anak) pada tahun 2008  dalam film berjudul “Rumah Kita”, Juara III skrip terbaik dalam acara hari anak nasional yang di selenggarakan oleh Pemprovsu 2009 dalam judul “Memulung Cita-Cita”,  Editor terbaik versi film fiksi FFA (Festival Film Anak) pada tahun 2009 dalam film berjudul  “Gulungan Uang”, Aktor terbaik versi film fiksi FFA (Festival Film Anak) pada tahun 2009 dalam fulm berjudul “Impian Anakku”, Juara II film dikumenter FFA (Festival Film Anak) pada tahun 2010 dalam film berjudul “Museum, Sejarah Yang terlupakan”,  Skrip terbaik film fiksi FFA (festival Film Anak) pada tahun 2010 dalam film berjudul “Pionering Sahabat”, Juara III film dikumenter Fertival Jurnalistik 2011 yang diselenggarakakn Departemen Ilmu Komunikasi USU dalam film berjudul “Kelas Berdinding Angin” dan Juara III  iklan Savety Riding Honda 2011 yang di selenggarakan oleh Honda dalam iklan berjudul “Kebiasaan Buruk Berdampak Fatal“.

Bagaimana sambutan masyarakat terhadap film-film Anda?
Sejauh ini untuk praktisi film dan pemerhati film idealis independen terus mendukung dan memotivasi kami tuk terus berkarya. Bahkan dukungan itu hadir melihat dari kerja kerasnya kami dalam produksi film yang memang masih banyak kekurangan. walau terkadang yang sering menjatuhkan kami orang film senior dimedan namun semangat dan pesan moral yang disampaikan dalam film masih menjadi modal dasar kami tetap bertahan di usia komunitas yang hampir 6 tahun ini.

Dari segi bisnis, apakah menguntungkan?
Yang kami alami sejauh ini memang agak sulit secara harga dan birokrasi produksi di medan ini. Termasuk pemerintah yang tidak mendukung dana dan kami juga pernah di usir saat produksi dengan aparatur Negara sedangkan tujuan produksi kami bukan untuk komersil.
Namun, kalau memang bisa dapat pasar maka sangat menguntungkan walau masih terbilang sulit semisal proyek tender pemerintahan yan system lelang, akan tetapi apabila gool bisa mencapai keuntungan >100% dari biaya produksi.

Sebenarnya seberapa besar dana yang dibutuhkan dalam menggarap  sebuah film hingga sampai di pasaran?
Pengalaman saat produksi film fiksi terpanjang yang kami buat berdurasi 1 jam 50 menit berjudul “Marjinal” dari kebutuhan skrip mencapai 102 juta. Namun dikarenakan tidak ada yang menyokong dana sehingga kami memangkas habis pengeluaran kebutuhan dengan sistem pinjam property dengan yang memilikinya sehingga jika di kalkulasi sekitar 5 jutaan dana yang keluar dari kantong anggota dan dana kas kaomunitas namun ini yang menghambat produksi sehingga memakan waktu produksi hingga 1 setengah tahun pengerjaannya.

Sumber dana itu dari Anda sendiri atau turut dibantu pihak sponsor? 
Beberapa bulan setelah skrip selesai kami terjun kelapangan guna menjaring sponsor, bahkan kepemerintahan di bola-bola hingga 3 bulan namun hasilnya nihil. Dari 4 sponsor yang didapat melainkan dari sistem ngomong langsung dan hanya mendapat fasilitas tempat dan alat guna memenuhi kebutuhan produksi film tersebut.

Bagaimana keuntungan yang didapatkan?
Secara materi keuntungan dari film “Marjinal” itu memang tidak memiliki nilai angka nominal, namun selama beberapa bulan kami mengadakan pemutaran film di cafĂ©, kedekopi, seminar mendapatkan nilai positif di kenal orang banyak secara langsung.

Strategi apa yang Anda lakukan biar film yang dihasilkan bisa diterima masyarakat?
Tidak ada strategi khusus melainkan dengan cara kreatif agar di terima masyarakat, seperti memutarkan film marjinal dengan cara layar tancap di daerah produksi film tersebut pada malam tahun baru 2013.

