kalaborasi acara yang di isi oleh coconuthead band raggae pertama di medan dan komunitas film indie opique picture's. konten ini merupakan acara yang terpisah namun di sunting akhir oleh M Taufik Pradana, dikarenakan kedua komunitas ini adalah saudara. pernah berkarya dalam program yaitu dalam produksi film Marjinal.
tujuan menggambungkan kedua acara ini agar lebih dekat dengan hati penonton.
film pendek ini merupakan project omnibus pertama di medan yang bertemakan "BOHONG". film ini diproduksi pada akhir tahun 2012 oleh Opique Picture's, Komfaz Prod, Dharmateta, WWB Pro dan IntermediaProject.
Film ini menceritakan konflik keluarga yang sering terjadi dalam kehidupan sehari hari. di sutradarai oleh Winda Mitari Utami.
film ini akan di gandeng beberapa judul lainnya seperti Kong Kali Kong (MiD), Segi Empat (Matasapi Film), dan Kontradiksi (Manuprojectpro) yang masing-masing di produksi oleh komunitas-komunitas film dimedan.
dari project ini diharapkan dapat menjadi ajang menggairahkan perfilman di kota medan yang dapat bersaing di rana nasional maupun internasional.
pengertian
film secara klasik diartikan sebagailakon hidup atau gambar gerak yang biasanya juga disimpan dalam media
seluloid tipis dalam bentuk gambar negatif. dalam pengertian modern Film dapat
juga disimpan dan diputar kembali dalam media digital.
Fungsi Film
:
- Hiburan
-
Pengetahuan
-
Mempengaruhi
- Informasi
yang terpenting kita harus mengetahui "Untuk Apa
Kita Memproduksi Film ?" sebelum memproduksi sebuah film agar tidak sia-sia dari usaha keras kita.
Tahap Pra
Produksi
1.Departemen Penulisan skrip :
- penulis
harus bisa mengatakan sesuatu dengan jelas, bisa dilatih dengan menulis cerpen,
feature dan esai
- harus
paham yang dimaksud dengan cerita
- penulis
bersifat pemaparan cerita dengan jelas
- pekerjaan
yang kolaboratif, terlebih setelah menulis harus diskusi dengan sutradara agar
visi yang di bangun dapat terwujud
- peran
penulis sama seperti arsitek.
subdeparteman
ide cerita :
- ide cerita
: terbaru, sesuai dengan tujuan, bila perlu harus riset
- penulis
cerita : 3 babak : perkenalan, konflik dan penyelesaian.
- penulis
skrip : bila perlu ditambahkan dengan storyboard, minimalnya dengan adanya
storyline
Ide film
dapat diperoleh dari berbagai macam sumber antara lain:
Pengalaman pribadi penulis yang
menghebohkan.
Percakapan atau aktifitas sehari-hari yang
menarik untuk difilmkan.
Cerita rakyat atau dongeng.
Biografi seorang terkenal atau berjasa.
Adaptasi dari cerita di komik, cerpen, atau
novel.
Dari kajian musik, dll
2. Sutradara
:
- nyelami
sebuah cerita dengan total penuh dengan imajinatif dari film yang akan di
produksi.
- sutradara
harus tahu mau ngomong apa lewat filmnya.
- sutrada
pimpinan produksi film, harus bisa buat gambar bagus dan penuh emosi.
- sutradara
harus punya kemampuan komunikatif, jiwa kepemimpinan, visi sikap dan juga
pemahaman soal hidup.
MENYUSUN
JADWAL DAN BUDGETING
Hal-hal yang
perlu diperhatikan saat menyusun alokasi biaya:
Penggandaan naskah skenario film untuk kru
dan pemain.
Penyediaan kaset video.
Penyediaan CD blank sejumlah yang
diinginkan.
Penyediaan property, kostum, make-up.
Honor untuk pemain, konsumsi.
Akomodasi dan transportasi.
Menyewa alat jika tidak tersedia.
HUNTING
LOKASI
Memilih dan
mencari lokasi/setting pengambilan gambar sesuai naskah. Untuk pengambilan
gambar di tempat umum biasanya
memerlukan
surat ijin tertentu. Akan sangat mengganggu jalannya shooting jika tiba-tiba
diusir dipertengahan pengambilan
gambar
karena tidak memiliki ijin. Dalam hunting lokasi perlu diperhatikan berbagai
resiko seperti akomodasi, transportasi, keamanan saat shooting, tersedianya
sumber listrik, dll. Setting yang telah ditentukan skenario harus betul-betul
layak dan tidak menyulitkan pada saat produksi. Jika biaya produksi kecil, maka
tidak perlu tempat yang jauh dan memakan banyak biaya.
Tahap
Produksi
1. penata
kamera
- harus
paham dengan cerita, bukan hanya alat.
- tahu apa
yang mau di ceritakan.
- belajar
kamera gak musti dengan kamera, bisa dengan banyak membaca komik, lukisan,
nonton film untuk teknis angle danjuga
pencahayaan.
