malam tadi (9/1) komunitas movie maker indie asal medan opique pictures mengadakan musyawarah besar di taman gaja mada bilangan jalan gaja madan. rapat ini diadakan terkait dengan selesainya periode kepemimpinan M Ridho Pratama. rapat yang diadakan bertepatan dengan hari lahirnya komunitas ini di hadiri oleh 21 orang anggota resmi komunitas ini.
mulai pada pukul 20.00 wib mereka berkumpul dengan bentuk rapat sederhana. rapat yang langsung dipimpin oleh ridho tersebut memulai dengan laporan pertanggung jawaban selama ridho menjabat sebagai ketua komunitas ini. ridho memaparkan kegiatan apa saja yang dilakukan oleh komuntas ini selama 1 setengah tahun. dan ditambah pula dengan laporan taufik secara administrasi yang telah dijalankan komunitas ini. dan terakhir laporan keuangan yang disampaikan langsung oleh kiki selaku bendahara komunitas ini.
usai laporan pertanggung jawaban, mereka langsung mengadakan pemilihan stuktural dan di tambah pula dengan 2 devisi yang baru di bentuk. taufik selaku presidium dalam rapat pemilihan tersebut menyampaikan apa saja syarat menjadi penanggung jawab kedepannya.
pemilihan pada malam ini berjalan sangat sengit, disebabkan oleh kandidat calon ketua opique pictures lebih banyak dari pemilihan yang lalu. diantaranya adalah : Hary Hidayat Harahap, Echo Dery, M Taufik Pradana, Fadly Franata, M Rizky Zakaria, Sofyan Effendy, Maksal Sinaga. dengan melalui proses panjang hingga akhirnya diadakannya pengumpulan suara hingga akhirnya terpilih pula M Taufik Pradana sebagai katua opique pictures pada periode kedua ini. dalam dalam waktu dekat ini akan diadakannya pelantikan.
barikut nama-nama yang akan menjabat selaku administrasi struktural opique pictures selanjutnya, yaitu : - Katua : M Taufik Pradana - Sekretaris : Fitri Wulandari - Bendahara : M Ridho Pratama - Humas : Sofyan Effendy - Kord Litbang : Hary Hidayat Harahap.
Sabtu lalu (5/1) opique pictures
bersama dengan dharmateta, komfaz prod dan wwb prod memproduksi sebuah film
berjudul “Ego”. Film yang di sutradarai oleh windha mitari bernuansa jauh
berbeda dengan film-film yang diproduksi terdahulu. Sebab film ini menggunakan
semi teaterikaldan mereka berencana
mengubahwarna film tersebut bergaya
film jaman dahulu pada era 70an.
Film ini diadaptasi dari teater
yang pernah mendapatkan penghargaan penulis cerita terbaik pada sebuah
perlombaan teater di Universitas Negeri Medan. Namun pada saat cerita tersebut
di gunakan sebagai skrip film sehingga banyak perombakan yang terjadi. Salah
satunya dari judul sendiri. Pada awalnya menggunakan judul “Persengkongkolan
Materi” saat melewati masa transisi ke sebuah judul film maka diganti menjadi ”Ego”
agar lebih padat dan terkesan lebih menjual dari pada judul awalnya.
Mulai sejak pagi hari mereka
berkumpul bilangan jalan Danau Singkarak kelurahan Sekip Medan sebagai tempat
lokasi shooting mereka. Lokasi ini merupakan rumah kakek kandung dari salah
satu orang film di ibukota, yaitu Adenin Adlan. Kebetulan kordinator lapangan
dalam film ini adalah sepupu sekekak daripenulis skrip film “ Ummi Aminah”. Yamin yang sebagai tuan rumah dalam
lokasi tersebut juga sedang aktif di komunitas film indie Komfaz prod.
