Potensi film indie di Kota Medan cukup besar. Sayang, dukungan dari
pemerintah maupun pihak swasta masih sangat minim. Para sineas
(sutradara) jenis film inipun harus rela berkarya di tengah
keterbatasan.
Bagi penggemar film, tentu sudah mengetahui beberapa jenis film dilihat dari proses pembuatan hingga pemasaran. Ada yang menyebutkan dengan film komersil, film dokumenter
maupun film indie.
Untuk film komersil, tentu karya
sutradara-sutradara Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Bahkan
sudah banyak film Indonesia yang sukses menembus pasar dunia.
Sebut saja film laga The Raid yang sukses menembus box office
Amerika Serikat dan Kanada serta 50 negara lainnya. Setelah The Raid,
film Indonesia lainnya mulai mengikuti dan dilirik pasar
internasional. Lantas bagaimana dengan perkembangan film indie?
Film independen atau biasa di sebut indie sebenarnya banyak juga yang
berjaya di luar negeri.
Misalnya, film Revolusi Harapan karya
Nanang Istiabudhi yang mendapatkan Gold Medal untuk kategori Amateur
dalam The 39th Brno Sexten In ternational Competition of Non-Comercial
Featur and Video di Republik Cekoslovakia (1998). Selain itu, film
Novi garapan Asep Kusdinar masuk nominasi dalam Festival Film Henry
Lang lois, Perancis (1998). Dalam Singapore Internasional Film Festival (1999), lima film pendek Indonesia ikut berlaga, yakni film Novi
karya Asep Kusdinar, Jakarta 468 karya Ari Ibnuhajar, Sebuah Lagu
garapan Eric Gunawan, Revolusi Harapan kreasi Nanang Istiabudhi,
dan Bawa Aku Pulang buah karya Lono Abdul Hamid. Film indie adalah film
fitur yang dibuat sebagian besar di luar studio film besar.
Munculnya film indie bermula dari kejenuhan seorang film maker yang
terpengaruh gerakan film di Prancis era 1950 hingga 1960-an, yakni John
Cassavette. Kebosanan Cassavettes atas tematema film Hollywood
yang kerap mengedepankan populisme, patriotisme, drama romantik
dan kekerasan di wujudkan dalam film pertamanya yang kontroversial,
yakni Shadows pada 1962. Sejak itu, istilah film indie mulai dilirik di Amerika.
Seiring perkembangannya, film indie
kemudian mendapat tempat di hati penonton di negara-negara maju,
seperti Meksiko, Australia, Jerman, Perancis, Inggris, Iran, dan
Jepang. Di Indonesia sendiri, film indie sudah mulai dikenal pada tahun
1970-an seiring berdirinya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Pada saat
itu, mulai popular media film 8 mm yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. DKJ kemudian sering membuat Lomba Film Mini yang
mengakomodasi munculnya film-film pendek buatan para amatir, para
seniman di luar film, dan mahasiswa.
Pada awal tahun 1980-an
lalu muncul Forum Film Pendek (FFP) yang digagas oleh banyak orang,
khususnya para seniman di luar film dan kalangan industri film. Forum
ini cukup bisa menciptakan isu nasional dan banyak melakukan
pemutaran film dan apresiasi film hingga ke Kota Medan. Meski demikian,
film indie baru pupuler di Indonesia pada 1999 setelah berdirinya Komunitas Film Independen (Konfiden). Komunitas ini dideklarasikan dengan mengadakan kegiatan Festival Film dan Video Independen di
Indonesia yang sudah dilakukan dua kali, yakni pada 1999 dan 2000.
Sejak
itu, mulai ber munculan lembaga nirlaba film indie di kota-kota
besar di Indoesia. Seperti Bandung Independent Film dan Komunitas Film
Yogyakarta. Para anak-anak muda Kota Medan pun tak mau kalah. Terutama di kalangan mahasiswa yang tertarik mencoba-coba membuat film
indie dengan peralatan seadanya. Saat ini sedikitnya terdapat 60
komunitas film indie di Kota Medan dengan ratusan karya. Tema-tema yang
diangkatpun beragam, mulai dari kehidupan sosial, persahabatan dan tentunya kultur budaya daerah ini.