Apakah dalam waktu dekat ini ada rencana membuat film lagi? 
Dalam waktu dekat ini kami akan produksi film indie durasi panjang lagi, berjudul “Medan Buzzer” bekerjasama dengan distro “punya medan” dan komunitas jejaring sosial “medan buzzer”. Masih dengan cara kreatif indie yang masih serba kekurangan dalam hal mekanisme dan pendanaan, namun sejauh ini beberapa UKM sudah di gandeng dan beberapa sudah ada mendukung dana walau masih terkumpul minimal.

Menurut Anda bagaimana agar industri perfilman di Sumatera Utara semakin maju?
Semua elemen harus bersinergi, semisal pemerintahan menyediakan wadah. Jika memang pemerintah tidak dapat menyidiakan wadah, wadah yang di ciptakan dari masyarakat jangan di ganggu oleh pihak pemerintah apa lagi preman setempat. (Midian Simatupang)
 
sumber : http://medanlook.blogspot.com/

Rabu, 11 Desember 2013

Daftar Nominasi Piala Maya 2013

https://pbs.twimg.com/profile_images/378800000833453029/bf9cbcccb49321464363f6a0e7843034.jpeg
 - NOMINASI SUTRADARA TERPILIH:
1. Riri Riza (Sokola Rimba)
2. Upi (Belenggu)

