Kamis, 10 Januari 2013

Musyawarah Pembentukan Struktural Opique Pictures Periode 2

https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/543881_557831110912899_1232331007_n.jpg

malam tadi (9/1) komunitas movie maker indie asal medan opique pictures mengadakan musyawarah besar di taman gaja mada bilangan jalan gaja madan. rapat ini diadakan terkait dengan selesainya periode kepemimpinan M Ridho Pratama. rapat yang diadakan bertepatan dengan hari lahirnya komunitas ini di hadiri oleh 21 orang anggota resmi komunitas ini.

mulai pada pukul 20.00 wib mereka berkumpul dengan bentuk rapat sederhana. rapat yang langsung dipimpin oleh ridho tersebut memulai dengan laporan pertanggung jawaban selama ridho menjabat sebagai ketua komunitas ini. ridho memaparkan kegiatan apa saja yang dilakukan oleh komuntas ini selama 1 setengah tahun. dan ditambah pula dengan laporan taufik secara administrasi yang telah dijalankan komunitas ini. dan terakhir laporan keuangan yang disampaikan langsung oleh kiki selaku bendahara komunitas ini.

usai laporan pertanggung jawaban, mereka langsung mengadakan pemilihan stuktural dan di tambah pula dengan 2 devisi yang baru di bentuk. taufik selaku presidium dalam rapat pemilihan tersebut menyampaikan apa saja syarat menjadi penanggung jawab kedepannya.

pemilihan pada malam ini berjalan sangat sengit, disebabkan oleh kandidat calon ketua opique pictures lebih banyak dari pemilihan yang lalu. diantaranya adalah : Hary Hidayat Harahap, Echo Dery, M Taufik Pradana, Fadly Franata, M Rizky Zakaria, Sofyan Effendy, Maksal Sinaga. dengan melalui proses panjang hingga akhirnya diadakannya pengumpulan suara hingga akhirnya terpilih pula M Taufik Pradana sebagai katua opique pictures pada periode kedua ini. dalam dalam waktu dekat ini akan diadakannya pelantikan.

barikut nama-nama yang akan menjabat selaku administrasi struktural opique pictures selanjutnya, yaitu :
- Katua : M Taufik Pradana
- Sekretaris : Fitri Wulandari
- Bendahara : M Ridho Pratama
- Humas : Sofyan Effendy
- Kord Litbang : Hary Hidayat Harahap.

Selasa, 08 Januari 2013

Opique Pictures Bikin Film Jadul


                 
                 Sabtu lalu (5/1) opique pictures bersama dengan dharmateta, komfaz prod dan wwb prod memproduksi sebuah film berjudul “Ego”. Film yang di sutradarai oleh windha mitari bernuansa jauh berbeda dengan film-film yang diproduksi terdahulu. Sebab film ini menggunakan semi teaterikal  dan mereka berencana mengubah  warna film tersebut bergaya film jaman dahulu pada era 70an.

                Film ini diadaptasi dari teater yang pernah mendapatkan penghargaan penulis cerita terbaik pada sebuah perlombaan teater di Universitas Negeri Medan. Namun pada saat cerita tersebut di gunakan sebagai skrip film sehingga banyak perombakan yang terjadi. Salah satunya dari judul sendiri. Pada awalnya menggunakan judul “Persengkongkolan Materi” saat melewati masa transisi ke sebuah judul film maka diganti menjadi ”Ego” agar lebih padat dan terkesan lebih menjual dari pada judul awalnya.

                Mulai sejak pagi hari mereka berkumpul bilangan jalan Danau Singkarak kelurahan Sekip Medan sebagai tempat lokasi shooting mereka. Lokasi ini merupakan rumah kakek kandung dari salah satu orang film di ibukota, yaitu Adenin Adlan. Kebetulan kordinator lapangan dalam film ini adalah sepupu sekekak dari  penulis skrip film “ Ummi Aminah”. Yamin yang sebagai tuan rumah dalam lokasi tersebut juga sedang aktif di komunitas film indie Komfaz prod.