Memang, tidak diketahui pasti
tahun berapa film indie mulai berkembang di kota ini. Namun berdasarkan
penuturan beberapa komunitas film indie, setidaknya selama 10 tahun terakhir sudah mulai tampak geliat film indie di ibu kota
Provinsi Sumatera Utara ini. Onny Kresnawan, salah satu sineas film
indie Kota Medan mengatakan, film indie sudah mulai berkembang di Kota
Medan sejak tahun 2000an. “Sejak itu sudah mulai ada anak muda
yang produksi film, termasuk saya yang mulai fokus pada 2004. Saat
itu, sudah banyak sineas-sineas atau film maker indie ini,” katanya
kepada SINDO baru-baru ini.
Onny yang sudah berkecimpung
di dunia film indie ini selama delapan tahun terakhir menilai
perkembangan film indie di Kota Medan sebenarnya cukup pesat. Hal
itu dapat dilihat dari banyaknya film asal daerah ini yang ikut serta dalam festival-festival film. Bahkan sineas dari daerah ini sudah
bisa menyelenggarakan festival layaknya festival film di daerah lain,
khususnya Jakarta. Di sini sudah ada even festival film anak (FFA)
yang diadakan setiap tahun dan sudah memasuki tahun kelima pada tahun
ini.
Namun sayang, seluruhnya masih dilakukan secara swadaya
oleh komunitas film indie. Belum ada bantuan konkrit dari pemerintah.
Termasuk tempat sebagai lokasi syuting, apalagi untuk pemutaran
film. Padahal, cukup banyak ta lenta anak-anak muda di kota ini dari
berbagai kultur yang bisa diang kat sebagai cerita film indie.
Sejatinya, pemerintah pernah menjanjikan akan menggelar festival
film setiap tahun di Medan setelah penyelenggaraan Festival Film
Kearifan Budaya Lokal yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
(Disbudpar) Sumut Agustus tahun lalu .
Namun, hingga kini belum ada lanjutannya sampai sekarang. Alhasil, pemerintah hanya membantu
sekali selebihnya merupakan hasil kerja dari sineas-sineas film
yang ada. “Film indie Medan hanya butuh fasilitas pendukung. Kalau
pun tidak dari pemerintah, swasta juga bisa membantu,” kata pria yang
pernah meraih penghargaan untuk film Suara di Balik Tembok dan Goresan
Anak Pemulung.
M Taufik Pradana,21, salah seorang pembuat film indie
yang tergabung dalam Opique Pictures mengaku awalnya hanya
mencoba-coba membuat sebuah film.Dengan alat kamera
seadanya yang beresolusi sangat rendah, dia bersama teman-temannya
mulai memproduksi sebuah film. “Benar-benar seadanya saja dan durasinya juga tidak lama. Kami pakai kamera ala kadarnya dan dipindahkan ke komputer untuk diedit. Walaupun mega pi xel - nya kecil,
tapi kualitasnya cukup baik. Jadi pengeditan masih bisa dilakukan
dengan baik,” ujarnya. Meski serba terbatas, tapi seluruh tim Opique
Pictures terus mengeksplor ke mampuan walaupun hanya sekadar berbekal ilmu dan informasi seadanya.
Maklum waktu itu masih sangat
sedikit orang yang tertarik dengan film indie dan belum ada lembaga
yang bisa membantu. “Bagi kami yang terpenting adalah bagaimana
menyampaikan ideologi yang disampaikan melalui film bisa sampai kepada
masyarakat. Kami terus berkarya walau pun informasi dan alat sangat minim,” ujarnya.
