Selasa, 22 November 2011

UN Bagai Hantu yang Menakuti Pelajar

oleh Lembaga Kreatif pada 12 Januari 2010 jam 9:39
Datangi Dinas Pendidikan, IPM Bengklulu Tuntut UN Dihapuskan

Bengkulu – Jalan Soeprapto kemarin (05/ 01) diramaikan teriakan demostran aksi tolak Unas. Sebanyak 15 demostran menjadi perhatian pengguna jalan. Maklum mereka mengusung pamplet bertuliskan “ Tinjau kembali Sisdiknas”, Hentikan Kejahatan terhadap Dunia Pendidikan” dan Unas merupakan hantu menakutkan bagi pelajar”. Ada juga “ Ada apa dengan Unas, Unas = Pembodahan Kolektif”

Mereka tergabung dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Bengkulu. Dalam aksinya mereka menyampaikan bahwa Unas adalah bentuk pelanggaran HAM, untuk itu Unas harus dihapuskan. Kemudian recorvery mental korban Unas, menuntut kepada pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mendesak untuk meninjau kembali system pendidikan nasional.

Sebelumnya mereka berkumpul di Kampus UMB Jalan Bali. Rombongan menuju Masjid Jamik. Kemudian menuju Jalan Soeprapto dan berhenti di Simpang Lima. Disimpang lima mereka mereka melaukan orasi. Orasi kembali dilanjutkan di Diknas Pendidikan Provinsi Bengkulu. Aksi berakhir di depan RRI dengan membacakan pernyataan sikap.

Saat berhenti di Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu, sebanyak 3 orang perwakilan IPM menemui pejabat Diknas. Mereka terdiri dari Ahzul Zulianto Korlap Aksi, Ketua Umum PW IPM Bengkulu Rahmat Yudhi Tofani dan Mulkan Habibi Ketua Advokasi PW IPM Bengkulu.

Perwakilan IPM ini diterima oleh Kabid Pendidikan Menegah (Dikmen) Marjon, M.Pd yang mewakili Diknas Provinsi Bengkulu Drs. Sumardi, MM. Setelah melakukan dialog kurang lebih 20 Menit perwaklilan IPM tersebut kembali membaur dengan rombongan lainnya melaukan orasi.

Demostran IPM minta Unas yang rencananya akan digelar serentak di seluruh Indonesia pada Maret 2010 ini harus dibatalkan, karena tidak sesuai dengan hasil putusan Mahkamah Agung (MA) beberapa waktu lalu. “Putusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak kasasi pemerintah dalam perkara Unas semakin mempertegas penilaian bahwa Unas memang bermasalah dan harus dievaluasi total” teriak Koordinator Lapangan Ahzul Zulianto.

Kemudian disambung Ketua Umum Pimpinan Wilayah IPM Bengkulu Rahmat Yudhi Tofani. Ia mengatakan ,Unas membuat para siswa hanya memfokuskan diri untuk terus belajar, sementara potensi dirinya yang lain tak dikembangkan secara maksimal”. “ Unas belum layak dilaksanakan karena sarana dan prasarananya belum memadai, hingga kualitas guru dan kurikulumnya yang tidak merata di setiap daerah.” Sambung Rahmat.

Unas, merupakan bentuk pelanggaran HAM karena menghilangkan hak anak untuk berkembang dan belajar dengan nyaman serta bebas tanpa tekanan mental psikologis. “ Penyelenggaraan Unas dapat menimbulkan ketidakadilan bagi daerah-daerah di Indonesia yang belum memiliki fasiltas pendidikan yang lengkap katanya.

Berulang kali IPM meneriakkan, mendesak UN dihapuskan dan meminta kepada pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Serta mematuhi Putusan Pengadilan Negri (PN) Jakarta Pusat yang dikuatkan di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan Mahkamah Agung tentang UN. “ Kembalikan Unas kepada pendidiknya masing-masing seperti yang telah diatur oleh Undang-Undang Sisdiknas,” tegas Rahmat.