                Disela aktifitas make up dan mengganti kostum sesuai dengan kebutuhan skrip, M Taufik Pradana selaku humas Opique pictures mengatakan ; “ Kami sengaja mengajak kawan-kawan dari komunitas film yang masih belia ini guna mereka belajar dan menambah aktifitas positif mereka, daripada mereka hanya mengabiskan waktu sia-sia lebih baik mereka berkarya. Karena kami melihat sendiri sebenarnya mereka banyak sekali potensi yang luar biasa hanya saja mereka kurang memahaminya. Ditambah lagi dengan kurang pahamnya mereka dengan manajemen produksi film indie. Dan  dari project yang kami lakukan bersama ini harapannya mereka dapat mengembangkan ide-ide liar mereka lagi guna menambah citra baik film medan tuk bersaing secara nasional bahkan internasional kedepannya”. Ungkap salah satu pendiri komunitas opique pictures yang dalam waktu dekat  ini akan habis masa jabatannya pada periode pertama ini.

                Film ini akan di sunting oleh pemenang editor terbaik film fiksi FFA 2012 oleh M Ali Akbar di bankel kreatif Opique pictures bersama Bobby Bagaskara dari komunitas Komfaz prod  dan di diawasi oleh Editor terbaik FFA 2009 M Taufik Pradana.

                Hendri Norman dari Matasapifilm mengapresiakan project film “Ego” ini karena di kerjakan oleh banyak pendatang baru dunia film Medan. Bahkan Andi Galung dari Media Identitas menyatakan ini merupakan cara mestimulus untuk memotivasi agar semakin banyaknya penggiat film di kota ini. Sebab dengan adanya kagiatan tersebut maka akan semangkin bergairah dalam produksi film yang lebih liar lagi walau pemerintah Medan sendiri tidak peduli dengan kemajuan industry kreatif ini.



                Film berdurasi pendek ini merupakan salah satu pengisi dari project film omnibus yang telah disepakati oleh ManuProjectPro, Matasapifilm, Opique Pictures, dan media identias pada beberapa bulan yang lalu. Omnibus yang bertema tentang kebohongan menjadi benang merah yang menyatukan alur pada semua film yang di produksi oleh masing-masing rumah produksi ini. Omnibus ini berencana akan mengadakan premiere di bulan februari ini. Dan ini menjadi gebrakan baru di dunia perfilman kota medan. Menjadi sebuah perwujudan komunitas film di Medan dapat bersatu dalam karya.

                Komunitas yang tergabung dalam project ini merupakan beberapa komunitas film yang masih produktif dan terus menjalin komunikasi dalam seni audiovisual. Sebab film merupakan seni yang mencair, yaitu seni yang tidak di bawah tekanan atau sesuatu yang tidak memiliki tingkatan pengalaman atau senioritas.

Kamis, 03 Januari 2013

FFI 2012 keterlaluan

http://static.sctv.co.id/pictures/big-pic-FFI-2012.jpgOh Tuhan... saya baru saja melihat rekaman ulang Acara Mata Najwa episode Risau Film Indonesia. Marah, Malu, Kecewa dan semakin JIJIK tepatnya melihat manusia-manusia bodoh yang terus berkeliaran di negara ini.

Dan bagaimana mungkin org yang tidak mengerti industri film dipercaya untuk jd dewan pengarah. Dan ketika ditanya arahannnya apa saja? Dia mengarahkan untuk piala FFI 2012 dicelup emas!!!!

Mengertikah beliau esensi sebuah piala?

mengertikah dia esensi sebuah penghargaan?

Bahkan beliau mengatakan ketika beberapa tahun lalu para sineas marah dan mengembalikan semua piala citra itu mungkin karena pialanya tidak berlapis emas.

Pasalnya, kalau pialanya berlapis emas. Minimal pialanya bisa dijual. Jadi ngga perlu dikembalikan kepada penyelenggara.

INI BENAR-BENAR PENGHINAAN yang sudah sangat keterlaluan!!!! TOLOL dan BODOH !!!!! TAIIII !!!!!

Begini nih akhir ceritanya ketika semua orang para pelaku industri kreatif berkarya tapi pamrih. Begini nih ketika kita berkaya ngga jujur. Dan begini nih ketika kita berkarya hanya untuk sebuah Piala (baca:sampah!!)

