film ini sangat menghibur, dan semua orang pasti
mempunyai kesalahan. kesalahan itu bisa datang dari mana saja entah di
lingkungan sekolah, teman atau keluarga, dan pelakunya pun bisa siapa saja seperti :
orang tua, anak, sahabat, kakak ataupun adik. penggambaran yang sangat menarik
tentang manusia. film ini seperti hewan zebra, karena zebra bingung dia
berwarna putih bergaris hitam, atau berwarna hitam bergaris putih,
sangat membingungkan, anda harus nonton film ini dan ambil positifnya..
ingat
pesenku ya mas,. brouwsing ke youtube,. contoh hasil menggunakan kamera
dollies, jimijib, dan stabilizer,. emng alatnya mahal tapi kalau tau
triknya akan mudah,. seperti boom kalian kan pake bambu,. itu yg membuat
saya sangat terkesan,.
jadi kalau sudh tau bntuknya nanti kan gampang di ganti sama alat yg sederhana,.
Trailer film Marjinal
nama : Arditya Sutradara Amatir
asal kota : Solo - Jawa Tengah
kota : Bandung - Jawa Barat - Indonesia
Selamat
kepada semua para pemenang penganugrahan Festivalfilmanak ke-enam 2013
di aula Martabe Kantor Gubernur Sumatera Utara. Berikut insan dan film
terbaik kategori fiksi dan dokumenter FFA 2013.
KATEGORI FILM FIKSI Penganugrahan Insan Terbaik Film Fiksi FFA 2013 • Sutradara Terbaik Film Fiksi FFA 2013 adalah Gilang Kresnawan dalam film “Ini Aku Sheila” produksi Zoom In Production • Kameramen Terbaik Film Fiksi FFA 2013 adalah Chindy Geoffrey dalam film “Ini Aku Sheila” produksi Zoom In Production • Editor Terbaik Film Fiksi FFA 2013 adalah Gilang dalam film “Ini Aku Sheila”produksi Zoom In Production • Ide Cerita Terbaik Film Fiksi FFA 2013 adalah film “Ini Aku Sheila” produksi Zoom In Kami Production • Pemeran Utama Wanita Terbaik Film Fiksi FFA 2013 Yariani dalam film “Sahabat” produksi PPA MDC.
Film Terbaik Kategori Fiksi FFA 2013 Juara 1 : “Ini Aku Sheila”produksi Zoom In Production Juara 2 : “Penyesalan” produksi Kompaz Production Juara 3 : “Sahabat” produksi PPA MDC Production
KATEGORI FILM DOKUMENTER Penganugrahan Insan Terbaik Film Dokumenter FFA 2013
• Kameramen Terbaik Film Dokumenter FFA 2013 adalah Imam Gunawan dalam
film “Diantara Kita” produksi Film Multimedia 2 Production • Editor
Terbaik Film Dokumenter FFA 2013 adalah Gina Sebayang dalam dalam film
“Diantara Kita” produksi Film Multimedia 2 Production • Sutradara
Terbaik Film Dokumenter FFA 2013 adalah Della Zalika Iman dalam film
“Diantara Kita” produksi Film Multimedia 2 Production
Film Terbaik Kategori Dokumenter FFA 2013 Juara 1: “Diantara Kita” produksi Film Multimedia 2 Production Juara 2: “Es Lilin” produksi PPA MDC Production Juara 3: “Indahnya Taman Bermainku” produksi Kompaz Production
Terima kasih kami ucapkan kepada para juri: Bang Ahmad Taufan Damanik (perspektif pemenuhan hak anak), bang Eddy Siswanto (perspektif tema dan keaktoran), bang Onny Kresnawan (perspektif penggarapan cinematografi), ibu drg. Iis Faizah Hanum, M. Kes (pespektif gender dari perw. Biro PPAKB), dan Rizki Fadly Si Pendobrak (perspektif anak).
Ucapan terima kasih kami juga sampaikan kepada ibu Ketua TP. PKK Hj.