Tak hanya Opique Pictures,
komunitas-komunitas lain juga terus memproduksi film. Pada umumnya
dikirimkan ke festival-festival. Tak sedikit juga yang menyabet
penghargaan. Bahkan baru-baru ini Kementerian Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif datang ke kota ini dalam rangka roadshow film dengan
mengundang komunitas film indie Medan. “Banyak sineas Medan yang
dapat penghargaan karena film-filmnya. Kami terus menggali kemampuan
kami,” ujar ya.
Ya, perlahan tapi pasti para pembuat film
indie ini terus menghasilkan karya-karya dengan harapan konten yang
disampaikan dalam film bisa sampai kepada masyarakat. Tak sedikit
juga hasil karya tersebut diikutsertakan dalam festival yang digelar
penyelenggara lokal maupun nasional dan memenangkan beberapa penghargaan.
“Pada umumnya komunitas memproduksi film untuk
kemudian diikutsertakan ke festival. Dari festival itu kami
ingin memperkenalkan mengenai komunitas film indie yang ada di kota ini.
Kalau kemudian ada sponsorship bersedia memasarkan film lebih
luas, tentu lebih bagus. Tapi, sejauh ini kami tetap dengan ideologi
kami dengan tidak komersil,” ucapnya.
simber : http://www.seputar-indonesia.com/
Rabu, 26 Desember 2012
Kuliah Lancar Nge-band Jalan Terus
Tribun Medan - Senin, 16 Januari 2012 11:41 WIB
Laporan wartawan Tribun Medan/ YoenusTRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sunday Monday belum lama muncul di belantika musik Medan, dan Indonesia. Namun personelnya telah cukup lama berkecimpung di dunia musik. Terbentuk di Sumatera Utara, tepatnya di kota Rantau Prapat pada 9 November 2007. Memiliki kesamaan latar belakang bermusik dan almamater kuliah, menjadi alasan membentuk band ber-genre Emotional Hiprock ini. Meskipun usianya terbilang baru dan personelnya masih duduk di bangku kuliah, sederet prestasi bermusik telah mereka koleksi. Seperti juara 1 Festival pelajar di Rantau Prapat 2007, juara 2 IM3 Musik Festival di Rantau Prapat 2008, juara 1 Festival Honda di Merdeka Walk Medan 2010, juara harapan 1 L.A. Light find the light 2007 di Rantau Prapat, dan lainnya.
Selain itu, Sunday Monday juga kerap tampil membuka konser band besar. Sunday Monday berarti Minggu Senin. Pengalaman pertama diminta manggung selama 2 hari berturut-turut yaitu Minggu dan Senin merupakan asalan mereka mencetuskan Sunday Monday sebagai nama kelompok musik mereka.
Band yang beranggotakan Harris Wianda (vokal), Adistia (vokal), Roby Handika (gitar), Azwarsyah (keyboard), Herri Azlan (bass) dan Yousrizal Amree (drum) telah mengeluarkan 6 single, yaitu Just Wanna Say, Go Away, Hypocritical, Secret, Tak Hanya Bermimpi, dan Tentukan Harimu. Dan single mereka yang berjudul Just Wanna Say dipercayai oleh Opique's Picture untuk mengisi soundtrack film indie berajuk Gak Belok Lagi yang terpilih sebagai juara II festival film anak 2010.
Lirik lagu mereka tidak hanya bertemakan cinta, melainkan lebih bercerita tentang realitas sosial yang lebih memotivasi pendengarnya. "Aliran musik kami Emotional Hiprock. Aliran ini mencirikan karakter suara vokalis dan aransemen yang banyak di pengaruhi oleh band ngetop seperti Linkin Park, Cold Play dan Saint Loco," kata Harris, sang vokalis Sunday Monday. (yns/tribun-medan.com)
biofile
Nama: Sunday Monday
Berdiri: 2007
Genre: Emotional Hiprock
Personel: Harris Wianda (vokal), Adistia (vokal), Roby Handika (gitar), Azwarsyah (keyboard), Herri Azlan (bass) dan Yousrizal Amree (drum).