Dikatakan Rahmat, putusan MA juga mempertegas penilaian bahwa pelaksanaan unas belum merupakan prioritas dalam pembagunan pendidikan Indonesia. Ia mengakui, pada dasarnya Unas memang diperlukan oleh sebuah Negara karena merupakan tolak ukur proses pendidikan nasional.” Tapi diperlukan syarat dasar sebelum Unas dilaksanakan yakni pemenuhan terhadap standar proses pendidikan, seperti sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, kualitas guru, kurikulum dan lainnya.” Ujarnya. (arp)

Beri Empat Jam Untuk Bumi Bernafas


oleh Kartini Zalukhu pada 15 Maret 2010 jam 17:41


Saat ini bumi sedang ganas-ganasnya memamerkan sinarnya. Seakan tidak bersahabat dengan bumi lagi ia terus mengusik makhluk-makhluk yang sedang berkeliaran di bawah sinarnya. Seorang remaja tanpa sadar menyeletuk kepada temannya. “Panas sekali bumi ini, bila buat perusahaan AC yang relatif murah tentu saja kita kaya raya”. . Pernyataan itu masih salah satu contoh pemikiran yang mengambil keuntungan dari dampak negatif yang terjadi. Tidak ada keinginan untuk menguranginya, hanya mengatasi dengan hal yang akan berdampak negatif juga.



Lain cerita dengan dengan sebuah jejaring sosial yang sedang fenomenal, Facebook. Dengan nama grup ‘Gerakan 10.000.000 (10juta) Facebookers Dukung Hari Hening SeDunia’ , yang diusung oleh Tim World Silent Day-Bali mencoba menuntun kita untuk turut menjaga bumi, salah satunya dengan mengikuti Hari Hening Sedunia.


Saya yakin, Hari Hening Sedunia masih kalah tenar dengan Hari Persahabatan Sedunia meski tidak ada literatur kapan pastinya. Apalagi Hari Valentine, tanpa basa-basi mengerti atau tidaknya anak SD pun hafal tanggalnya. Fakta ini cukup membuktikan bahwa kita kurang memberi perhatian kepada Bumi. Sedangkan jika kita tanya apa yang diberi bumi kepada kita, sudah barang tentu kita membutuhkan buku untuk menuliskan semuanya.


Sepertinya benar sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa saat ini kita tidak memerlukan lahan yang terus-menerus digali. Bukan juga memerlukan emas, tetapi kita akan lebih memerlukan air, udara bersih, dan lingkungan yang lebih baik kualitasnya. Dari sudut pandang manapun tidak ada yang bisa mengelak bahwa semua itu adalah kebutuhan pokok kita.


Sebelum menyoroti apa itu World Silent Day, mari kita lirik Falsafah Trihitakarana yaitu salah satu warisan kearifan tradisional Indonesia dari Bali yang mengatur hubungan selaras antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia lain dan manusia dengan alam. Hal ini dapat menjadi dasar untuk pembangunan berkelanjutan. Salah satu implementasi praktis dari Trihitakarana adalah Nyepi atau Hari Hening yang berlangsung selama 24 jam di Bali setiap tahun baru Saka. Pada saat nyepi yaitu 26 maret, akan terlihat pemandangan yang berbeda. Saat itu seluruh pulau Bali akan hening. Bandar udara, pelabuhan laut, terminal bus akan berhenti beroperasi selama 24 jam. Orang tidak akan ada di jalan-jalan, toko, pasar dan rumah makan akan tutup, seluruh pulau akan gelap di malam hari. Hanya rumah sakit dan beberapa kantor polisi yang beroperasi. Wisatawan pun diminta tinggal di dalam hotel mereka. Semua itu sebagai tanda warga Bali sangat menghormati hari Nyepi. Mereka sadar bahwa dampaknya untuk alam yang ujung-ujungnya untuk kita juga.