Sutias Handayani Gatot Pujo Nugroho (makasih bu sudah datang, dan
terlibat aktif dalam penganugrahannya, ...hadiah tambahannya makasih ya
bu :D), bapak Assisten Kesejahteraan Sosial Setdaprovsu, bang Iswan Kaputra, Rumah Berdikari, KPAID SU, bang M. Raudah Jambak, KKSP, Kepala Badan PPAKB Deli Serdang, Fakora Binjai, Semut Medan Shuffle (great perform), Komunitas Sanggar Amplas Ummi Maniezz cs (thanks tariannya), juga SKA PKPA Pinang Baris, Perwakilan SMK, SMA, dan SMP kota Medan dan Binjai. Juga Media Identitas thanks untuk banyak motivasinya..
Teman-teman media: - Harian Analisa - Harian MedanBisnis - Koran Sindo - Tribun Medan. Thanks untuk publikasinya.., semoga tetap berkarya.
Dan pastinya untuk semua komunitas film anak di Sumut, Kompaz
Production, Qosmic Video Editing, FM2, Zoom IN, Oriza Sativa, Komunitas
Semut, Pondok Surya Production, Biza Production, Medan Magnet
Production, WWB Production, PPA MDC Production, Sultan Iskandar Muda
Production, Fila Production dan lain-lain..
Thanks to all yang tidak disebutkan namanya satu persatu.
Medan (23-25/13) Opique
pictures yang di pimpin oleh M Taufik Pradana dan 5 orang anggota lain menjadi
panitia dalam acara jambore hari anak nasional di bumi perkemahan cadika johor
lalu. Pada dasarnya komunitas film ini mengisi workshop produksi film secara
sederhana kepada peserta jambore. Selain workshop opique pictures juga turut
menjadi penitia keamanan (Fitri), games (Sawal dan Ari Chimeng), dokumentasi (habib), pengisi acara (Rozi dan Fitri) dan menimbun area
kemah yang becek.
Dalam rangkaian acara tersebut,
workshop di bagi menjadi 3 bidang dalam waktu bersamaan, namun dikarenakan
banyak kekurangan secara mekanisme sehingga di lakukannya bergantian jadwal
materi yang berdampingan dengan workshop photografi dalam lokasi yang sama (tenda
peserta).
Pada awal permulaan acara di mulai
dengan registrasi pada hari pertama terkumpuh 80-an peserta dari berbagai
daerah dan kalangan usia, namun pada jadwal wokshop sinematografi peserta
sangan jauh berkurang di karenakan adanya rangkaian acara yang lebih menarik
lagi dan di tambah pula acara jambore yang kurang kondusif.
Dengan peserta yang memiliki minat
tinggi dunia sinematografi walau hanya sedikit peserta tetap berjalan lancar,
hanya saja workshop tidak berjalan interaktif di karenakan suara musik dari
panggung utama yang cukup dominan mengisi suasana di tambah pula peserta wokshop
kebanyakan dari kalangan Tuna wicara.
Medan Heritage Tour adalah satu kegiatan kolaborasi dari berbagai komunitas di Kota Medan yang memiliki tujuan utama yaitu “Selamatkan Warisan Bangunan Sejarah Kota Medan”.
Medan memang terkenal dengan kota yang
multietnis dan hal ini menjadikan kota ini unik dari lainnya. Beragam
budaya, suku dan agama bisa kita lihat saling berbaur satu sama lain di
kota ini.
Kota Medan pada dulunya merupakan
perkotaan yang memang sengaja dibangun untuk kepentingan perdagangan
pada masa kolonial Belanda, sehingga pendatang dari berbagai berbagai
negara berkumpul dan berdagang disini. inilah yang mendasari Kota Medan
kaya akan warisan budayanya. Adapun Warisan Budaya Kota Medan
diantaranya berupa bangunan tua, ruang publik, taman kota, dan seni
budaya. Akan tetapi beberapa aset warisan tersebut perlahan mulai hilang
ataupun dimusnahkan dengan sengaja. Jumlah bangunan tua di Medan yang
memiliki muatan sejarah, perlahan menyurut, seiring dengan pembangunan
fisik kota sampai akhirnya Medan kini telah menjadi kota yang
metropolitan.