Blom lagi membahas nilai 16 milyar penyelenggaraan FFI 2012.

Wow???? besar banget!!!!! uang segitu banyak bisa jadi berapa film ya kira-kira?

ok. saya ceritakan details dari sudut pandang ketika ikut serta dalam acara FFI.

Pertama film saya masuk menjadi salah satu nominasi kategori pemeran pria terbaik. Walau menurut saya nominasi yang diberikan kepada pemain saya ini sangat ngga masuk akal dan bego! mau tau kenapa?

Pemain saya bernama M.Syihab. dia berperan sebagai Agus di film "cita-citaku setinggi tanah". Saat bermain. M.syihab masih kelas 6 SD.

Nah bayangkan, anak sekecil itu di nominasikan bersama dengan Pemeran senior sekelas Tio Pasukadewo, Donny Damara, Reza Rahardian.

Pertanyaannya? Apakah anak saya terlalu berprestasi sehingga bisa disejajarkan dengan pemeran putra dewasa? Atau Pemeran dewasa itu sudah ngga punya tandingan lawan main lagi? Atau FFI terlalu malas membuat kategori pemeran anak terbaik?

Blom lagi berbicara kekacauan yang terjadi di acara FFI 2012 dimana nominator pemeran putra terbaik saya tidak di undang atau tidak dapat undangan sehingga tidak bisa masuk ke dalam tempat acara yg tersohor itu berlangsung.

Dan akhirnya saya harus menelpon salah satu dewan juri untuk bisa menjemput dia ke depan dan membawa masuk kedalam.

Sementara informasi yang saya dengar bahwa setiap nominator seharusnya mendapatkan tranportasi yang layak dan juga hotel. OK saya beritahu yang sejujur-jujurnya. Anak kamipun tidak mendapatkannya.

Bahkan sayapun dan istri sebagai undangan hanya bisa duduk di bawah stagger di samping panggung tepat lampu-lampu panggung digantung di stagger tempat kami duduk . Saya mengerti mungkin teralu banyak orang terhormat yang diberikan kesempatan duduk di meja-meja terhormat depan panggung.

So, kembali bertanya. 16 Milyar dikemanakan?

adakah laporan pertanggung jawaban untuk ini?

well... FFI 2012 sudah berlalu.

Saya yakin akan ada cibiran "ah.... karena film elo ngga menang aja kan makanya elo berteriak".

Its ok. Paling tidak saya bisa berbicara dan mengatakan dari sudut pandang sayang mengenai FFI 2012.

Kalau boleh saya mengatakan hal yang paling saya sesali tahun ini adalah. Saya menyesal dan sangat menyesal pernah mengirim Film "Cita-Citaku Setinggi Tanah" ke Festivall Film Indonesia 2012.

Dan saya percaya masih ada sineas-sineas yg waras. yang jujur dan mau berkarya tanpa pamrih.

Percaya deh. Film "baik" akan selalu dihargai sampai kapanpun with or without piala.

salam

eugene panji

sutradara

Rabu, 02 Januari 2013

Lajar Tantjap Ala Opique Picture's


Medan (31/12), pada malam pergantian tahun 2012 opique pictures mengadakan pemutaran film Marjinal yang di produksi dengan usaha mereka sendiri. ditengah perkembangan teghnologi mereka melakukan sosialisasi dan promosi film dengan cara Lajar Tantjap (layar tancap). memang terkesan kampungan namun mereka yakini dengan cara demikian akan lebih merakyat film-film karya mereka.

mulai sejak sore hari mereka telah berkumpul guna mempersiapkan pemutaran bilangan jalan S.Parman Gang Soor. dan sejak sore pula antusias masyarakat sangat terasa seakan tak sabar menunggu pemutaran film di penghujung akhir tahun 2012. bahkan beberapa warga turut sumbangsih agar acara tersebut berjalan dengan apa yang di harapkan.

diselah-selah kesibukan humas opique pictures menyatakan, "diadakannya Lajar Tantjap ini seakan mengulang sejarah perfilman indonesia. sebab awal mula perfilman indonesia dengan gaya seperti ini. termasuk juga di kota medan ini sendiri. dan saya merasakan suasana layar tancap ini terakhir kali pada saat usia 4 tahun sewaktu masih tinggal di kuala simpang (aceh tamiang)." ungkap opiq pasaribu.

