Rabu, 05 Juni 2013

Festival Film Anak (FFA) Sumatera Utara 2013



https://fbcdn-sphotos-g-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/941726_3140642612582_1335600604_n.jpg
Thema: Aku Dan Indonesiaku
Sub Thema: Indonesia Melindungi dan Memenuhi Hak-Hak Anak
Kategori: Cerita Fiksi & Dokumenter
TOTAL HADIAH: 15.000.000


KETENTUAN PESERTA:
-          Peserta adalah tim yang terdiri dari minimal 3 orang anak (berusia 6 - 18 tahun)
-          Tim didampingi seorang dewasa (misalnya: Guru, orang tua salah seorang anggota tim atau staf lembaga pendamping anak)
-          Seluruh proses produksi film dilakukan oleh anak, dan keterlibatan orang dewasa hanya sebagai pembimbing.
-          Pemenang dapat dibatalkan jika dikemudian hari terbukti film tidak dikerjakan anak.
-          Peserta wajib mengisi formulir dan mengikuti tahapan kegiatan FFA

KETENTUAN FILM:
-          Film harus sesuai dengan tema yang ditentukan panitia FFA.
-          Peserta wajib menyerahkan sinopsis yang menggambarkan keseluruhan cerita (minimal 1 halaman A4).
-          Panitia FFA akan menyeleksi dan mengumumkan sinopsis yang dianggap layak untuk diikutsertakan dalam kompetisi.
-          Film yang diikutsertakan berdurasi maksimal 15 menit
-          Film yang diikutsertakan tidak mengandung tema-tema bernuansa SARA, pornografi/ pornoaksi, tidak memvisualisasikan kekerasan, tidak mempertunjukkan Drug/Rokok, tidak melanggar hak cipta orang lain baik secara audio maupun visual.
-          Film mempromosikan Indonesia dalam melindungi dan memenuhi hak-hak anak.
-          Screenplay film dikirim dalam format DVD atau AVI sebelum berakhir masa pendaftaran ke Sekteratiat FFA
-          Panitia FFA (PKPA) mendapatkan hak publikasi dan sewaktu-waktu dapat mengambil seluruh atau sebagian isi untuk promosi hak anak, hak milik karya cipta tetap pada peserta
-          1`(satu) tim produksi boleh mengirimkan karya maksimal 2 (dua) film.
-          Pengiriman film wajib dalam bentuk hardcopy dengan melampirkan softcopy cover film atau still foto (dalam CD).
-          Karya film harus original dan diproduksi antara tahun 2011-2013.
-          Film yang sudah diserahkan kepada panitia tidak dapat diambil kembali
-          Hasil penjurian bersifat tetap dan tidak dapat diganggu gugat   

KETENTUAN TAMBAHAN**
-          Tidak melanggar hak anak selama proses pembuatan dan pendampingan (Misalnya, meninggalkan aktifitas sekolah, )
-          Kompetisi FFA tahun ini untuk wilayah Sumatera Utara.
-          Karya Film Pemenang Kompetisi FFA ke 6 berkesempatan mengikuti kompetisi film nasional seperti AFI dan FFI.
-          Peserta mendapat persetujuan dari orang tua/guru.

TAHAPAN KEGIATAN:
-          Pendaftaran peserta dan penyerahan sinopsis: 01 – 15 Juni 2013
-          Technical Meeting (TM): 06 Juni 2013
-          Pengumuman sinopsis: 22 Juni 2013
-          Penyerahan karya film selambatnya: 19 Agustus 2013
-          Penjurian: 22-23 Agustus 2013
-          Penganugerahan: 31 Agustus 2013

SEKRETARIAT FFA MEDAN
KANTOR PKPA
Jalan Abdul Hakim 5A, Pasar I – Setia Budi, Tanjung Sari  Medan, Indonesia - 20238
Telp. (061) 8200170 – 8201113, Fax. 8213009
Kontak Person: 0823 6964 4244 (Ismail) 0831 9725 0111 (Opique)
Informasi Selengkapnya dapat di Unduh di blog FFA:
FB: festivalfilm anak, Email: festivalfilmanak@yahoo.co.id, pkpamdn@gmail.com

SUARAKAN MIMPIMU DALAM KARYA FILM
BERKREATIFITAS DENGAN KEJUJURAN


** Konsekwensi pengabaian dari ketentuan tambahan mengakibatkan film peserta didiskualifikasi berdasarkan laporan yang diterima panitia dari orang tua atau pihak sekolah.