Disela aktifitas make up dan
mengganti kostum sesuai dengan kebutuhan skrip, M Taufik Pradana selaku humas
Opique pictures mengatakan ; “ Kami sengaja mengajak kawan-kawan dari komunitas
film yang masih belia ini guna mereka belajar dan menambah aktifitas positif
mereka, daripada mereka hanya mengabiskan waktu sia-sia lebih baik mereka
berkarya. Karena kami melihat sendiri sebenarnya mereka banyak sekali potensi
yang luar biasa hanya saja mereka kurang memahaminya. Ditambah lagi dengan
kurang pahamnya mereka dengan manajemen produksi film indie. Dandari project yang kami lakukan bersama ini
harapannya mereka dapat mengembangkan ide-ide liar mereka lagi guna menambah
citra baik film medan tuk bersaing secara nasional bahkan internasional
kedepannya”. Ungkap salah satu pendiri komunitas opique pictures yang dalam
waktu dekatini akan habis masa
jabatannya pada periode pertama ini.
Film ini akan di sunting oleh
pemenang editor terbaik film fiksi FFA 2012 oleh M Ali Akbar di bankel kreatif
Opique pictures bersama Bobby Bagaskara dari komunitas Komfaz proddan di diawasi oleh Editor terbaik FFA 2009 M
Taufik Pradana.
Hendri Norman dari Matasapifilm
mengapresiakan project film “Ego” ini karena di kerjakan oleh banyak pendatang
baru dunia film Medan. Bahkan Andi Galung dari Media Identitas menyatakan ini
merupakan cara mestimulus untuk memotivasi agar semakin banyaknya penggiat film
di kota ini. Sebab dengan adanya kagiatan tersebut maka akan semangkin
bergairah dalam produksi film yang lebih liar lagi walau pemerintah Medan
sendiri tidak peduli dengan kemajuan industry kreatif ini.
Film berdurasi pendek ini
merupakan salah satu pengisi dari project film omnibus yang telah disepakati
oleh ManuProjectPro, Matasapifilm, Opique Pictures, dan media identias pada beberapa bulan yang lalu. Omnibus yang bertema tentang kebohongan
menjadi benang merah yang menyatukan alur pada semua film yang di produksi oleh
masing-masing rumah produksi ini. Omnibus ini berencana akan mengadakan
premiere di bulan februari ini. Dan ini menjadi gebrakan baru di dunia
perfilman kota medan. Menjadi sebuah perwujudan komunitas film di Medan dapat
bersatu dalam karya.
Komunitas yang tergabung dalam
project ini merupakan beberapa komunitas film yang masih produktif dan terus
menjalin komunikasi dalam seni audiovisual. Sebab film merupakan seni yang
mencair, yaitu seni yang tidak di bawah tekanan atau sesuatu yang tidak
memiliki tingkatan pengalaman atau senioritas.
Oh
Tuhan... saya baru saja melihat rekaman ulang Acara Mata Najwa episode
Risau Film Indonesia. Marah, Malu, Kecewa dan semakin JIJIK tepatnya
melihat manusia-manusia bodoh yang terus berkeliaran di negara ini.
Dan bagaimana mungkin org yang tidak mengerti industri film dipercaya
untuk jd dewan pengarah. Dan ketika ditanya arahannnya apa saja? Dia
mengarahkan untuk piala FFI 2012 dicelup emas!!!!
Mengertikah beliau esensi sebuah piala?
mengertikah dia esensi sebuah penghargaan?
Bahkan beliau mengatakan ketika beberapa tahun lalu para sineas marah
dan mengembalikan semua piala citra itu mungkin karena pialanya tidak
berlapis emas.
Pasalnya, kalau pialanya berlapis emas. Minimal pialanya bisa dijual. Jadi ngga perlu dikembalikan kepada penyelenggara.
INI BENAR-BENAR PENGHINAAN yang sudah sangat keterlaluan!!!! TOLOL dan BODOH !!!!! TAIIII !!!!!
Begini nih akhir ceritanya ketika semua orang para pelaku industri
kreatif berkarya tapi pamrih. Begini nih ketika kita berkaya ngga jujur.