3. Dinna Jasanti (Laura & Marsha)
4. Ifa Isfansyah (9 Summers 10 Autumns)
5. Mouly Surya (What They Don't Talk About When They Talk About Love)
- NOMINASI AKTOR UTAMA TERPILIH:
1. Abimana Aryasatya (Belenggu)
2. Ikranagara (Sang Kiai)
3. Joe Taslim (La Tahzan)
4. Reza Rahadian (Habibie & Ainun)
5. Vino G Bastian (Rumah & Musim Hujan)
- NOMINASI AKTRIS UTAMA TERPILIH:
1. Adinia Wirasti (Laura & Marsha)
2. Julia Perez (Gending Sriwijaya)
3. Prisia Nasution (Sokola Rimba)
4. Ratu Felisha (Something In The Way)
5. Ririn Ekawati (Kisah 3 Titik)
- NOMINASI AKTOR PERAN PENDUKUNG TERPILIH:
1. Agus Kuncoro (Gending Sriwijaya)
2. Alex Komang (9 Summers 10 Autumns)
3. Didi Petet (Madre)
4. Landung Simatupang (Rumah & Musim Hujan)
5. Mathias Muchus (Hari Ini Pasti Menang)
- NOMINASI AKTRIS PERAN PENDUKUNG TERPILIH:
1. Ayushita (What They Don't Talk About When They Talk About Love)
2. Christine Hakim (Sang Kiai)
3. Dewi Irawan (9 Summers 10 Autums)
4. Imelda Therinne (Belenggu)
5. Jajang C Noer (Rumah & Musim Hujan)
- NOMINASI AKTOR PENDATANG BARU TERPILIH:
1. Reza Nangin (Cinta Tapi Beda)
2. Anggun Priambodo (What They Don't Talk About When They Talk About Love)
3. Natalius Chendana (3Sum)
4. Zhendy Zain (Hari Ini Pasti menang)
5. Ronny P Tjandra (3Sum)
- NOMINASI AKTRIS PENDATANG BARU TERPILIH:
1. Christy Mahanani (Vakansi Yang Janggal dan Penyakit Lainnya)
2. Karina Salim (What They Don't Talk About When They Talk About Love)
3. Lina Marpaung / Mak Gondut (Demi Ucok)
4. Maryam Supraba (Kisah 3 Titik)
5. Geraldine Sianturi (Demi Ucok)
- NOMINASI PEMAIN CILIK TERPILIH:
1. Jefan Nathanio (Tampan Tailor)
2. Nyungsang Bungo (Sokola Rimba)
3. Shafil Hamdi Nawara (9 Summers 10 Autumns)
4. Bintang Panglima (Leher Angsa)
5. Coboy Junior (Coboy Junior The Movie)
- NOMINASI AKTOR OMNIBUS TERPILIH:
1. Lukman Sardi (Rectoverso "Malaikat Juga Tahu")
2. Barry Prima (Pintu Harmonika "Skors")
3. Indra Birowo (Rectoverso "Curhat Buat Sahabat")
4. Donny Damara (Pintu Harmonika "Otot")
5. Winky Wiryawan (3Sum "Insomnights")
- NOMINASI AKTRIS OMNIBUS TERPILIH:
1. Acha Septriasa (Rectoverso "Curhat Buat Sahabat")
2. Aline Adita (3Sum "Rawa Kucing")
3. Dewi Irawan (Rectoverso "Malaikat Juga Tahu")
4. Jenny Zhang (Pintu Harmonika "Piano")
5. Karina Salim (Pintu Harmonika "Otot")
- NOMINASI NASKAH ASLI TERPILIH:
1. Sammaria Simanjuntak (Demi Ucok)
2. Upi (Belenggu)
3. Mouly Surya (What They Don't Talk About When They Talk About Love)
4. Swastika Nohara (Hari Ini Pasti Menang)
5. Teddy Soeriaatmadja (Something In The Way)
- NOMINASI NASKAH ADAPTASI TERPILIH:
1. Ifa Isfansyah, Fajar Nugros, Iwan Setyawan (9 Summers 10 Autumns)
2. Donny Dhirgantoro, Hilman Mutasi, Sunil Soraya (5Cm)
3. Ginatri S Noer, Ifan Adriansyah Ismail (Habibie & Ainun)
4. Ve Handojo, Key Mangunsong, Indra Herlambang, Ilya Sigma, Priesnanda Dwisastria (Rectoverso)
5. Riri Riza (Sokola Rimba)
- NOMINASI PENATA KAMERA TERPILIH:
1. Yunus Pasolang (What They Don't Talk About When They Talk About Love)
2. Ipung Rahmat Syaiful (Habibie & Ainun)
3. Roy Lolang (Laura & Marsha)
4. Yudi Datau (5CM)
5. Yadi Sugandi (Rectoverso)
- NOMINASI PENYUNTING GAMBAR TERPILIH:
1. Aline Jusria (Laura & Marsha)
2. Cesa David Luckmansyah & Ryan Purwoko (Rectoverso)