Festival Teater Anak (FTA) Sumatera Utara 2013


https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/960277_3140638812487_1538566016_n.jpg
Thema: Aku Dan Indonesiaku 
Sub Thema: Indonesia Melindungi dan Memenuhi Hak-Hak Anak 
Kategori: Drama Realis (Bukan Absurd) 
                                                 Total Hadiah: 15.000.000

KETENTUAN PESERTA:
-       Peserta adalah perwakilan sekolah atau komunitas yang terdiri dari maksimal 15 orang anak, sudah termasuk pemain dan kru pembantu (berusia 6 - 18 tahun)
-          1 (satu) sekolah/komunitas mengirimkan hanya 1 (satu) group.
-          Tim didampingi seorang dewasa (Misalnya: Guru, orang tua salah seorang anggota tim atau staf lembaga pendamping anak)
-          Seluruh proses produksi teater dilakukan oleh anak, dan keterlibatan orang dewasa hanya sebagai pembimbing (bukan sebagai sutradara)
-          Peserta wajib mengisi formulir dan mengikuti tahapan kegiatan FTA



KETENTUAN FESTIVAL:
-          Naskah harus original (ditulis sendiri oleh anak)
-          Cerita harus sesuai dengan tema yang ditentukan panitia FTA
-          Durasi pementasan maksimal 15 menit
-          Cerita dan pementasan tidak mengandung tema-tema bernuansa SARA, pornografi/ pornoaksi, tidak memvisualisasikan kekerasan, tidak mempertunjukkan Drug/Rokok, tidak melanggar hak cipta orang lain baik secara audio maupun visual.
-          Panitia FTA (PKPA) mendapatkan hak publikasi dan sewaktu-waktu dapat mengambil seluruh atau sebagian isi untuk promosi hak anak, hak milik karya cipta tetap pada peserta
-          Segala kebutuhan properti pementasan disediakan oleh peserta.
-          Hasil penjurian bersifat tetap dan tidak dapat diganggu gugat   



KETENTUAN TAMBAHAN**

-          Tidak melanggar hak anak selama proses pembuatan dan pendampingan (Misalnya, meninggalkan aktifitas sekolah, )
-          Peserta mendapat persetujuan dari orang tua/guru.
-          Seluruh peserta menyerahkan biodata singkat.
-          Pemenang wajib tampil saat penganugrahan.

TAHAPAN KEGIATAN:

-          Pendaftaran ditutup: 20 Agustus 2013
-          Technical Meeting dan pengundian nomor tampil 21 Agustus 2013
-          Pementasan: 24 – 25 Agustus 2013 (sekaligus pengumuman pemenang)
      -          Penganugrahan: 31 Agustus 2013




SEKRETARIAT FFA MEDAN
Pusat Kajian dan Perlindungan Anak
Jalan Abdul Hakim 5A, Pasar I –
Setia Budi, Tanjung Sari  Medan, Indonesia - 20238
Telp. (061) 8200170 – 8201113, Fax. 8213009
Kontak Person: 0823 6964 4244 (Ismail) 0831 9725 0111 (Opique)
Informasi Selengkapnya dapat di Unduh di blog FFA:
FB: https://www.facebook.com/festivalfilmanak



** Konsekwensi pengabaian dari ketentuan tambahan mengakibatkan film peserta didiskualifikasi berdasarkan laporan yang diterima panitia dari orang tua atau pihak sekolah.