pemutaran trailer film Marjinal sebagai penanda acara akan dimulai, Ridho Pratama selaku sutradara film tersebut juga membuka acara di depan ratusan pasang mata, dan disambut meriah oleh warga gang soor. beberapa rumah tangga mengeluarkan kursi dan tikarnya sendiri agar nyaman menonton film tersebut seperti biasanya pemutaran ala layar tancap. dan juga para penonton membawa makanan mereka sendiri dari rumah.

pemutaran ini juga di hadiri beberapa komunitas film medan, yaitu Komfaz Production dan Wale Wale Bhee Production sambil ditemani oleh semangkok pulut durian sumbangsih dari warga.

"kami sangat berterimakasih kepada warga gang soor yang sudah menikmati film kami dengan kondusif dan juga berterimakasih atas bantuannya semua hingga film ini dapat terselesaikan. mungkin dulu saat shooting di kawasan gang soor ini kami ada khilaf dan salah kami mohon maaf dan juga mengaharapkan dukuangannya agar kami dapat berkarya lebih baik lagi kedepannya." ungkapan Ridho pada akir pemuran film tersebut. dan beberapa letupan kembang api sebagai tanda barakhirnya pula acara layar tancap tersebut.

Effendy (64) salah seorang tokoh kampung tersebut menyatakan, "secara keseluruhan film ini bagus, para pemain juga membawa perannya cukup baik dan terkesen natural. hanya saja filmnya kurang cahaya dan juga tuk adegan di jalan suara pemainnya kurang terdengar karena suara kendaraan menutupi sehingga kurang jelas di dengar."

Selasa, 01 Januari 2013

Sejarah Film Indonesia

Periode 1900 - 1942


Poster film Loetoeng Kasaroeng tahun 1926.
Era awal perfilman Indonesia ini diawali dengan berdirinya bioskop pertama di Indonesia pada 5 Desember 1900 di daerah Tanah Abang, Batavia dengan nama Gambar Idoep yang menayangkan berbagai film bisu.
Film pertama yang dibuat pertama kalinya di Indonesia adalah film bisu tahun 1926 yang berjudul Loetoeng Kasaroeng dan dibuat oleh sutradara Belanda G. Kruger dan L. Heuveldorp. Saat film ini dibuat dan dirilis, negara Indonesia belum ada dan masih merupakan Hindia Belanda, wilayah jajahan Kerajaan Belanda. Film ini dibuat dengan didukung oleh aktor lokal oleh Perusahaan Film Jawa NV di Bandung dan muncul pertama kalinya pada tanggal 31 Desember, 1926 di teater Elite and Majestic, Bandung.

Setelah sutradara Belanda memproduksi film lokal, berikutnya datang Wong bersaudara yang hijrah dari industri film Shanghai. Awalnya hanya Nelson Wong yang datang dan menyutradarai Lily van Java (1928) pada perusahaan South Sea Film Co. Kemudian kedua adiknya Joshua dan Otniel Wong menyusul dan mendirikan perusahaan Halimoen Film.

Sejak tahun 1931, pembuat film lokal mulai membuat film bicara. Percobaan pertama antara lain dilakukan oleh The Teng Chun dalam film perdananya Bunga Roos dari Tjikembang (1931) akan tetapi hasilnya amat buruk. Beberapa film yang lain pada saat itu antara lain film bicara pertama yang dibuat Halimoen Film yaitu Indonesie Malaise (1931).