Terinspirasi dari itulah mengapa Hari Hening Sedunia baik untuk diterapkan. Peringatan rutin Hari Hening Sedunia diyakini berbagai kelompok pencinta lingkungan bisa menyelamatkan kelestarian Planet Bumi, di antaranya mereduksi pengeluaran gas karbon hingga 20.000 ton pada saat itu saja. Tanggal peringatannya adalah 21 Maret 2010 , selama empat jam kita diminta hening dan menghentikan aktivitas yang memicu pencemaran lingkungan, yaitu antara pukul 10.00 dan 14.00. Selebihnya kita boleh beraktivitas lagi . Alasan pemilihan tanggal ini terkait dengan inklinasi matahari terhadap bumi, saat titik kulminasi matahari berada persis 90 derajat terhadap sumbu vertikal pada pukul 12.00 di garis ekuator.


Lalu bagaimana dengan impak sosial, budaya, dan ekonomi yang bisa timbul dari pelaksanaan ajakan ber-hening bersama pada 21 Maret nanti. Saat ini belum punya kajian menyeluruh. Idenya, ini semula berangkat dari kenyataan peringatan Hari Nyepi di Bali, ternyata bisa membuat lingkungan ini lebih bersih dan baik untuk semuanya
Kehilangan nilai ekonomi selama satu hari jauh lebih kecil dibanding biaya yang harus dibayar akibat bencana perubahan iklim, jika tidak memberikan ruang bagi bumi untuk memulihkan kerusakannya.


Pertanyaannya apakah kita sanggup tidak memakai listrik selama empat jam? Apalagi saat ini Apa lagi saat ini banyak sekali benda-benda kita sekarang ini yang tergantung sama listrik, bahan bakar, atau paling nggak ada hubungannya dengan listrik atau sumber daya yang seperti itu. Empat jam tidak melakukan kegiatan yang tidak menghasilkan sampah, bagaimana lagi itu? Bagi anda yang ingin melaksanakan hening pada World Silent Day 21 Maret, tapi tidak sempat karena berbagai alasan, cobalah mengikutinya saat hari lain, yang penting ada niat untuk berpartisipasi. Nah, sebentar lagi Hari Hening Sedunia, apakah kamu salah seorang yang peduli dengan bumi? Atau ikut meramaikan pasar AC? (Kartini Zalukhu)

Jangan Takut Buat Film!// Catatan Kecil Onny Kresnawan Menyambut Bulan Film Nasional di FKIF Sumut

Jangan Takut Buat Film!
Sebuah Catatan Menyambut Hari Film Nasional 30 Maret 2010
OLEH: ONNY KRESNAWAN

Ketika Panitia Bulan Film Nasional Medan yang juga Ketua Forum Komunikasi Insan Film (FKIF) Sumut Haji Amsyal meminta salah satu produksi film saya untuk diputar menyambut Hari Film Nasional di Medan, jujur saya sontak tercengang dan menjawab diujung telpon
“Apakah ini tak berlebihan bang, soalnya masih banyak produksi sineas Medan yang berkualitas, kenapa harus punya saya” Tapi bang Haji cepat menyela jawab “Betul memang banyak tapi sulit mencari film yang sudah diapresiasi secara nasional seperti punya anda” Lantas saya masih ber-argumentasi menimpali “Sebenarnya cukup banyak produksi film teman-teman sineas di medan yang patut dibanggakan, hanya saja mungkin mereka enggan “uji karya” ke perbagai kompetisi film yang dilakukan ditingkatan nasional” Dan secepat kilat Bang Haji menyambar percakapan saya” Nah itu dia masalahnya! Dengan menghadirkan karya anda, kita berharap akan terjadi diskusi sekaligus memotivasi teman-teman untuk lebih bangkit dan berkarya ketingkat nasional bahkan internasional”

Memang, akhirnya tak sulit memenuhi permintaan Bang Haji Amsyal dan kawan-kawan jika argumentasinya untuk berdiskusi saling sulang dan menumbuhkan motivasi. Namun akan sulit bagi saya jika diajak berdiskusi dengan parameter sebuah karya yang harus di”belejetin” dari segi sinematografy-nya. Sebab, saya bukanlah seorang akademisi per-film-an yang nantinya bisa diajak mengurai kalimat secara teknis dan sistematis. Saya hanya mantan jurnalis televise yang mencoba “banting stir” menseriusi dan memproduksi film documentary secara otodidak. Belajar, berlatih dan bereksperimen dengan mencari pengalaman secara alamiah. Toh, makna penting yang saya tangkap dari niatan Bang Haji dan teman-teman lainnya -mendaulat produksi film saya tayang dan didiskusikan- adalah memberi ruang kepada filmmaker dan sineas muda di Medan untuk tampil sekaligus upaya memompa semangat agar terus terjadi regenerasi tak terputus.