Dan begini nih ketika kita berkarya hanya untuk sebuah Piala
(baca:sampah!!)
Blom lagi membahas nilai 16 milyar penyelenggaraan FFI 2012.
Wow???? besar banget!!!!! uang segitu banyak bisa jadi berapa film ya kira-kira?
ok. saya ceritakan details dari sudut pandang ketika ikut serta dalam acara FFI.
Pertama film saya masuk menjadi salah satu nominasi kategori pemeran
pria terbaik. Walau menurut saya nominasi yang diberikan kepada pemain
saya ini sangat ngga masuk akal dan bego! mau tau kenapa?
Pemain saya bernama M.Syihab. dia berperan sebagai Agus di film
"cita-citaku setinggi tanah". Saat bermain. M.syihab masih kelas 6 SD.
Nah bayangkan, anak sekecil itu di nominasikan bersama dengan Pemeran
senior sekelas Tio Pasukadewo, Donny Damara, Reza Rahardian.
Pertanyaannya? Apakah anak saya terlalu berprestasi sehingga bisa
disejajarkan dengan pemeran putra dewasa? Atau Pemeran dewasa itu sudah
ngga punya tandingan lawan main lagi? Atau FFI terlalu malas membuat
kategori pemeran anak terbaik?
Blom lagi berbicara kekacauan
yang terjadi di acara FFI 2012 dimana nominator pemeran putra terbaik
saya tidak di undang atau tidak dapat undangan sehingga tidak bisa masuk
ke dalam tempat acara yg tersohor itu berlangsung.
Dan akhirnya saya harus menelpon salah satu dewan juri untuk bisa menjemput dia ke depan dan membawa masuk kedalam.
Sementara informasi yang saya dengar bahwa setiap nominator seharusnya
mendapatkan tranportasi yang layak dan juga hotel. OK saya beritahu yang
sejujur-jujurnya. Anak kamipun tidak mendapatkannya.
Bahkan
sayapun dan istri sebagai undangan hanya bisa duduk di bawah stagger di
samping panggung tepat lampu-lampu panggung digantung di stagger tempat
kami duduk . Saya mengerti mungkin teralu banyak orang terhormat yang
diberikan kesempatan duduk di meja-meja terhormat depan panggung.
So, kembali bertanya. 16 Milyar dikemanakan?
adakah laporan pertanggung jawaban untuk ini?
well... FFI 2012 sudah berlalu.
Saya yakin akan ada cibiran "ah.... karena film elo ngga menang aja kan makanya elo berteriak".
Its ok. Paling tidak saya bisa berbicara dan mengatakan dari sudut pandang sayang mengenai FFI 2012.
Kalau boleh saya mengatakan hal yang paling saya sesali tahun ini
adalah. Saya menyesal dan sangat menyesal pernah mengirim Film
"Cita-Citaku Setinggi Tanah" ke Festivall Film Indonesia 2012.
Dan saya percaya masih ada sineas-sineas yg waras. yang jujur dan mau berkarya tanpa pamrih.
Percaya deh. Film "baik" akan selalu dihargai sampai kapanpun with or without piala.
Medan (31/12), pada malam pergantian tahun 2012 opique pictures mengadakan pemutaran film Marjinal yang di produksi dengan usaha mereka sendiri. ditengah perkembangan teghnologi mereka melakukan sosialisasi dan promosi film dengan cara Lajar Tantjap (layar tancap). memang terkesan kampungan namun mereka yakini dengan cara demikian akan lebih merakyat film-film karya mereka.
mulai sejak sore hari mereka telah berkumpul guna mempersiapkan pemutaran bilangan jalan S.Parman Gang Soor. dan sejak sore pula antusias masyarakat sangat terasa seakan tak sabar menunggu pemutaran film di penghujung akhir tahun 2012. bahkan beberapa warga turut sumbangsih agar acara tersebut berjalan dengan apa yang di harapkan.