3. Wawan I Wibowo (Belenggu)
4. Cesa David Luckmansyah, Aline Jusria, Faesal Rizal (NOAH)
5. Sastha Sunu (5CM)
- NOMINASI PENATA ARTISTIK TERPILIH:
1. Iqbal Marjono (Belenggu)
2. Aek Bewava (Legend of Trio Macan)
3. Frans XR Paat (Sang Kiai)
4. Rico Marpaung (Cinta Dalam Kardus)
5. Ario Anindito (Finding Srimulat)
- NOMINASI EFEK KHUSUS TERPILIH:
1. Andi Manoppo (Belenggu)
2. Adam Howarth (Sang Kiai)
3. Mahadhika Caesar, Rivai Chen, Revi M (Hari Ini Pasti Menang)
4. Eltra Studio (Moga Bunda Disayang Allah)
5. Cindy Suryadji (Gending Sriwjaya)
- NOMINASI ILUSTRASI MUSIK TERPILIH:
1. Ananda Sukarlan (Hari Ini Pasti Menang)
2. Zeke Khaselli & Yudi Arfani (What They Don't Talk About When They Talk About Love)
3. Aghi Narottama & Bemby Gusti (Laura & Marsha)
4. Tya Subiakto Satrio (Habibie & Ainun)
5. Ricky Lionardi (Rectoverso)
6. Indra Lesmana (Adriana)
7. Aksan Sjuman (Sokola Rimba)
8. Yovial Tri Purnomo Viegie (Sagarmatha)
- NOMINASI PENATA RIAS WAJAH & RAMBUT TERPILIH:
1. Kumalasari (Belenggu)
2. Retno R Damayanti (Gending Sriwijaya)
3. Retno R Damayanti, Joy Revfa, Rezani Ramli (Habibie & Ainun)
4. Danny Boris Saragi & Sarwo Edi Kocom (Sang Kiai)
5. Jerry Octavianus (9 Summers 10 Autumns)
- NOMINASI PENATA KOSTUM TERPILIH:
1. Retno R Damayanti (Habibie & Ainun)
2. Retno R Damayanti (Gending Sriwijaya)
3. Andhika Dharmapermana (Belenggu)
4. Gemailia Gea Geriantiana (Sang Kiai)
5. Liza Masitha, Khairiyyah Sari, Auguste Soesastro (9 Summers 10 Autumns)
- NOMINASI FILM DAERAH TERPILIH:
1. Nagasari - Jawa Barat (Christopher Hanno, Eduardus Pradipto)
2. Negeri Di Bawah Awan - Papua (Ipong Wijaya)
3. Marjinal - Sumatera Utara (M Riedho Pratama)
- NOMINASI FILM ANIMASI PENDEK TERPILIH:
1. Moriendo (Andrey Pratama)
2. Booster (Eko Junianto)
3. Dance On (Rama York)
4. Sang Suporter (Wiryadi Darmawan)
5. Petualangan Banyu dan Elektra Menyalakan Kota (Greeneration & Komunitas Sahabat Kota, WWF)
- NOMINASI DESAIN POSTER TERPILIH:
1. Coboy Junior The Movie
2. Laura & Marsha
3. Refrain
4. Vakansi Yang Janggal & Penyakit Lainnya
5. Rectoverso
- NOMINASI PENULISAN KRITIK FILM TERPILIH:
1. Mursala - "Cinta dan Aturan Leluhur" (Fuad Misbah)
2. Sokola Rimba - "Protes Dari Orang Rimba"
(Imam Teguh Santoso)
3. Cinta Tapi Beda - "Cinta Klasik Dengan Intrik Yang Tak Menarik" (A Humaidy)
4. Rectoverso - "Definisi Cinta Yang Konkret" (Elbert Reyner)
5. Habibie & Ainun (Theresia Agustina)
NOMINASI LAGU TEMA TERPILIH :
1. "Bernyanyi Untukmu" - Andien (Pintu Harmonika)
2. "Summertime" - Diar (Laura & Marsha)
3. "Cinta Dalam Kardus" - Endah N' Resha (Cinta Dalam Kardus)
4. "Malaikat Juga Tahu" - cipt. Dewi Lestari, dinyanyikan oleh Glenn Fredly (Rectoverso)
5. "Di Atas Awan" - Nidji (5CM)
6. "Lenggang Puspita" - cipt. Guruh Soekarnoputra, di remix oleh DJ Winky (Finding Srimulat)
7. "Firasat" - cipt. Dewi Lestari, dinyanyikan oleh Raisa (Rectoverso)
8. "Cinta Sejati" -  cipt. Melly Goeslaw, dinyanyikan oleh Bunga Citra Lestari (Habibie & Ainun)
Sedangkan untuk 4 nominasi lainnya untuk kategori Film Bioskop, Film Pendek, Film Dokumenter dan Segmen Film Omnibus baru akan diumumkan pada Jumat 13 Desember. Lalu, Penghargaan Khusus akan diumumkan di Malam Penghargaan Piala Maya, 21 Desember