Halnya dengan produksi film yang disuguhkan dalam menyambut bulan film nasional kali ini yakni “Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan” atau PNMJK, merupakan Film docudrama atau documenter drama yang dikerjakan dengan peralatan produksi serta pemeran serba minim, dan jauh dari sentuhan tangan-tangan professional sinematografy. Mengandalkan semangat dan satu camera 3 CCD tua, serta mendireck pemain local di Pulau Nias yang sama sekali tak mengenal dunia akcting , produksi dengan waktu 3 hari audisi dan 10 hari shooting di lapangan, tentu bukanlah kerja gampang untuk menghasilkan karya film yang maksimal. Namun agaknya itu pula yang menjadi kekuatan bagi film PNMJK- dari produksi serba minim namun mampu menghasilkan karya fenomenal. Dus, saat PNMJK mendapat pernghargaan tayang di Conference Sex Tourism (CST) Asia Tenggara di Bali 2009, seorang producer film asal Singapura Michael Chick sempat tercengang mendengar pengakuan bahwa film tersebut digarap hanya dengan satu camera dengan konsep shoot cut to cut. Tambahan lagi, para pemainnya hanya berasal dari sumber daya local yang bukan actor dan aktris. PNMJK juga sempat menjadi tontonan favorit di Parade Film Pendek Indonesia (PFPI) 2009 di Jawa Tengah Dan kemudian, di tahun 2010 ini PNMJK sempat menjadi nominator di Ganesha Festival Film Bandung. Dari kutipan news features radio DW Jerman, film PNMJK disebutkan bukan saja sekedar sebagai film indie yang apik ditonton tapi lebih dari itu berdayaguna sebagai medium kampanye hak anak dan gender.

Adalah Pusat Kajian Dan Perlindungan Anak (PKPA) sebuah lembaga yang concern terhadap anak, yang cukup berperan besar dalam mensupport produksi film PNMJK ini. Mereka sadar bahwa film sebagai media audio visual mempunyai kekuatan efektif untuk gerakan moral perubahan prilaku yang lebih baik. Dan dalam konteks ini, saya mau bilang bahwa ada banyak lembaga-lembaga atau perusahaan besar lain yang kini tengah melirik film sebagai medium kampanye tanpa meninggalkan makna film sebagai tontonan berbalut seni. Juga bagi perusahaan BUMN/swasta nasional yang memiliki dana CSR untuk difungsikan membuat film sebagai media penyadaran dan pendidikan. Lihat, dibalik sukses film Laskar Pelangi dan King ada perusahaan BUMN dan swasta yang memberi support dana CSR untuk produksinya. Artinya, peluang besar untuk memproduksi film semakin terbentang luas. Tinggal, bagaimana kita bersiasat creative sekaligus meningkatkan profesionalime agar klien merasa nyaman menggunakan jasa keahlian yang kita miliki.

Seorang kawan saya, Sakti Parantean, Producer dari Fictionary Films Jakarta , punya gagasan sekaligus pernyataan bagus, "ayo ciptakan pasar sendiri yang mandiri, mari bikin film!". Ini adalah sebuah pernyataan tegas untuk tak terjebak pada idiom kosong- seperti selama ini, masih banyak teman-teman filmmaker yang kerap berkeluh kesah enggan memproduksi film karena tak memiliki dana produksi. Ironis, hanya duduk manis berharap ada aliran dana APBD atau biasa tembakkannya adalah Dinas Pariwisata.