Kamis, 30 Mei 2013

14 langkah membuat film sendiri…

Akhir-akhir ini, banyak yang memprotes para produsen sinetron Indonesia yang dianggap telah kehilangan daya kreatif sehingga akhirnya menyadur film yang diproduksi orang luar. Tapi, sebenarnya, bagaimana sih cara membuat film itu? Posting ini bukan sebuah pembelaan, dan bukan pula sebuah hujatan baru. Hanya ingin menunjukkan… Begini lho, caranya membuat film. Hitung-hitung, sebagai materi tambahan buat anak-anak saya di sekolah…
Pada dasarnya, membuat film itu dapat dibagi ke dalam 14 tahapan. Apa saja?

1. IDE
Idealnya, IDE ini harus unik dan original. Tapi, memutuskan untuk menyadur sebuah karya orang lain itu juga termasuk sebuah IDE lho… Untuk mencari IDE, banyak cara yang bisa dilakukan. Melakukan pengamatan terus-menerus, jalan-jalan ke tempat yang aneh dan belum pernah didatangi manusia, nangkring di pohon asem di pinggir jalan sambil mengamati kendaraan yang lalu lalang, atau bahkan duduk santai di sebuah food court di suatu plaza atau mall. Melamun sendirian di dalam kamar juga bisa mendatangkan ide, kok…

2. Sasaran
Setelah mendapatkan IDE, tentukan sasaran dari film yang akan dibuat. Koleksi pribadi? Murid SMU? Komunitas S&M? Para Otaku? Para Blogger? Siapa yang akan menonton film itu nantinya? Itu juga harus ditentukan dengan jelas di awal. Jangan sampai terjadi, film tersebut ditujukan untuk anak SMU tapi karena tidak disosialisasikan dengan jelas, akhirnya dipenuhi adegan berantem penuh darah ala 300

3. Tujuan
IDE dan Sasaran sudah ditetapkan. Yang harus dipastikan selanjutnya adalah tujuan pembuatan film. Ingin menggugah nasionalisme seperti Naga Bonar? Ingin menyampaikan pesan terakhir sebelum nge-bom? Ingin mendapatkan kepuasan pribadi seperti pembuatan film Passion of the Christ? Apa?

4. Pokok Materi
Berikutnya adalah menyusun pokok materi. Apa sih pesan yang ingin disampaikan? Ungkapan cinta? Sekedar pesan mengingatkan bahaya merokok?

5. Sinopsis
Sinopsis adalah ringkasan yang menggambarkan cerita secara garis besar. Semacam ide awal gitu loh. Dari sinopsis ini, nantinya bisa dikembangkan menjadi cerita yang lebih detil.

6. Treatment
Tahapan ini adalah penggambaran adegan-adegan yang nantinya akan muncul dalam cerita. Tidak mendetil. Contoh treatment itu seperti ini…
Ada seorang perokok yang sedang merokok dengan santainya. Kemudian tiba-tiba dia batuk-batuk dengan hebat dan agak lama. Sebelum beranjak pergi, orang itu membuang rokoknya sembarangan. Tiba-tiba muncul api…
7. Naskah
Naskah adalah bentuk mendetil dari cerita. Dilengkapi dengan berbagai penjelasan yang mendukung cerita (seting environment, background music, ekspresi, semuanya…). Contoh naskah itu, seperti ini…
FS. Ali mengayuh becak. Ais duduk merenung, tidak mempedulikan Ali yang bolak-balik menatapnya.
Ali : Dak usah dipikir lah, Mbak…
Ais : (kaget) Heh? Apa, Bang?
8. Pengkajian
Pengkajian disini, adalah yang dilakukan oleh seorang ahli isi (content) atau ahli media. Yang dikaji, adalah apakah naskahnya sudah sesuai dengan tujuan semula? Dan hal-hal yang mirip seperti itu…

9. Produksi Prototipe
Proses ini dibagi jadi 3 sub-tahap, yaitu pra-produksi (penjabaran naskah, casting pemain, pengumpulan perlengkapan, penentuan dan pembuatan set, penentuan shot yang baik, pembuatan story board, pembuatan rancangan anggaran, serta penyusunan kerabat kerja), produksi (pengambilan gambar sesuai dengan naskah dan improvisasi sutradara), purna-produksi (intinya adalah editing).