--
Sekretariat Piala Maya
Jl. Puloraya VII No. 6, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Rabu, 04 Desember 2013

Pemutaran Film Marjinal ke-15

event
Pemutaran Film Marjinal Karya M Riedho Pratama

 

Setelah sekian lama film ini berdiam diri di dalam hardisk komputer, kini film Marjinal akan memulai turun kejalan kembali. Film durasi panjang pertama produksi opique pictures ini di rencanakan akan melakukan pemutaran yang ke-15 kalinya di @sabena_coffee.

Pada kesempatan kali ini kami opique pictures akan melakukan pemutaran di :
- Alamat : jalan  kasuari no 27 Medan.
- Pukul : 19.00 wib 
- Tanggal : 13 Desember 2013
- Info :  083197250111

Selain pemutaran, Opique Pictures juga akan melakukan sesi tanya jawab dunia produksi film indie dengan kamu semua.

Buat kamu yang hadir pada acara pemutaran ini, akan mendapatkan potongan harga langsung untuk semua minuman sebesar 20% spesial dari sabena coffee. Dan untuk pemesanan bangku bisa langsung hubungi sabena coffee di 081263149888.

buat kamu semua yang binggung mau ngapai di akhir pekan, buruan hadiri acara pemutaran ini, dan kita akan mendengarkan serunya buat film ini langsung dari sutradara film Marjinal Produksi Opique Pictures.