DULU, Orde Baru refresif memasung kreativitas anak muda. Bikin film adalah perkerjaan mustahil. Disamping peralatan yang serba mahal Negara menerapkan pelbagai syarat untuk memproduksi film. Mulai dari ijin Departemen Penerangan, actor maupun aktris film harus jadi anggota FARFI, crew film harus jadi anggota Karyawan Film dan Televisi (KTF), pembuat film harus ikut Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), sutradara film harus empat kali pernah menjadi asisten sutradara dan lain sebagainya tetekbengek jalur birokrasi yang harus ditempuh untuk sebuah produksi film. Naibnya lagi, bikin film saat itu harus terlebihdahulu dapat ijin dari Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib).

Memang, tak jamannya lagi di era reformasi kini takut bikin film, apalagi menabur khawatir seputar akan ditayangkan dimana dan siapa yang akan menontonya. Toh, Pemerintah dengan konsep Undang-Undang Penyiaran mulai bergerak membuka ruang bagi kita untuk berekspresi. Untuk itu, mari terus kita dukung dan kawal Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar terus berupaya memberdayakan konten local terhadap televise swasta nasional berjaringan dan televise local yang makin menjamur bermunculan. Artinya, kita akan semakin banyak memiliki ruang berekspresi dan berkarya untuk mengisi program acara di stasiun televise dan tak melulu terus berharap mengincar bioskop 21 sebagai penampungnya.

Memang, SUMBER daya manusia akan jadi bahasan penting dalam mendedah gerakan film di Sumatera Utara, khususnya di Kota Medan ini.
Perkembangan film di Medan belakangan memang pesat. Cepat tapi pincang.
Bagaimana tidak, problem sinema ialah dalam sejarah yang
begitu singkat harus mengajar banyak orang dalam euforia yang begitu
tinggi. Satu sisi harus berkarya, sisi lain harus harus mencari uang sekaligus ruangnya.
Salah satu yang bisa meningkatkan sumber daya manusia dibidang film
apalagi kalau bukan sekolah film. Sayangnya, Medan nyaris tak pernah ada sekolah khusus PerFilman, mungkin hanya Kengsington Institut ini (tempat diadakanya acara Hari Film Nasional) satu-satunya, itupun mungkin masih belum diberdayakan secara maksimal. Padahal, menjamurnya komunitas film di Medan ini cukup signifikan- ditambah berbagai ivent festival film yang diselenggarakan- terakhir yang cukup besar bahkan berskala nasional adalah Festival Film Anak (FFA) 2009. Dari keluaran FFA yang diprakarsai oleh PKPA dengan SFD dan di dukung komunitas film di Sumatera Utara ini menunjukkan betapa sineas muda di Medan sangat mendambakan kesinambungan pendidikan dan pelatihan atau workshop film. Bahkan actor senior Didi Petet yang sempat menjadi Ketua Dewan Juri FFA sempat menitip pesan agar berbagai pihak terus bertanggung jawab untuk keberlangsungan bakat luar biasa yang dimiliki anak-anak di medan tersebut.

Gerakan insan film di Medan memang masih punya banyak pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi. Diantaranya persoalan transfer informasi dan pengetahuan film dengan lebih merata ke seluruh lapisan insan film-nya sendiri. Membangun jaringan komunikasi yang lebih kokoh sekaligus berfungsi menyiapkan medium distribusi karya yang luas.

Memecah kebekuan, kesenjangan informasi dan akses antara generasi tua dan
muda juga antara sineas dan pemerintahan. Eksplorasi tiada henti untuk mewujudkan perfilman di Sumatera Utara jadi lebih baik, sebagaimana yang tengah digagas oleh teman-teman FKIF di peringatan bulan film nasional ini. Semoga, FKIF Sumut terus mendapat dukungan dari segenap lapisan dan semoga di momentum Hari Film Nasional ini semangat sineas film di Medan bangkit kembali dan lebih semangat berkarya!!! Terimakasih.