10. Uji coba
Uji coba ini dilakukan dengan memutar prototipe di hadapan sekelompok kecil orang. Kalau produsen film besar, biasanya melakukan ini di hadapan para kritikus. Tujuannya adalah untuk mengetahui respon dari calon audiens.

11. Revisi
Setelah ada respon, maka dilakukan perubahan jika diperlukan. Karena itu lah, banyak film yang memiliki deleted scenes. Itu diakibatkan proses uji coba dan revisi ini.

12. Preview
Preview itu adalah pemutaran perdana, di hadapan para ahli isi, ahli media, sutradara, produser, penulis naskah, editor, dan semua kru yang terlibat dalam produksi. Tujuan dari preview ini adalah untuk memastikan apakah semuanya berjalan lancar sesuai rencana atau ada penyimpangan. Bisa dikatakan, bahwa preview ini adalah proses pemeriksaan terakhir sebelum sebuah film diluncurkan secara resmi.

13. Pembuatan Bahan Penyerta
Bahan Penyerta itu adalah poster iklan, trailer, teaser, buku manual (jika film yang dibuat adalah sebuah film tutorial), dan lain sebagainya yang mungkin dibutuhkan untuk mensukseskan film ini.

14. Penggandaan
Tahap terakhir adalah penggandaan untuk arsip dan untuk didistribusikan oleh para Joni (ini terjadi pada jaman dulu kala, waktu format film digital masih ada di angan-angan).
Nah, demikian lah proses produksi sebuah film. Dari awal sampai akhir, siap untuk didistribusikan. Jadi, apa lagi yang ditunggu? Mari kita produksi film-film berkualitas agar tidak dikatakan bahwa sineas Indonesia telah kehilangan kreatifitas dan tidak bisa memproduksi karya orisinil lagi. SEMANGAT!!!

sumber : http://suandana.wordpress.com/

Rabu, 29 Mei 2013

M Taufik Pradana, Sineas Muda Menebar Karya

Oleh Moyang Kasih Dewimerdeka

Sekelompok anak muda berpacu me­ngayuh sepeda. Hasta demi hasta jalanan Medan-Binjai dilahap dengan ringan hati. Keringat bercucuran, namun segera lalu disapu sepoi angin. Seorang di antaranya, dengan handycam di tangan, cermat mengabadikan tiap detiknya menjadi serangkai gambar bergerak.
Foto: Andika Bakti
Adegan demi adegan tersebut lalu diramu menjadi cerita. Global Never Warming judulnya. Kisah sederhana tentang kampanye pema­nasan global itu kemudian diikutkan pada Festival Film Anak 2008 lalu. Tak sia-sia. Perjuangan mereka menempuh puluhan kilometer di atas kereta angin itu diganjar penghargaan Sutradara Terbaik versi Film Dokumenter dalam Festival Film Anak 2008. 
 
Adalah M Taufik Pradana, sang sutradara di balik kisah itu. Opik, begitu ia disapa, hanyalah mahasiswa biasa yang mencoba menantang otak kanannya untuk menghasilkan karya luar biasa. Film adalah media yang dipilih sebagai penyalur ide briliannya. Di usia yang belum lagi menginjak kepala dua, Opik telah menelurkan puluhan judul film. Belasan di antaranya telah diikutkan dalam berbagai ajang festival film dan telah pula meraih deretan penghargaan.

Saat ditemui di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USU, tempatnya menimba ilmu, lelaki gempal ini tak sungkan membagi cerita. Meski hari telah beranjak sore dan ia baru saja usai mengikuti perkuliahan, Opik tetap bertutur dengan raut wajah ceria. Di bawah pohon rindang FISIP, Opik mengenang kembali awal mula ia terjun dalam kancah perfilman.