diselah-selah kesibukan humas opique pictures menyatakan, "diadakannya Lajar Tantjap ini seakan mengulang sejarah perfilman indonesia. sebab awal mula perfilman indonesia dengan gaya seperti ini. termasuk juga di kota medan ini sendiri. dan saya merasakan suasana layar tancap ini terakhir kali pada saat usia 4 tahun sewaktu masih tinggal di kuala simpang (aceh tamiang)." ungkap opiq pasaribu.
pemutaran trailer film Marjinal sebagai penanda acara akan dimulai, Ridho Pratama selaku sutradara film tersebut juga membuka acara di depan ratusan pasang mata, dan disambut meriah oleh warga gang soor. beberapa rumah tangga mengeluarkan kursi dan tikarnya sendiri agar nyaman menonton film tersebut seperti biasanya pemutaran ala layar tancap. dan juga para penonton membawa makanan mereka sendiri dari rumah.
pemutaran ini juga di hadiri beberapa komunitas film medan, yaitu Komfaz Production dan Wale Wale Bhee Production sambil ditemani oleh semangkok pulut durian sumbangsih dari warga.
"kami sangat berterimakasih kepada warga gang soor yang sudah menikmati film kami dengan kondusif dan juga berterimakasih atas bantuannya semua hingga film ini dapat terselesaikan. mungkin dulu saat shooting di kawasan gang soor ini kami ada khilaf dan salah kami mohon maaf dan juga mengaharapkan dukuangannya agar kami dapat berkarya lebih baik lagi kedepannya." ungkapan Ridho pada akir pemuran film tersebut. dan beberapa letupan kembang api sebagai tanda barakhirnya pula acara layar tancap tersebut.
Effendy (64) salah seorang tokoh kampung tersebut menyatakan, "secara keseluruhan film ini bagus, para pemain juga membawa perannya cukup baik dan terkesen natural. hanya saja filmnya kurang cahaya dan juga tuk adegan di jalan suara pemainnya kurang terdengar karena suara kendaraan menutupi sehingga kurang jelas di dengar."
Setelah sutradara Belanda memproduksi film lokal, berikutnya datang Wong bersaudara yang hijrah dari industri film Shanghai. Awalnya hanya Nelson Wong yang datang dan menyutradarai Lily van Java (1928)
pada perusahaan South Sea Film Co. Kemudian kedua adiknya Joshua dan
Otniel Wong menyusul dan mendirikan perusahaan Halimoen Film.
Sejak tahun 1931,
pembuat film lokal mulai membuat film bicara. Percobaan pertama antara
lain dilakukan oleh The Teng Chun dalam film perdananya Bunga Roos dari Tjikembang (1931)
akan tetapi hasilnya amat buruk. Beberapa film yang lain pada saat itu
antara lain film bicara pertama yang dibuat Halimoen Film yaitu Indonesie Malaise (1931).
Pada awal tahun 1934, Albert Balink,
seorang wartawan Belanda yang tidak pernah terjun ke dunia film dan
hanya mempelajari film lewat bacaan-bacaan, mengajak Wong Bersaudara
untuk membuat film Pareh dan mendatangkan tokoh film dokumenter Belanda, Manus Franken,
untuk membantu pembuatan film tersebut. Oleh karena latar belakang
Franken yang sering membuat film dokumenter, maka banyak adegan dari
film Pareh menampilkan keindahan alam Hindia Belanda. Film seperti ini
rupanya tidak mempunyai daya tarik buat penonton film lokal karena dalam
kesehariannya mereka sudah sering melihat gambar-gambar tersebut.
Balink tidak menyerah dan kembali membuat perusahaan film ANIF (Gedung perusahaan film ANIF kini menjadi gedung PFN, terletak di kawasan Jatinegara) dengan dibantu oleh Wong bersaudara dan seorang wartawan pribumi yang bernama Saeroen. Akhirnya mereka memproduksi membuat film Terang Boelan (1934) yang berhasil menjadi film cerita lokal pertama yang mendapat sambutan yang luas dari kalangan penonton kelas bawah.