Penulis Adalah Direktur Sineas Film Documentary (SFD) Medan
Dan Producer/Director Film Documentary “Pantang di Jaring Halus” dan “BADAI” (Berharap Air di Atas Air) yang telah mendapat apresiasi award nasional.
Email. onnykres@yahoo.com


ARTI KATA NARSIS DAN ASAL USULNYA

oleh Sari Nakisha pada 5 Agustus 2010 jam 11:31
Tahukah anda arti kata narsis dan asal-usulnya?
Narsisme atau Narsis artinya adalah perilaku memperhatikan diri sendiri secara berlebihan

Konon dalam dongeng masyarakat Yunani kuno, hiduplah seorang pemuda yang bernama Narsis. Narsis adalah putra dari Dewa dan Bidadari. Orangnya tampan, namun kaku, cuek, dan angkuh.
Pada suatu ketika Narsis sedang duduk-duduk ditepi kolam yang airnya bening. Dari tepi kolam itu, dia melihat betapa tampannya dirinya. Karena bayangan wajahnya yang begitu mempesona, Narsis akhirnya jatuh cinta dengan bayangan dalam kolam itu. Narsis jatuh cinta dengan dirinya sendiri.

Sebenarnya teman-teman Narsis banyak yang jatuh cinta kepadanya, tetapi Narsis tidak pernah merespon mereka, ia hanya jatuh cinta pada dirinya sendiri. Ada seorang teman perempuan yang jatuh cinta kepada Narsis, namanya Gema. Gema adalah putri dari kayangan. Orangnya cantik, tetapi dia tidak normal dalam berbicara. Gema tidak bisa bicara dengan kalimatnya sendiri, tetapi hanya bicara dan mengucapkan kata-kata yang baru didengarnya dari orang lain.

Ketika Narsis bicara, bagaimana kabarmu?, Gema menjawab,kabarmuuuuuuuu? kamu dari mana? Gema menjawab, darimanaaaa?. Karena komunikasi antara Narsis dan Gema ini tidak lancar maka cinta Gema tidak kesampaian. Cintanya tidak didengar oleh Narsis, dan iapun frustasi. Gema bersedih dan menangis. Air matanya menetes begitu banyak sampai akhirnya melarutkan tubuh Gema. Oleh sebab itulah sampai saat ini kita hanya bisa mendengar suara Gema, tetapi wujudnya kita tidak bisa melihat.

Pada suatu kesempatan Narsis berjalan-jalan di tengah hutan. Ditempat itu dia merasakan rindu dengan pemuda yang selalu dilihatnya didalam kolam. Sampailah dia ditepi kolam yang airnya tenang. Disekelilingnya dikelilingi banyak pohon cemara. Begitu memandang ke kolam kembali dia tertegun. Ditatapnya wajah yang begitu tampan didalam kolam itu. Narsis berlutut dan ingin menyentuh wajah itu. Namun ketika wajah itu disentuh, berubahlah wajah itu menjadi riak-riak kecil air. Ditunggulah beberapa saat sampai air itu kembali tenang. Disentuhlah lagi wajah itu, dan kembali pula berubah menjadi riak air. Narsis terus menunggu ditepi kolam itu. Dia terus merindukan pemuda dalam kolam itu.
Perasaan itu begitu menyiksa. Bertanyalah ia kepada pohon cemara, “Pohon Cemara, apakah engkau pernah merasakan kerinduan seperti ini?” Narsis terus memandangi wajah itu.

Beberapa hari berlalu Narsis akhirnya sadar bahwa wajah itu adalah wajahnya. Apa yang dia inginkan sudah ia punyai. Apa yang dia rindukan sudah didapatkan. Dia menyadari dan mulai belajar mencintai orang lain, dan tiba-tiba Narsis merasakan seluruh tubuhnya terasa hangat. Kulitnya memancarkan cahaya yang lembut. Api cinta telah menyala dalam diri Narsis. Api itu telah membakar dan meluluhkan hati Narsis yang selama ini membeku. Hati itu telah mencair. Sekian lama Narsis tidak muncul, teman-teman Narsis mencari ditepi kolam itu. Tetapi mereka tidak menemukannya. Mereka hanya melihat sekuntum bunga. Bagian tengahnya berwarna kuning, bentuknya seperti terompet. Kelopak bunga dibagian pingirnya berwarna putih lembut. Teman-temannya yakin itu adalah Narsis, yang tubuhnya telah menjadi bunga. Bunga itu namanya adalah bunga Narsis.