Pada awal tahun 1934, Albert Balink, seorang wartawan Belanda yang tidak pernah terjun ke dunia film dan hanya mempelajari film lewat bacaan-bacaan, mengajak Wong Bersaudara untuk membuat film Pareh dan mendatangkan tokoh film dokumenter Belanda, Manus Franken, untuk membantu pembuatan film tersebut. Oleh karena latar belakang Franken yang sering membuat film dokumenter, maka banyak adegan dari film Pareh menampilkan keindahan alam Hindia Belanda. Film seperti ini rupanya tidak mempunyai daya tarik buat penonton film lokal karena dalam kesehariannya mereka sudah sering melihat gambar-gambar tersebut. Balink tidak menyerah dan kembali membuat perusahaan film ANIF (Gedung perusahaan film ANIF kini menjadi gedung PFN, terletak di kawasan Jatinegara) dengan dibantu oleh Wong bersaudara dan seorang wartawan pribumi yang bernama Saeroen. Akhirnya mereka memproduksi membuat film Terang Boelan (1934) yang berhasil menjadi film cerita lokal pertama yang mendapat sambutan yang luas dari kalangan penonton kelas bawah.

Periode 1942 - 1949

Pada masa ini, produksi film di Indonesia dijadikan sebagai alat propaganda politik Jepang. Pemutaran fil di bioskop hanya dibatasi untuk penampilan film -film propaganda Jepang dan film-film Indonesia yang sudah ada sebelumnya, ehingga bisa dikatakan bahwa era ini bisa disebut sebagai era surutnya prodkusi film nasional.

Pada 1942 saja, Nippon Eigha Sha, perusahaan film Jepang yang beroperasi di Indonesia, hanya dapat memproduksi 3 film yaitu Pulo Inten, Bunga Semboja dan 1001 Malam.

Lenyapnya usaha swasta di bidang film dan sedikitnya produksi yang dihasilkan oleh studio yang dipimpin oleh Jepang dengan sendirinya mempersempit ruang gerak dan kesempatan hidup para artis dan karyawan film dan pembentukan bintang-bintang baru hampir tidak ada. Namun mereka yang sudah dilahirkan sebagai artis tidaklah dapat begitu saja meninggalkan profesinya. Satu-satunya jalan keluar untuk dapat terus mengembangkan dan memelihara bakat serta mempertahankan hidup adalah naik panggung sandiwara. Beberapa rombongan sandiwara profesional dari zaman itu antara lain adalah Bintang Surabaya, Pancawarna dan Cahaya Timur di Pulau Jawa. Selain itu sebuah kumpulan sandiwara amatir Maya didirikan, dimana didalamnya bernaung beberapa seniman-seniwati terpelajar dibawah pimpinan Usmar Ismail yang kelak menjadi Bapak Perfilman Nasional.

Periode 1950 - 1962

Hari Film Nasional diperingati oleh insan perfilman Indonesia setiap tanggal 30 Maret karena pada tepatnya tanggal 30 Maret 1950 adalah hari pertama pengambilan gambar film Darah & Doa atau Long March of Siliwangi yang disutradarai oleh Usmar Ismail. Hal ini disebabkana karena film ini dinilai sebagai film lokal pertama yang bercirikan Indonesia. Selain itu film ini juga merupakan fil pertama yang benar-benar disutradarai oleh orang Indonesia asli dan juga diproduksi oleh perusahaan film milik orang Indonesia asli yang bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) dimana Usmar Ismail tercatat juga sebagai pendirinya.

Selain itu pada tahun 1951 diresmikan pula Metropole, bioskop termegah dan terbesar pada saat itu. Pada masa ini jumlah bioskop meningkat pesat dan sebagian besar dimiliki oleh kalangan non pribumi. Pada tahun 1955 terbentuklah Persatuan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia dan Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GAPEBI) yang akhirnya melebur menjadi Gabungan Bioskop Seluruh Indonesia (GABSI).

Pada masa itu selain PFN yang dimiliki oleh negara, terdapat dua perusahaan perfilman terbesar di Indonesia, yaitu Perfini dan Persari (dipimpin oleh Djamaluddin Malik.

Periode 1962 - 1965

Era ini ditandai dengan beberapa kejadian penting terutama menyangkut aspek politis, seperti aksi pengganyangan film-film yang disinyalir sebagai film yang menjadi agen imperialisme Amerika Serikat, pemboikotan, pencopotan reklame, hingga pembakaran gedung bioskop. Saat itu Jumlah bioskop mengalami penurunan sangat drastis akibat gejolak politik. Jika pada tahun 1964 terdapat 700 bioskop, pada tahun berikutnya, yakni tahun 1965 hanya tinggal tersisa 350 bioskop.