- dop harus
punya kemampuan manajemen, mampu membuat jaringan dan komunikasi.
2. penata
artistik
- pahak
kebutuhan cerita dan juga manajemen.
- harus
kordinasi dengan kameramen dan sutradara.
- ini
departemen yang serius, bukan hobi
- menentukan
cerita 3 dimensi.
MENYIAPKAN
KOSTUM DAN PROPERTY.
Memilih dan
mencari pakaian yang akan dikenakan tokoh cerita beserta propertinya. Kostum
dapat diperoleh dengan mendatangkan desainer khusus ataupun cukup membeli atau
menyewa namun disesuaikan dengan cerita skenario.Kelengkapan produksi menjadi tanggung jawab
tim property dan artistik.
3. penata
kostum dan penata rias
-
berhubungan erat dengan artistik, kameramen dan sutradara.
- paham
cerita dan karakter,
- bukan
hanya mendandani pemain supaya kelihatan keren di kamera tapi menghidupkan
karakter.
- kerjasama
team modal utama dankomunikatif.
Tahap
Pasca Produksi
1.
penyunting gambar / editor
- harus
sabar
- harus
punya kemampuan cerita
- paham dari
emosi cerita
- menjadi
pemonton pertama dari sebuah film.
2. penata
suara / sound editor
- harus
mengetahui emosi film dan musik.
- usahakan
dengan musik sendiri
- kalo
pakemusik orang harus minta izin.
- dan jangan
lupa untuk mencantumkan pencipta musik tersebut
REVIEW HASIL
EDITING
Setelah film
selesai diproduksi maka kegiatan selanjutnya adalah pemutaran film tersebut secara
intern. Alat untuk pemutaran film dapat bermacam-macam, dapat menggunakan
VCD/DVD player dengan monitor TV, ataupun dengan PC (CD-ROM) yang diproyeksikan
dengan menggunakan LCD (Light Computer Display). Pemutaran intern ini berguna
untuk review hasil editing. Jika ternyata terdapat kekurangan atau penyimpangan
dari skenario maka dapat segera diperbaiki. Bagaimanapun juga editor juga
manusia biasa yang pasti tidak luput dari kelalaian. Maka kegiatan review ini
sangat membantu tercapainya kesempurnaan hasil akhir suatu film.
PRESENTASI
DAN EVALUASI
Setelah
pemutaran film secara intern dan hasilnya dirasa telah menarik dan sesuai
dengan gambaran skenario, maka film dievaluasi bersama-sama dengan kalangan
yang lebih luas. Kegiatan evaluasi ini dapat melibatkan :
Penonton/penikmat film : Penonton biasanya
dapat lebih kritis dari para ahli atau pekerja film. Hal ini dikarenakan mereka
mengupas dari sudut pandang seorang penikmat film yang mungkin masih awam dalam
pembuatan film.
Kuldesak dibuat oleh empat sutradara muda dan menjadi benih bangkitnya kembali industri film Indonesia.
Kuldesak
bisa dibilang menjadi benih dari serbuan film berformat omnibus yang
belakangan ini jamak terjadi. Bahkan, kalau dilihat dari sudut pandang
yang lebih luas lagu, Kuldesak juga menjadi salah satu pelopor awal bangkitnya industri perfilman di Indonesia, sebelum hadirnya Petualangan Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta?.
Kehadiran Kuldesak pada tahun 1997 menjadi bahan
perbincangan di dalam berbagai komunitas perfilman yang haus akan film
Indonesia. Maka wajar jika film yang disutradarai oleh Mira Lesmana, Nan T. Achnas, Riri Riza dan Rizal Mantovani ini cukup menuai kesuksesan.
Rizal Mantovani, salah satu sutradara yang dulu ikut serta dalam proyek Kuldesak. (Sumber foto: ist)
Ya, ada empat sutradara, yang masing-masing menggarap kisah
berbeda-beda. Total ada empat cerita yang tidak memiliki tautan satu
dengan lainnya. Namun, ada benang merah yang menyambungkannya, yakni
kehidupan anak muda pada saat itu, tepatnya di era pertengahan 1990-an.
4 CERITA BERBEDA
Ada empat cerita yang memiliki empat tokoh utama berbeda dengan
masalah masing-masing, tapi sama-sama mempunyai impian, keingingan, dan
obsesi. Pertama, Dina (Oppie Andaresta), gadis yang mencintai
idolanya setengah mati. Ia menonton idolanya di layar televisi di
kamarnya dan berharap bisa berpacaran dengannya.
Dina lalu berteman dengan Budi (Harry Suharyadi), seorang homoseksual yang berpacaran dengan Yanto (Gala Rostamaji). Hubungan mereka berdua pada akhirnya pun harus berpisah. Di segmen berikutnya ada Andre (Ryan Hidayat),
seorang pemusik yang mengindentifikasikan rasa kesepiannya dengan Kurt
Cobain, pentolan vokalis grup musik Nirvana yang bunuh diri.