GRATISS !!!



Minggu, 01 Desember 2013

Trailer Film Omnibus Bohong


omnibus ini merupakan omnibus pertama di sumatera utara yang di produksi oleh 4 komunitas film medan dan di dukung oleh Kofi Sumut (Komunitas Film Sumatera Utara).

Produksi  komunitas film indie, yaitu :
- Mid Films "Kong Kali Kong" Karya Andi Hutagalung
- Manuprojectpro "Kontradiksi" Karya Immanuel Prasetya Gintings
- Opique Pictures "Ego" Karya Winda Mitari Utami
- Matasapi Films "Segi Empat" Karya J Hendry Norman

Senin, 18 November 2013

sejarah lahirnya komunitas film di Indonesia

Belakangan ini, pergerakan komunitas film yang telah menyusup hingga ke pelosok Indonesia makin terasa kuat dan tak terpatahkan. Apabila rajin mengamati berita lewat milis perfilman, beberapa bulan sekali kita akan menerima e-mail yang bertajuk ‘calling for submission’ karya-karya film Indonesia. Beberapa ajang mengkhususkan pemutaran mereka pada film-film pendek, beberapa pada karya dokumenter. Belum lagi ruang-ruang alternatif yang dengan sukarela (dan tak jarang heroik) menyediakan tempat mereka secara gratis bagi para filmmaker muda yang ingin memutar karya mereka dan membuka forum diskusi dengan para penonton secara langsung.
Festival film bergulir, ruang-ruang alternatif semakin gencar menjaring komunitas pembuat film (bahkan merekrut mereka dalam satu atap), dan para pembuat film yang kadang hanya bermodal kenekatan, video kamera, dan komputer sebagai alat editing pun semakin berani memproduksi film. Dalam penilaian sebuah karya, mutu film-film tersebut memang kadang tidak memenuhi standar kriteria sebuah film yang baik dan benar, namun bukankah segalanya bermula dari impian dan semangat untuk mewujudkannya?
Apa yang membuat semangat para pembuat film dan komunitas ini tiba-tiba berkobar kembali? Apabila kita runut dari perkembangannya sejak awal, komunitas film independen dapat dikatakan pertama kali muncul tidak lama setelah Indonesia memiliki institusi pendidikan filmnya yang pertama di tahun 1970. Ketika itu Dewan Kesenian Jakarta mengadakan Lomba Film Mini yang diikuti secara antusias oleh seniman di luar film maupun para maha-siswa sinematografi LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, kini IKJ). Karya-karya yang masuk beragam, namun mayoritas bernuansa ‘amatiran’ (saat itu hampir semua karya meng-gunakan media film 8mm yang harganya terjangkau). Semangat lomba tersebut menular pada sebagian mahasiswa sinematografi LPKJ, yang kemudian melahirkan sebuah gerakan bernama “Sinema Delapan”, di mana semua film yang dihasilkan harus menggunakan media film 8mm. Semangat ini, terutama, lahir sebagai gerakan penentangan terhadap kemapanan industri film Indonesia yang ketika itu mengalami perkembangan luar biasa di mana 125 film dilahirkan dalam satu tahunnya. Namun karena kurangnya dukungan, Sinema Delapan hanya bisa bertahan satu tahun.
Setelah satu dekade vakum tanpa adanya pergerakan yang berarti, muncullah Forum Film Pendek (FFP) di tahun 1980an. Pendiri dan anggota yang berasal dari macam-macam latar belakang membuat gerakan ini lebih terasa signifikan. FFP menciptakan isu nasional dan memutar film hingga ke Medan, Lombok, Bali. FFP juga tercatat sebagai komunitas yang pertama kali memformulasikan film pendek sebagai film alternatif dan independen. Semenjak kelahiran FFP yang salah satu misinya adalah memperkenalkan film sebagai karya seni hingga ke luar negeri, film-film pendek Indonesia mulai dikirim untuk mengikuti ajang festival film mancanegara. Hal ini tentu saja memberi semangat lebih kepada para pembuat film muda untuk berkarya, walau kebanyakan dari mereka masih berlatar belakang pendidikan sinematografi. Salah satu prestasi awal yang dicapai film pendek Indonesia adalah ketika film pendek Gotot Prakosa diundang untuk diputar di Oberhausen Film Festival, Jerman, sebuah festival film pendek tertua dan paling bergengsi di dunia.
Walau komunitas film di dekade 80 dan awal 90-an tidak sebanyak sekarang, namun dengan keterbukaan peluang untuk berkarya, gerakan-gerakan yang sifatnya lebih individual dan tertutup mulai berkembang di Indonesia, terutama di Jakarta. Pembicaraan dan wacana film mulai beredar tidak hanya di kalangan akademisi dan penggiat film, tetapi juga praktisi seni visual dan penikmat budaya pop. Hal ini muncul sejalan dengan masuknya program MTV di layar kaca. Antusiasme para produser dan pemusik yang berlomba untuk mempopulerkan lagu-lagu mereka lewat video musik (di Indonesia lebih popular dengan sebutan video klip) membuat sebuah industri baru dalam dunia gambar bergerak Indonesia.
Walaupun hakikat video musik di Indonesia terkadang tidak lebih sebagai alat promosi dan seringkali dinilai dari segi estetisnya belaka, industri ini membuat anak-anak muda mulai terjun ke dunia tersebut, selain aktif di film iklan dan produksi acara TV. Semangat anak-anak muda ini adalah angin segar, terutama di kala perfilman Indonesia sedang berada dalam titik terendahnya di mana 95% film Indonesia yang diproduksi antara 1994-1998 adalah film khusus dewasa alias esek-esek.