Periode 1942 - 1949
Pada masa ini, produksi film di Indonesia dijadikan sebagai alat propaganda politik Jepang.
Pemutaran fil di bioskop hanya dibatasi untuk penampilan film -film
propaganda Jepang dan film-film Indonesia yang sudah ada sebelumnya,
ehingga bisa dikatakan bahwa era ini bisa disebut sebagai era surutnya
prodkusi film nasional.
Pada 1942 saja, Nippon Eigha Sha, perusahaan film Jepang yang beroperasi di Indonesia, hanya dapat memproduksi 3 film yaitu Pulo Inten, Bunga Semboja dan 1001 Malam.
Lenyapnya usaha swasta di bidang film dan sedikitnya produksi yang
dihasilkan oleh studio yang dipimpin oleh Jepang dengan sendirinya
mempersempit ruang gerak dan kesempatan hidup para artis dan karyawan
film dan pembentukan bintang-bintang baru hampir tidak ada. Namun mereka
yang sudah dilahirkan sebagai artis
tidaklah dapat begitu saja meninggalkan profesinya. Satu-satunya jalan
keluar untuk dapat terus mengembangkan dan memelihara bakat serta
mempertahankan hidup adalah naik panggung sandiwara. Beberapa rombongan sandiwara profesional dari zaman itu antara lain adalah Bintang Surabaya, Pancawarna dan Cahaya Timur di Pulau Jawa. Selain itu sebuah kumpulan sandiwara amatir Maya didirikan, dimana didalamnya bernaung beberapa seniman-seniwati terpelajar dibawah pimpinan Usmar Ismail yang kelak menjadi Bapak Perfilman Nasional.
Periode 1950 - 1962
Hari Film Nasional diperingati oleh insan perfilman Indonesia setiap tanggal 30 Maret karena pada tepatnya tanggal 30 Maret1950 adalah hari pertama pengambilan gambar film Darah & Doa atau Long March of Siliwangi yang disutradarai oleh Usmar Ismail. Hal ini disebabkana karena film ini dinilai sebagai film lokal pertama yang bercirikan Indonesia.
Selain itu film ini juga merupakan fil pertama yang benar-benar
disutradarai oleh orang Indonesia asli dan juga diproduksi oleh
perusahaan film milik orang Indonesia asli yang bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) dimana Usmar Ismail tercatat juga sebagai pendirinya.
Selain itu pada tahun 1951 diresmikan pula Metropole,
bioskop termegah dan terbesar pada saat itu. Pada masa ini jumlah
bioskop meningkat pesat dan sebagian besar dimiliki oleh kalangan non
pribumi. Pada tahun 1955
terbentuklah Persatuan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia dan Gabungan
Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GAPEBI) yang akhirnya melebur
menjadi Gabungan Bioskop Seluruh Indonesia (GABSI).
Pada masa itu selain PFN yang dimiliki oleh negara, terdapat dua perusahaan perfilman terbesar di Indonesia, yaitu Perfini dan Persari (dipimpin oleh Djamaluddin Malik.
Periode 1962 - 1965
Era ini ditandai dengan beberapa kejadian penting terutama menyangkut
aspek politis, seperti aksi pengganyangan film-film yang disinyalir
sebagai film yang menjadi agen imperialisme Amerika Serikat,
pemboikotan, pencopotan reklame, hingga pembakaran gedung bioskop. Saat
itu Jumlah bioskop mengalami penurunan sangat drastis akibat gejolak
politik. Jika pada tahun 1964 terdapat 700 bioskop, pada tahun berikutnya, yakni tahun 1965 hanya tinggal tersisa 350 bioskop.