Dari cerita itu bisa diketahui orang yang termasuk kategori narsis/narsisme, yaitu:
1. Mencintai diri sendiri secara berlebihan dan sulit mencintai dan menerima cinta orang lain.
2. Hanya mendengar pendapatnnya sendiri, sulit mendengar pendapat orang lain.
3. Tidak bisa merasakan perasaan orang lain.
4. Melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri, bukan sudut pandang orang lain.
5. Sulit mempercayai orang lain.

Tetapi orang Narsis, bisa berubah. Ketika dia bisa menyadari bahwa dirinya adalah obyek dan juga subyek, dan menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari orang lain, maka sifat narsis itu bisa hilang. Jika sifat narsis itu hilang, maka orang itupun seperti Narsis, berubah menjadi indah dan harum laksana bunga Narsis.


Catatan kaki :

Beberapa orang yang mempunyai sifat narsis sejati memang menyatakan bahwa mereka tetap bisa mencintai hal lain selain yang di hasilkan oleh dirinya, namun ungkapan itu sebenarnya adalah bentuk dari sifat narsisnya yaitu sebuah kepribadian yang sangat tunggal yaitu dirinya sendiri. Kata – kata yang di cetuskan biasanya lebih karena rasa kecintaan atas kepunyaan/kepemilikannya atas dirinya yang sangat tinggi (Self Centris). Sekilas bisa terlihat sebagai idealisme atau prinsip invidu, namun sebenarnya hal itu adalah sifat narsisme sejati yang telah mengakar pada sebuah kepribadian dasar seseorang.
Seorang narsis memiliki kecintaan atas apa yang di punyai dan di hasilkannya.

Kecintaan dan kebanggaan akan dirinya sendiri ( kepemilikan, kemampuan, kecantikan, ketampanan, kepintaran dsb) yang berlebihan menjadikan seorang narsis begitu sulit untuk mendengar pendapat orang lain, merasakan perasaan orang lain, dan sulit melihat segala sesuatunya dari sudut pandang orang lain. Buah pikiran, sikap dan tindakan – tindakan mereka sulit untuk di terima oleh orang kebanyakan. Orang - orang narsis sering tidak menyadari bahwa masih ada orang lain yang hidup bersama dengan mereka di dunia ini, namun demikian mereka juga bisa membutuhkan seseorang atau keadaan yang berbeda dengan keinginan mereka di saat mereka merasa tidak mempunyai pilihan lain (Keadaan yang telah terciptakan dengan apa adanya), Namun hal itupun lebih kepada kebutuhan - kebutuhan pribadinya yang di anggapnya bermanfaat untuk dirinya sendiri.

Kebanyakan orang - orang narsis adalah produk dari mereka yang sempat merasa termaginalkan, kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tua, sering menemui banyak kegagalan dan kesulitan dalam kehidupannya.
Hal - hal yang membuatnya pernah tertekan atau tersudut dalam masa - masa sebelumnya akan membuatnya cenderung untuk melakukan pembuktian dirinya. Baik dalam buah pikiran maupun karya nyata. Walau bisa saja apa yang sudah di buktikannya tersebut tidak mendapatkan tempat atau response yang bagus jika di tinjau dari sudut orang kebanyakan.
Ketika mereka pernah bisa melakukan sebuah pembuktian, namun tidak di barengi dengan input - input yang di dapat dari lingkungan sekitarnya, secara piskis hal tersebut bisa membentuk seseorang tersebut menjadi narsis dan bisa terus berkembang menjadi narsis sejati.

Contoh orang – orang yang bersifat narsis sejati ini sangat banyak di temukan pada kalangan seniman (jumlah tertinggi), politikus dan scientist.