Periode 1965 - 1970

Era ini dipengaruhi oleh gejolak politik yang diakibatkan oleh peristiwa G30S PKI yang membuat pengusaha bioskop mengalami dilema karena mekanisme peredaran film rusak akibat adanya gerakan anti imperialisme, sedangkan produksi film nasional masih sedikit sehingga pasokan untuk bioskop tidak mencukupi. Saat itu inflasi yang sangat tinggi melumpuhkan industri film. Kesulitan ini ditambah dengan kebijakan pemerintah mengadakan sanering pada tahun 1966 yang menyebabkan inflasi besar-besaran dan melumpuhkan daya beli masyarakat. Pada akhir era ini perfilman Indonesia cukup terbantu dengan membanjirnya film impor sehingga turut memulihkan bisnis perbioskopan dan juga meningkatkan animo masyarakat untuk menonton yang pada akhirnya meningkatkan jumlah penonton.

Periode 1970 - 1991

Pada masa ini teknologi pembuatan film dan era perbioskopan mengalami kemajuan, meski di satu sisi juga mengalami persaingan dengan televisi (TVRI). Pada tahun 1978 didirikan Sinepleks Jakarta Theater oleh pengusaha Indonesia, Sudwikatmono menyusul dibangunnya Studio 21 pada tahun 1987. Akibat munculnya raksasa bioskop bermodal besar itu mengakibatkan terjadinya monopoli dan berimplikasi terhadap timbulnya krisis bagi bioskop - bioskop kecil dikarenakan jumlah penonton diserap secara besar-besaran oleh bioskop besar. Pada masa ini juga muncul fenomena pembajakan video tape.

Periode 1991 - 1998

Di periode ini perfilman Indonesia bisa dikatakan mengalami mati suri dan hanya mampu memproduksi 2-3 film tiap tahun. Selain itu film-film Indonesia didominasi oleh film-film bertema seks yang meresahkan masyarakat. Kematian industri film ini juga ditunjang pesatnya perkembangan televisi swasta, serta munculnya teknologi VCD, LD dan DVD yang menjadi pesaing baru.

Bertepatan dengan era ini lahir pula UU No 8 Tahun 1992 tentang Perfilman yang mengatur peniadaan kewajiban izin produksi yang turut menyumbang surutnya produksi film. Kewajiban yang masih harus dilakukan hanyalah pendaftaran produksi yang bahkan prosesnya bisa dilakukan melalui surat-menyurat. Bahkan sejak Departemen Penerangan dibubarkan, nyaris tak ada lagi otoritas yang mengurusi dan bertanggungjawab terhadap proses produksi film nasional. Dampaknya ternyata kurang menguntungkan sehingga para pembuat film tidak lagi mendaftarkan filmnya sebelum mereka berproduksi sehingga mempersulit untuk memperoleh data produksi film Indonesia - baik yang utama maupun indie - secara akurat.

Pada era ini muncul juga buku mengenai perfilman Indonesia yaitu 'Layar Perak: 90 Tahun Bioskop di Indonesia yang terbit pada tahun 1992 dan mengupas tahapan perfilman Indonesia hanya sampai periode 1991.

Periode 1998 - sekarang

Era ini dianggap sebagai era kebangkitan perfilman nasional. Kebangkitan ini ditunjukkan dari kondisi perfilman Indonesia yang mengalami pertumbuhan jumlah produksi yang menggembirakan. Film pertama yang muncul di era ini adalah Cinta dalam Sepotong Roti karya Garin Nugroho. Setelah itu muncul Mira Lesmana dengan Petualangan Sherina dan Rudi Soedjarwo dengan Ada Apa dengan Cinta? (AADC) yang sukses di pasaran. Hingga saat ini jumlah produksi film Indonesia terus meningkat pesat meski masih didominasi oleh tema-tema film horor dan film remaja. Pada tahun 2005, hadir Blitzmegaplex di dua kota besar di Indonesia, Jakarta dan Bandung. Kehadiran bioskop dengan konsep baru ini mengakhiri dominasi Cineplex yang dimiliki oleh kelompok 21 yang selama bertahun-tahun mendominasi penayangan film.

sumber : http://id.wikipedia.org/