Periode 1965 - 1970
Era ini dipengaruhi oleh gejolak politik yang diakibatkan oleh peristiwa G30SPKI
yang membuat pengusaha bioskop mengalami dilema karena mekanisme
peredaran film rusak akibat adanya gerakan anti imperialisme, sedangkan
produksi film nasional masih sedikit sehingga pasokan untuk bioskop
tidak mencukupi. Saat itu inflasi yang sangat tinggi melumpuhkan industri film. Kesulitan ini ditambah dengan kebijakan pemerintah mengadakan sanering pada tahun 1966
yang menyebabkan inflasi besar-besaran dan melumpuhkan daya beli
masyarakat. Pada akhir era ini perfilman Indonesia cukup terbantu dengan
membanjirnya film impor sehingga turut memulihkan bisnis perbioskopan
dan juga meningkatkan animo masyarakat untuk menonton yang pada akhirnya
meningkatkan jumlah penonton.
Periode 1970 - 1991
Pada masa ini teknologi pembuatan film dan era perbioskopan mengalami kemajuan, meski di satu sisi juga mengalami persaingan dengan televisi (TVRI). Pada tahun 1978 didirikan Sinepleks Jakarta Theater oleh pengusaha Indonesia, Sudwikatmono menyusul dibangunnya Studio 21 pada tahun 1987.
Akibat munculnya raksasa bioskop bermodal besar itu mengakibatkan
terjadinya monopoli dan berimplikasi terhadap timbulnya krisis bagi
bioskop - bioskop kecil dikarenakan jumlah penonton diserap secara
besar-besaran oleh bioskop besar. Pada masa ini juga muncul fenomena
pembajakan video tape.
Periode 1991 - 1998
Di periode ini perfilman Indonesia bisa dikatakan mengalami mati suri dan hanya mampu memproduksi 2-3 film tiap tahun. Selain itu film-film Indonesia didominasi oleh film-film bertema seks
yang meresahkan masyarakat. Kematian industri film ini juga ditunjang
pesatnya perkembangan televisi swasta, serta munculnya teknologi VCD, LD dan DVD yang menjadi pesaing baru.
Bertepatan dengan era ini lahir pula UU No 8 Tahun 1992 tentang
Perfilman yang mengatur peniadaan kewajiban izin produksi yang turut
menyumbang surutnya produksi film. Kewajiban yang masih harus dilakukan
hanyalah pendaftaran produksi yang bahkan prosesnya bisa dilakukan
melalui surat-menyurat. Bahkan sejak Departemen Penerangan
dibubarkan, nyaris tak ada lagi otoritas yang mengurusi dan
bertanggungjawab terhadap proses produksi film nasional. Dampaknya
ternyata kurang menguntungkan sehingga para pembuat film tidak lagi
mendaftarkan filmnya sebelum mereka berproduksi sehingga mempersulit
untuk memperoleh data produksi film Indonesia - baik yang utama maupun indie - secara akurat.
Pada era ini muncul juga buku mengenai perfilman Indonesia yaitu 'Layar Perak: 90 Tahun Bioskop di Indonesia yang terbit pada tahun 1992 dan mengupas tahapan perfilman Indonesia hanya sampai periode 1991.
Periode 1998 - sekarang
Era ini dianggap sebagai era kebangkitan perfilman nasional.
Kebangkitan ini ditunjukkan dari kondisi perfilman Indonesia yang
mengalami pertumbuhan jumlah produksi yang menggembirakan. Film pertama
yang muncul di era ini adalah Cinta dalam Sepotong Roti karya Garin Nugroho. Setelah itu muncul Mira Lesmana dengan Petualangan Sherina dan Rudi Soedjarwo dengan Ada Apa dengan Cinta?
(AADC) yang sukses di pasaran. Hingga saat ini jumlah produksi film
Indonesia terus meningkat pesat meski masih didominasi oleh tema-tema
film horor dan film remaja. Pada tahun 2005, hadir Blitzmegaplex di dua kota besar di Indonesia, Jakarta dan Bandung.
Kehadiran bioskop dengan konsep baru ini mengakhiri dominasi Cineplex
yang dimiliki oleh kelompok 21 yang selama bertahun-tahun mendominasi
penayangan film.