1 Pertanyaan Berjuta Jawaban…!

oleh Yunie Vee Love pada 7 Agustus 2010 jam 0:45
Mengapa ayam menyebrang jalan?



Jika ada Pertanyaan:
Mengapa Ayam Menyebrang Jalan?

Jawaban menurut:

Guru TK:
Supaya sampai ke ujung jalan.

FBI:
Beri saya lima menit dengan ayam itu, saya akan tahu kenapa.

Aristoteles:
Karena merupakan sifat alami dari ayam.

Martin Luther King, Jr.:
Saya memimpikan suatu dunia yang membebaskan semua ayam menyeberang jalan tanpa mempertanyakan kenapa.

Freud:
Fakta bahwa kalian semua begitu peduli pada alasan ayam itu menunjukkan ketidaknyamanan seksual kalian yang tersembunyi.

George W Bush:
Kami tidak peduli kenapa ayam itu menyeberang! Kami cuma ingin tau apakah ayam itu ada di pihak kami atau tidak, apa dia bersama kami atau melawan kami. Tidak ada pihak tengah di sini!

Darwin:
Ayam telah melalui periode waktu yang luar biasa, telah melalui seleksi alam dengan cara tertentu dan secara alami tereliminasi dengan menyeberang jalan.

Einstein:
Apakah ayam itu menyeberang jalan atau jalan yang bergerak di bawah ayam itu, itu semua tergantung pada sudut pandang kita sendiri.

Nelson Mandela:
Tidak akan pernah lagi ayam ditanyai kenapa menyeberang jalan! Dia adalah panutan yang akan saya bela sampai mati!

Thabo Mbeki:
Kita harus mencari tahu apakah memang benar ada kolerasi antara ayam dan jalan.

Isaac Newton:
Semua ayam di bumi ini kan menyeberang jalan secara tegak lurus dalam garis lurus yang tidak terbatas dalam kecepatan yang seragam, terkecuali jika ayam berhenti karena ada reaksi yang tidak seimbang dari arah berlawanan.

Miyabi:
Ooohh… Aahhh… Yeeahh… Mmmhhh…

Programmer Oracle:
Tidak semua ayam dapat menyeberang jalan, maka dari itu perlu adanya interface untuk ayam yaitu nyeberangable, ayam-ayam yang ingin atau bisa menyeberang diharuskan untuk mengimplementasikan interface nyebrangable, jadi di sini sudah jelas terlihat bahwa antara ayam dengan jalan sudah loosely coupled.

Sutiyoso:
Itu ayam pasti ingin naik busway.

Soeharto:
Ayam-ayam mana yang ndak nyebrang, tak gebuk semua! Kalo perlu ya dikebumikan saja.

Habibie:
Ayam menyeberang dikarenakan ada daya tarik gravitasi, dimana terjadi percepatan yang mengakibatkan sang ayam mengikuti rotasi dan berpindah ke seberang jalan.

Nia Dinata:
Pasti mau casting ‘30 Hari Mencari Ayam’ ya?

Desi Ratnasari:
No comment!

Dhani Ahmad:
Asal ayam itu mau poligami, saya rasa gak ada masalah mau nyebrang kemana juga…

Chinta Laura:
Ayam nyebrang jhalaan..? karena gak ada owject…biecheeck. …

Julia Perez:
Memangnya kenapa kalo ayam itu menyeberang jalan? Karena sang jantan ada di sana ! Daripada sang betina sendirian di seberang sini, yaaahhhh dia kesana laahh… Cape khan pake alat bantu terus?

Roy Marten:
Ayam itu khan hanya binatang biasa, pasti bisa khilaf.. (sambil
sesenggukan) .

Butet Kartaredjasa:
Lha ya jelas untuk menghindari grebekan kamtib to?

Megawati:
Ayamnya pasti ayam wong cilik. Dia jalan kaki toh?

Harmoko:
Berdasarkan petunjuk presiden.

and the best answer is:

Gus Dur :
‘Kenapa ayam nyebrang jalan? Ngapain dipikirin? Gitu aja kok repot!

Ada yang punya jawaban laen?