Tahun 1997 menjadi tahun penting bagi perubahan film Indonesia yang mati suri (bukan mati produksi, tapi mati kualitas!). Di tahun ini Seno Gumira Ajidarma mengungkapkan jargon tenarnya, yaitu Sinema Gerilya. Dalam tulisannya SGA mengatakan bahwa “jika ingin ada orang menonton film Indonesia, masyarakat penonton itu harus diciptakan dulu” dan “kebangkitan perfilman Indonesia akan sangat bergantung pada karya pribadi yang kuat.” Buah pikiran Seno Gumira ini lahir hampir bersamaan dengan produksi film panjang independen pertama Indonesia, Kuldesak, sebuah film gabungan dari empat cerita/film pendek yang dilahirkan oleh semangat muda-mudi penggiat film Indonesia atas nama gerakan Sinema Independen. Mereka adalah Mira Lesmana, Riri Riza, Nan Achnas, Shanty Harmayn, Rizal Mantovani (keempat na-ma yang disebutkan di awal kini menggawangi produksi film berkualitas Indonesia). Film yang didanai sendiri oleh keempat sutradaranya ini menggunakan teknologi digital (video) dan mengusung cerita yang tidak biasa pada saat itu: potret kegelisahan anak muda melalui kacamata anak muda itu sendiri.
Film Kuldesak, dengan gebrakan tema, budget produksi dan medium yang digunakannya, bersama dengan “Sinema Gerilya” SGA, tidak bisa dipungkiri memulai babak baru dalam sinema independen Indonesia. Bermula dari itu, perlahan-lahan tumbuh komunitas film di Indonesia, sebagian memfokuskan diri hanya pada apresiasi, sebagian lainnya langsung terjun ke dunia praktek dengan memproduksi film-film pendek, dokumenter, maupun feature film. Di tahun 2000 saja tercatat 6 film feature independen yang semuanya diproduksi dalam medium digital: Beth/Aria Kusumadewa, Bintang Jatuh/Rudi Soedjarwo, Jakarta Project/Indra Yudhistira, Pachinko & Everyone’s Happy/Harry Suharyadi, Tragedi/Rudi Soedjarwo, Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta/Enison Sinaro.
Runtuhnya orde baru yang mencapai puncaknya di tahun 1998 membawa kemerdekaan bagi banyak anak muda untuk lepas dari doktrin ’silence is golden’. Darah-darah muda (dengan gelora barunya) meneriakkan kata-kata ‘independen!’ pada saat yang bersamaan, hampir pada semua jenis bidang kreatifitas. Keadaan ekstatik yang awalnya bersifat individualistis ini perlahan memijakkan diri dengan membentuk institusi-institusi informal (atau komunitas) yang bermula di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.
Berbagai elemen secara tidak langsung namun simultan mendukung perkembangan sinema independen Indonesia saat itu (dan terus berlangsung hingga kini):
1. Kemudahan dan semakin terjangkaunya pembuatan film dengan teknologi digital (kamera video digital dan non-linear editing di komputer).
2. Hadirnya Festival Film dan Video Independen Indonesia (kini menjadi Festival Film Pendek Indonesia, yang kemudian menginspirasi festival-festival film independen lokal lain-nya) dan Jakarta International Film Festival sebagai festival film internasional di tahun 1999, menghadirkan referensi dan semangat baru bagi para pembuat maupun penikmat film.
3. Meluasnya jaringan internet yang membuka cakrawala pendidikan non-formal secara general, khususnya perfilman.
4. VCD dan DVD bajakan (bagaimanapun tidak dapat dilegitimasikan), ‘membunuh’ tradisi menonton bioskop masyarakat Indonesia, namun juga membantu membuka wacana baru bagi para pembuat film muda dengan referensi-referensi film internasionalnya.
Faktor pendukung di atas melahirkan ruang-ruang alternatif yang tidak hanya dikelola di bawah naungan individu/organisasi non-formal, tetapi juga pusat-pusat kebudayaan, kampus-kampus. Lahirnya karya-karya film independen Indonesia dengan sendirinya memaksa ‘keran-keran’ kebudayaan ini untuk membuka diri dan mendukung perkembangan jaman, yaitu jaman para generasi X dan Y (yang terkenal dengan kecuekkan, kecerdikan, kemandirian, dan tentu-nya, kegilaan pada teknologi). Saat ini, tidak kurang dari 80 komunitas film di kota besar dan pelosok Indonesia menjalankan kegiatannya secara mandiri dengan mengadakan pemutaran film dan diskusi secara reguler, produksi film, bahkan beberapa mulai berani memposisikan institusi mereka sebagai distributor film. (Untuk lebih jelas, lihat daftar ‘Data Komunitas Film Indonesia’, di website http://www.datakomunitas.wordpress.com dan baru-baru ini berganti nama menjadi http://www.filmalternatif.org).
Hampir seluruh komunitas film di Indonesia tidak menggantungkan diri mereka pada dana dari funding, terlebih pemerintah. Rasa-rasanya agak sulit untuk mengharapkan dukungan dari pemerintah, mengingat film nasional (baca: film Indonesia arus utama) pun masih dilirik setengah mata oleh para petinggi tersebut. Namun hal ini justru mengakibatkan perasaan senasib sepenanggungan yang kuat di antara para penggiat komunitas film di Indonesia. Masing-masing sadar betul bahwa daya jangkau mereka akan semakin lebar dengan adanya sinergi yang matang satu sama lain. Seperti contoh, komunitas Minikino yang berbasis di Denpasar, mengadakan acara monthly screening mereka di lima tempat di bawah naungan komunitas-komunitas film lokal Bandung, Jakarta, dan Denpasar. Bahkan beberapa komunitas film (Kineruku/Bandung, Kinoki/Yogyakarta, Arisan Film Forum/Purwokerto) kini bergabung untuk menerbitkan jurnal kajian film empat bulanan yang akan didistribusikan di sebanyak mungkin titik di seluruh Indonesia. Keinginan ini tidak terlepas dari keinginan masing-masing komunitas untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman (teknis maupun apresiatif), serta menciptakan masyarakat penonton yang kritis dan apresiatif.
Perlahan, rupanya impian Seno Gumira Ajidarma atas terciptanya kembali ‘penonton film Indonesia’ mulai terwujud, dan gerakan-gerakan masif yang sifatnya apresiatif tersebut ironisnya justru bermekaran dari komunitas-komunitas film yang senantiasa bergerak di bawah radar.

sumber :http://asiaaudiovisualrb09oktyas.wordpress.com/sejarah-lahirnya-komunitas-film-di-indonesia/