Pada Desember 2007, Mirwan Andan dari redaksi Katalog Film Indonesia
menemui Deddy Mizwar untuk berbincang mengenai prinsip-prinsipnya dalam
membuat film.
T: Apa pertimbangan paling penting dalam membuat film?
J:
Pertimbangan saya yang paling penting dalam membuat film karena dia
adalah ibadah. Manusia diciptakan untuk beribadah. Jika seseorang
diberi kemampuan atas sesuatu, maka sebaiknya ia melakukannya untuk
ibadah. Nah, kemampuan yang saya punya adalah membuat film dan adalah
ibadah buat saya jika membuat sebuah film. Nah, ibadah yang saya maksud
adalah ibadah kepada sesama manusia dan juga kepada Tuhan.
Jika
ada orang yang bersedekah dengan harta, maka saya bersedekah dengan
ilmu. Karena semua yang kita lakukan haruslah dipertanggungjawabkan.
Sama dengan apa yang kau tulis dari wawancara ini, harus kau
pertanggungjawabkan di dunia maupun di akhirat.
Sikap ini saya
ambil semenjak saya jadi produser di awal tahun 1990-an, seluruh film
saya sejak itu, saya kerjakan karena pertimbangan ibadah. Selain
pertimbangan ibadah, tidak ada lagi pertimbangan lain. Sebab soal untung
rugi, itu bukan urusan bagi kita yang membuatnya. Siapa yang menentukan
untung ruginya sesuatu? Apakah itu terjangkau oleh nalar kau? Sesuatu
yang kau anggap untung secara material belum tentu untung secara
non-material. Itu hanyalah upaya.
Jika membuat film dilandasi
karena ibadah maka harus ada sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat
dalam karya film tersebut. Dan bisnis pada dasarnya tidak ada ruginya.
Kenapa kita harus mengambil resiko rugi dalam bisnis. Saya tidak mau
beresiko rugi. Resiko saya adalah untung. Beribadahlah dalam bekerja,
maka tidak ada resiko rugi di situ.
Genre yang paling Anda minati?
Semua
genre. Tergantung dari cerita dan masalah yang ingin disampaikan. Genre
itu hanya kemasan, sebuah metode dan gaya, tergantung apa yang ingin
kita sampaikan. Jika sesuatu harus kita sampaikan dengan dramatis, maka
genre drama yang kita pilih. Kalau sesuatu ingin kita sampaikan dengan
lucu, maka komedi yang kita ambil. Jadi genre tidak menentukan apa yang
kita buat. Tapi apa yang akan kita buat, itulah yang akan menentukan
genre-nya. Genre mucul kemudian setelah gagasannya ada. Gagasan tentang
apa yang ingin kita sampaikan kepada masyarakat.
Belakangan ini
saya memilih komedi karena persoalan yang saya angkat sangatlah serius.
Kenapa komedi? Agar masalah serius yang diangkat bisa mencair ketika
sampai di masyarakat melalui komedi. Jika sesuatu yang serius itu
disampaikan dengan dramatis, nanti masyarakat tidak bisa mencernanya.
Jadi tetap menghibur tapi memiliki isi yang bermakna bagi masyarakat.
Coba tanya mereka yang menonton
Ketika,
Kiamat Sudah Dekat dan
Naga Bonar Jadi 2,
pasti mendapatkan sesuatu, makanya perlu kreativitas untuk
menyampaikannya, meskipun melucu kemasannya. Semuanya diawali dengan
pertanyaan: apa yang ingin disampaikan?
Kita bisa melihat
Naga Bonar dan
Naga Bonar Jadi 2, semuanya komedi meskipun temanya sangat serius.
Naga Bonar
pertama jika dibuat dengan genre drama, mungkin dia tidak lulus sensor
di tengah kondisi militeristik yang sangat kuat di negeri ini. Bagaimana
pencopet bisa jadi jenderal. Itulah kreativitas. Asrul Sani sangatlah
kreatif, pintar, mengerti zamannya dan paham masyarakatnya, dia bisa
membuat
Naga Bonar pertama lolos dari sensor. Dia tahu, dengan
cara apa menyampaikan sesuatu pada masyarakatnya dan juga cara apa yang
harus diambil untuk menyampaikan sesuatu di tengah represifnya
pemerintahan militer waktu itu. Itulah orang cerdas. Sekarang banyak
yang belum bikin apa-apa tapi Badan Sensor Film mau dibubarkan
[tertawa].
Kalau ada film yang Anda impikan harus Anda buat, film apa itu?
Semuanya
sebetulnya tergantung dengan masalah yang kita hadapi karena film tidak
lepas dari masyarakat kita. Dari tahun ke tahun masalah kita selalu
berubah. Jadi perlu diikuti perkembangan perubahannya baru berfikir
tentang film apa yang ingin saya buat. Di film
Ketika saya
mengangkat masalah korupsi dan bagaimana hukum ditegakkan di negeri ini
karena itu yang dibutuhkan saat ini. Tapi untuk menegakkan itu, perlu
terjadi ketidaknyamanan karena akan ada perubahan secara total.
Sanggupkah kita? Mari kita bercermin. Jangan-jangan orang ingin
menegakkan hukum kalau hukum itu untuk orang lain, buat diri kita
sendiri, kita belum tentu mau [tertawa].
Jadi film yang saya
paling impikan adalah sesuai dengan realita yang terjadi. Nah, masalah
di sekeliling kita sangat banyak, tergantung dari sudut mananya yang mau
diambil. Jangan hanya persoalan seks, sadisme dan hantu saja, tidak
kreatif itu namanya. Film-film yang saya buat tidak berisikan seks dan
sadisme tapi tetap laku ditonton orang, baik di TV maupun di bioskop,
alhamdulillah.
Dan yang penting tidak rugi, untung terus. Keuntungannya bukan hanya
materiil, tapi menyampaikan sesuatu yang baik kepada masyarakat itu juga
adalah keuntungan [tertawa].