Penghancuran bangunan-bangunan tua
selama ini cenderung untuk mengejar pendapatan asli daerah. Ironisnya,
kebijakan yang mengatasnamakan pembangunan Medan menuju kota
metropolitan sangat tergesa karena hanya meraup keuntungan jangka
pendek, dengan mengabaikan aspek lingkungan dan berbagai aspek sosial
budaya masyarakat.
Sebagian besar kota di Indonesia sangat tertinggal dalam sistem pengelolaan dan persepsi terhadap Heritage
(warisan) peninggalan budaya masyarakat baik yang bersifat kasat mata
(tangible) maupun tidak kasat mata (intangible), salah satunya kota
Medan. Persepsi tentang apa itu Heritage masih belum singkron. Padahal
ini penting supaya pemerintah dapat melakukan kebijakan dan menyusun
program pelestarian yang bermanfaat untuk jangka panjang, yang mana ini
akan berdampak positif bagi aspek pariwisata bagi Kota Medan.
Atas dasar pemikiran tersebut, maka Medan Heritage melakukan soft action demi melestarikan Heritage Kota Medan. Kegiatan ini nantinya akan dikenal dengan nama Medan Heritage Tour.
Kegiatan ini akan menampilkan berbagai konten budaya
yang dikemas sedemikian rupa dan disinergikan dengan berbagai aksi
kreatif para pemuda dari berbagai komunits yang ada di Kota Medan.
Berbagai komunitas dari Kota Medan akan saling bersinergi untuk
mengangkat citra Kota Medan di tingkat nasional, khususnya pada aspek
pariwisatanya.
Disisi lain, kegiatan ini juga merupakan
salah satu upaya guna mendapatkan perhatian dari berbagai pihak untuk
mengurangi tingginya tingkat pemusnahan bangunan tua ataupun perubahan
alih fungsi ruang terbuka hijau di Kota Medan.
Kegiatan ini juga akan menjadi kegiatan reguler yang akan diselenggarakan secara berkala per tiga bulan sekali.
Pelestarian warisan budaya juga penting bagi perkembangan sumberdaya
manusia, sebab mereka adalah saksi-saksi bisu sejarah Kota Medan.
Sejarah merupakan aspek penting bagi kemajuan suatu bangsa, aset bagi
generasi muda dan modal bagi pengembangan pariwisata.
Pembelajaran dini bagi generasi muda tentang sejarah sangat
dibutuhkan, dengan mereka tahu kapan, dimana, siapa dan bagaimana Kota
Medan ini terbentuk. Maka, dengan sendirinya rasa kecintaan terhadap
kota akan tertanam sangat dalam di setiap diri generasi muda, sebab
kecintaan timbul berawal dari ia tahu dan paham akan sejarah kota.
Faktanya, sudah banyak bangunan tua di Kota Medan yang telah
diruntuhkan. Ini menjadi satu fenomena yang harus menjadi pertimbangan,
sebab bangunan tua termasuk warisan budaya dan bagian dari sejarah.
Tujuan utama dari Medan Heritage Tour ini adalah :
Membangun kesadaran dan kecintaan masyarakat tentang pentingnya pelestarian Heritage di Kota Medan sebagai peninggalan sejarah.
Menjadi sebuah media silaturahmi antar komunitas di Kota Medan
Memberikan pilihan hiburan baru yang memiliki nilai edukasi yang menarik dan tidak monoton bagi masyarakat Kota Medan
Soft Action bagi pemerintah dan pemilik modal untuk melestarikan
Heritage Kota Medan, tanpa merubah ataupun mengalih fungsikan
bangunan/tempat yang sudah ada sejak dahulu.
Medan.
Perkembangan kreatifitas anak-anak di provinsi Sumatera Utara (Sumut)
dalam menyampaikan pandangan, gagasan maupun harapannya kini semakin
bervariasi dengan keunikan tersendiri. Mulai dari penyampaian secara
pribadi maupun berkelompok dalam komunitas. Diantara banyaknya pilihan
media yang dipergunakan oleh anak dalam berkreatifitas, salah satunya
adalah melalui media film anak. Sampai saat ini saja, setidaknya sudah
ada lebih dari 15 komunitas film anak yang tersebar di berbagai wilayah
kabupaten dan kota di Sumut.