Semua bermula saat ia duduk di bangku SD kelas lima. Opik kecil telah senang bermain-main de­ngan kamera analog milik orang tua­nya. Seiring waktu, Opik semakin mengembangkan minatnya tersebut. Saat kelas satu SMA, Opik membeli sebuah MP5 player bekas dengan kamera video berketajaman dua megapiksel. Berbekal peralatan seadanya ini, Opik mulai mengabadikan setiap momen yang dijumpainya.

Meski bisa merekam video, Opik masih terkendala dalam membuat film. “Waktu itu Opik belum bisa mengedit gambar,” kenangnya. Bak gayung bersambut, Opik dipertemukan dengan seorang kawan yang jago dalam mengedit video. Berkat kolaborasi apik ini, jalan untuk memproduksi film semakin terbentang lebar.
 
Bikin Film Itu Murah

Bila mendengar sebuah produksi film, tentu kita memba­yangkan modal besar yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan film bermutu.

Namun siapa nyana, hal ini justru dibantah tegas oleh Opik. “Bikin film itu mudah dan murah kok,” ujarnya. Opik telah membuktikannya sendiri. “Bahkan pakai kamera VGA juga bisa, tidak mesti yang canggih-canggih amat,” tegas Opik.

Melihat kondisi perfilman indie di Indonesia yang masih pasang surut, Opik berpandangan hal ini salah satunya dikarenakan anggap­an membuat film itu mahal. Padahal membuat film tidaklah serumit dan semahal itu.

Opik memberi contoh, bila i­ngin mengkonversi gambar dalam film menjadi kaset, cukup mengeluarkan uang sebesar Rp 1.500. Menurut perhitungannya, dengan Rp 60.000 saja, sebuah film pendek berdurasi 15 hingga 20 menit sudah dapat dihasilkan.

Opik sendiri bukannya berasal dari keluarga kaya yang mampu membiayai hobinya. Keluarganya mengajarkan Opik untuk selalu hidup sederhana dan mandiri. Untuk alat, teknologi, dan segala pengeluaran dalam memproduksi film, Opik selalu meng­upayakan sendiri.  

Oleh Moyang Kasih Dewimerdeka* | @satudewimerdeka
Sekelompok anak muda berpacu me­ngayuh sepeda. Hasta demi hasta jalanan Medan-Binjai dilahap dengan ringan hati. Keringat bercucuran, namun segera lalu disapu sepoi angin. Seorang di antaranya, dengan handycam di tangan, cermat mengabadikan tiap detiknya menjadi serangkai gambar bergerak.
Foto: Andika Bakti
Adegan demi adegan tersebut lalu diramu menjadi cerita. Global Never Warming judulnya. Kisah sederhana tentang kampanye pema­nasan global itu kemudian diikutkan pada Festival Film Anak 2008 lalu. Tak sia-sia. Perjuangan mereka menempuh puluhan kilometer di atas kereta angin itu diganjar penghargaan Sutradara Terbaik versi Film Dokumenter dalam Festival Film Anak 2008.

Adalah M Taufik Pradana, sang sutradara di balik kisah itu. Opik, begitu ia disapa, hanyalah mahasiswa biasa yang mencoba menantang otak kanannya untuk menghasilkan karya luar biasa. Film adalah media yang dipilih sebagai penyalur ide briliannya. Di usia yang belum lagi menginjak kepala dua, Opik telah menelurkan puluhan judul film. Belasan di antaranya telah diikutkan dalam berbagai ajang festival film dan telah pula meraih deretan penghargaan.

Saat ditemui di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USU, tempatnya menimba ilmu, lelaki gempal ini tak sungkan membagi cerita. Meski hari telah beranjak sore dan ia baru saja usai mengikuti perkuliahan, Opik tetap bertutur dengan raut wajah ceria. Di bawah pohon rindang FISIP, Opik mengenang kembali awal mula ia terjun dalam kancah perfilman.