Kisah ketiga hadir Lina (Bianca Adinegoro), karyawati sebuah
perusahaan yang diperkosa saat sedang lembur. Ia kemudian bertekad untuk
membalas dendam dengan mencari pemerkosanya. Situasi ironis lalu muncul
ketika Lina mengetahu siapa identitas si pemerkosa.
Musisi Ahmad Dhani juga ikut terlibat dalam pembuatan Soundtrack film ini
Sedangkan di segmen terakhir diisi dengan cerita Aksan (Wong Aksan), anak pemilik penyewaan laser disc film yang terobsesi untuk membuat film. Obsesinya itu sampai membujuk Aksan untuk merampok uang ayahnya sendiri. Berhasilkah?
SEBUAH FILM YANG BEBAS
Oleh J.B. Kristanto, pengamat film senior dan penulis buku Katalog Film Indonesia, dalam artikel resensinya tentang Kuldesak menilai
bahwa film ini dikemas secara baik sehingga betul-betul mewakili dunia
anak muda pada eranya. Terlebih cara penyajiannya pun memakai gaya
penuturan video klip. Film ini dibuat betul-betul "melepaskan" diri dari
sejarah film Indonesia yang sudah ada sebelumnya.
Salah satu keunikan dari film ini, menurut J.B. Kristanto, adalah
upaya para sutradara film ini untuk bersikap netral. Mereka tidak
memberikan maksud dan penjelasan soal motivasi dari setiap segmen. Di
sini mereka membiarkan para penonton untuk berpikir dan menentukan
nilai-nilai yang akan mereka ambil.
Mengutip dari tulisan pengantar dari kineforum tentang acara Filmmakers Forum: Retrospeksi Kuldesak,
fakta membuktikan bahwa film Indonesia pernah mengalami hal
keterpurukan. Kondisi ini menunjukkan ada sebuah generasi baru perfilman
Indonesia yang seolah terputus dari sejarahnya, dan dari segi gagasan.
Para sutradara Kuldesak ini boleh dibilang berangkat hampir
tanpa gagasan, atau kalaupun ada, gagasan kecil dan remeh. Mereka sangat
menikmati proses pembuatan film ini, tanpa beban gagasan atau hal
lainnya. Film ini akhirnya memang terbukti memberi warna baru dan segar
pada perfilman nasional. Tak hanya itu, para sutradaranya pun terbukti
sukses berkarier di industri film Indonesia.
Mira
Lesmana dan Riri Riza, seperti juga Rizal dan Nan T. Achnas, sampai
kini terus membuat film-film dengan beragam tema cerita. (Sumber foto:
ist)
Kuldesak sampai dianggap sebagai “bapaknya” gerakan film
independen di Indonesia. Soalnya, proses pembuatan film ini pada tahun
1996 dilakukan secara underground dan tak terbelenggu oleh aturan produksi film Orde Baru.
TVRI menyerahkan slot 49 menit untuk program apresiasi yang dikelola
bersama antara KOFI Sumut dengan TVRI sebagai wadah untuk apresiasi
produksi film anak medan. Untuk saat ini, program apresiasi tidak
terbuka untuk iklan. Film-film yang di bahas adalah film-film yang di
produksi secara independen. Selain program on air, terbuka juga kemungkinan untuk melakukan program-program off air guna mempublikasikan program apresiasi.
Persiapan Tekhnis Durasi Acara : 49 Menit
Draft Rundown Acara akan di godok oleh TVRI yang kemudian akan
diserahkan kepada KOFI untuk disempurnakan. Rundown Program akan dibuat
perbulan. Gambaran Umum konten acara; - Trailer Film - Footage - Photo Behind the Scene proses pembuatan film
- Diskusi Interaktif seputar; Penggagasan ide film, proses pembuatan
film, tekhnis pembuatan film, pesan dari film, dll (seputar film yang
diproduksi)
Pembawa acara 1 orang dari TVRI, 1 orang Host dari KOFI
Pembicara ; 2 orang dari pembuat film + 1 orang dari pengamat film
Format Film - Format Trailer/footage FILM yang biasa diputar di TVRI; Extension AVI Aspect Ratio 720 x 576 | 4:3 ( format cinema; 16 : 9 juga bisa) Footage / Trailer bisa dalam bentuk file jadi (tidak perlu pakai mini DV) - Sertakan Bumper Film untuk promosi acara yang akan ditayangkan di jam siar iklan program TVRI
Dekorasi Panggung
Dekorasi panggung akan mengambil tema studio film. Poster film-film
yang akan dibedah sebaiknya diadakan sebab bisa menjadi nilai tambah
dekorasi.
Pertemuan Lanjutan Kamis 28 February 2013 pukul 15.00 Tempat : Ruang Rapat TVRI Agenda Finalisasi Rundown, dll