Walaupun
dengan usia yang sangat muda antara 6 sampai 18 tahun, anak-anak
komunitas film terus berupaya belajar untuk memproduksi sebuah film,
baik dengan kategori fiksi maupun dokumenter. Saat ini bisa dipastikan
bahwa film merupakan media yang sangat berpengaruh besar terhadap
pembentukan karakter anak. Tentunya jika suguhan film yang ditonton
adalah baik, maka karekter anak yang sering menontonnya akan menjadi
baik dan apabila tontonan yang diberikan adalah yang tidak ramah anak,
maka anak akan tumbuh menjadi anak yang keliru.
Melihat
betapa pentingnya peranan film-film tersebut dalam mempengaruhi
perkembangan karakter anak, membuat para komunitas film anak terus
berupaya membuat karya-karya yang positif dan layak tonton dengan
nilai-nilai kearifan lokal yang kuat. Berbagai potensi baik secara
personal maupun alam pendukung, ataupun berbagai permasalahan sosial
yang sering kali terjadi di sekitar anak menjadi media yang tepat untuk
di publikasikan melalui film.
Tentunya
kreatifitas anak dengan kemampuan yang luar biasa tersebut perlu
diberikan apresiasi dan penghargaan yang sangat besar dari perbagai
pihak, baik lembaga non pemerintah, pemerintah daerah, pihak swasta dan
masyarakat secara bersama. Dalam hal ini, Pusat Kajian dan Perlindungan
Anak (PKPA) Medan sendiri sangat memberikan apresiasi positif dengan
penyelenggaraan Festival Film Anak (FFA) kembali, dan untuk kali ini
adalah rangkaian festival tahunan ke-enam. Sejak pertama kali,
penyelenggaraan FFA tahun 2008 sampai dengan 2013 tercatat sudah ada 111
film yang diperlombakan dengan kategori fiksi dan dokumenter.
Pada
tahun ini, penyelenggaraan FFA ke-enam dilaksanakan di Aula Martabe
Kantor Gubernur Sumatera Utara (31/8). Tema yang diangkat dalam gelaran
FFA ini adalah ”Aku dan Indonesiaku”. Dengan tema tersebut, para peserta
diharapkan mampu untuk memberikan gagasan, kritikan, maupun harapan
yang baik terhadap berbagai kondisi Indonesia yang anak-anak pahami. Dan
tentunya hal itu akan menjadi masukan yang sangat berharga bagi para
pengambil kebijakan untuk mulai mempertimbangkan aspirasi anak, karena
mereka adalah tonggak kebesaran bangsa.
Penganugrahan film fiksi terbaik pertama tahun ini diberikan kepada film “Ini Aku Sheila” produksi Zoom In Production, film
fiksi terbaik kedua “ Penyesalan” dari komunitas Kompaz Production dan
untuk film terbaik ketiga “Sahabat” produksi PPA MDC Production.Sedangkan untuk kategori film dokumenter dianugrahkan kepada film “Diantara Kita” produksi Film Multimedia 2 Production sebagai film terbaik pertama, film “Es lilin untuk terbaik kedua, dan “Indahnya Taman Bermain” sebagai terbaik ketiga.
Selain itu penganugrahan juga diberikan kepada insan film terbaik
kategori fiksi, seperti sutradara, kameramen, editor, ide cerita,
pemeran utama wanita. Untuk kategori insan film documenter terbaik
meliputi sutradara, cameramen, dan editor.
Rangkaian
penganugrahan FFA semakin meriah dengan banyaknya atraksi anak yang
disuguhkan, seperti tari persembahan anak Amplas, koreo topeng shuffle,
modern dance dan beat box dari berbagai komunitas anak. Turut hadir
dalam rangkaian tersebut para perwakilan pemerintahan, pihak swasta,
lembaga swadaya masyarakat, pihak media, sekolah-sekolah SMP dan SMA,
serta komunitas-komunitas film anak di Sumatera Utara.
“Kami
berharap semakin banyak pihak yang perduli dan juga berperan aktif
dalam pengembangan kreatifitas anak di bidang perfilman. Adanya peran
pemerintah dan sektor swasta yang dapat mendukung penuh penyelenggaraan
FFA ke depannya.” Ucap Misran Lubis selaku Deputi PKPA dalam kata
sambutannya.