Semua bermula saat ia duduk di bangku SD kelas lima. Opik kecil telah senang bermain-main de­ngan kamera analog milik orang tua­nya. Seiring waktu, Opik semakin mengembangkan minatnya tersebut. Saat kelas satu SMA, Opik membeli sebuah MP5 player bekas dengan kamera video berketajaman dua megapiksel. Berbekal peralatan seadanya ini, Opik mulai mengabadikan setiap momen yang dijumpainya.

Meski bisa merekam video, Opik masih terkendala dalam membuat film. “Waktu itu Opik belum bisa mengedit gambar,” kenangnya. Bak gayung bersambut, Opik dipertemukan dengan seorang kawan yang jago dalam mengedit video. Berkat kolaborasi apik ini, jalan untuk memproduksi film semakin terbentang lebar.

Bikin Film Itu Murah

Bila mendengar sebuah produksi film, tentu kita memba­yangkan modal besar yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan film bermutu.

Namun siapa nyana, hal ini justru dibantah tegas oleh Opik. “Bikin film itu mudah dan murah kok,” ujarnya. Opik telah membuktikannya sendiri. “Bahkan pakai kamera VGA juga bisa, tidak mesti yang canggih-canggih amat,” tegas Opik.

Melihat kondisi perfilman indie di Indonesia yang masih pasang surut, Opik berpandangan hal ini salah satunya dikarenakan anggap­an membuat film itu mahal. Padahal membuat film tidaklah serumit dan semahal itu.

Opik memberi contoh, bila i­ngin mengkonversi gambar dalam film menjadi kaset, cukup mengeluarkan uang sebesar Rp 1.500. Menurut perhitungannya, dengan Rp 60.000 saja, sebuah film pendek berdurasi 15 hingga 20 menit sudah dapat dihasilkan.

Opik sendiri bukannya berasal dari keluarga kaya yang mampu membiayai hobinya. Keluarganya mengajarkan Opik untuk selalu hidup sederhana dan mandiri. Untuk alat, teknologi, dan segala pengeluaran dalam memproduksi film, Opik selalu meng­upayakan sendiri.

Bersuara dengan Film

Membuat film bagi Opik bukanlah sekadar hobi untuk bersenang-senang. Ada misi yang ingin disampaikannya lewat film. Kehidupan sosial lantas menjadi inspirasi utama Opik dalam merangkai ide cerita. 2008 lalu misalnya, Opik membuat film berjudul ‘Rumah Kita’ yang terilhami dari kehidupan anak-anak di panti asuhan. Tujuannya agar orang melihat bagaimana perjuangan anak-anak panti dalam meraih impian.

Lalu ada film yang disebut Opik sebagai film yang paling berkesan baginya. Film yang baru saja diproduksi ini mengambil setting di sebuah museum. Pilihan ini bukannya tanpa alasan. Opik memandang, saat ini museum mulai ditinggalkan masyarakat. Pemerintah memang telah berupaya membuat gerakan cinta museum, namun hanya sebatas mulut manis belaka.

“Pemerintah heboh bikin gerak­an cinta museum, tapi para pejabat itu sendiri jarang yang pernah ke museum,” kritik Opik. Maka, Opik dan kawan-kawan pun tergerak untuk membuat film ini agar kecintaan pada museum kembali tumbuh.

Lalu, adakah impian bocah kelahiran Kuala Simpang ini? “Ingin membuat tempat makan yang sekaligus jadi tempat pemutaran film biar makin banyak yang mau menonton film indie,” pungkasnya tak bermuluk-muluk.
Tempat / Tanggal Lahir:
Kuala Simpang, 13 Maret 1991

Pendidikan:
SDN 060841 Medan
SMPN 7 Medan
SMA Swasta YPI Amir Hamzah

Prestasi:
•  Sutradara Terbaik versi Film Dokumenter Festival Film Anak 2008
•  Editor Terbaik versi Film Fiksi Festival Film Anak  2009
•  Juara III Skrip Hari Anak Nasional  2009

sumber : http://www.sosokindonesia.com/