Single: Just Wanna Say, Go Away, Hypocritical, Secret, Tak Hanya Bermimpi, dan Tentukan Harimu
Penulis : Yoenus
Editor : Wiwi Deriana
Sumber : Tribun Medan
Indonesia Kreatif Adakan Talkshow Aku Cinta Film Indonesia
Tribun Medan - Selasa, 18 Desember 2012 22:48 WIB
Laporan Wartawan Tribun Medan/ Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Indonesia Kreatif adakan talkshow interatif sosialisasi dan pemutaran film dalam tema 'Aku Cinta Film Indonesia', Selasa (18/12/2012) di Ulos cafe, Santika Hotel.
Dalam kegiatan tersebut, Indonesia kreatif menghadirkan pembicara yaitu Sammaria produser film 'Demi Ucok' yang juga berhasil menyabet penghargaan di Festival Film Indonesia (FFI), Rius Suhendra produser Golden Egg, dan Dr Daniel.
Talkshow yang dilakukan sekitar satu jam ini mendapat respon yang sangat baik dari peserta talkshow. Hal ini terlihat saat Sammaria yang juga sebagai moderator mengadakan sesi tanya jawab, banyak peserta yang ingin bertanya.
Ridho salah satu peserta dari Komunitas film opique bertanya bagaimana trik mendapatkan sponsor untuk pembuatan film indie. Hampir sebagian peserta memanfaatkan moment tersebut untuk bertanya semua hal tentang film.
Community Relation Indonesia Kreatif, Tri Damayantho menjelaskan Tujuan sosialisasi Aku Cinta Film Indonesia untuk menggali animo masyarakat terhadap perfilman Indonesia, dimana hal ini dimaksudkan sebagai sarana informasi bagi produser film untuk menemukan tema-tema baru bagi perfilman Indonesia agar lebih beragam.
Acara yang juga di hadiri oleh komunitas film indie di kota Medan ini tidak hanya menghadirkan talkshow tetapi juga pemutaran film pendek karya Sammaria yaitu JUPE (Kepompong Gendut). (Cr3/tribun-medan.com)
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Indonesia Kreatif adakan talkshow interatif sosialisasi dan pemutaran film dalam tema 'Aku Cinta Film Indonesia', Selasa (18/12/2012) di Ulos cafe, Santika Hotel.
Dalam kegiatan tersebut, Indonesia kreatif menghadirkan pembicara yaitu Sammaria produser film 'Demi Ucok' yang juga berhasil menyabet penghargaan di Festival Film Indonesia (FFI), Rius Suhendra produser Golden Egg, dan Dr Daniel.
Talkshow yang dilakukan sekitar satu jam ini mendapat respon yang sangat baik dari peserta talkshow. Hal ini terlihat saat Sammaria yang juga sebagai moderator mengadakan sesi tanya jawab, banyak peserta yang ingin bertanya.
Ridho salah satu peserta dari Komunitas film opique bertanya bagaimana trik mendapatkan sponsor untuk pembuatan film indie. Hampir sebagian peserta memanfaatkan moment tersebut untuk bertanya semua hal tentang film.
Community Relation Indonesia Kreatif, Tri Damayantho menjelaskan Tujuan sosialisasi Aku Cinta Film Indonesia untuk menggali animo masyarakat terhadap perfilman Indonesia, dimana hal ini dimaksudkan sebagai sarana informasi bagi produser film untuk menemukan tema-tema baru bagi perfilman Indonesia agar lebih beragam.
Acara yang juga di hadiri oleh komunitas film indie di kota Medan ini tidak hanya menghadirkan talkshow tetapi juga pemutaran film pendek karya Sammaria yaitu JUPE (Kepompong Gendut). (Cr3/tribun-medan.com)
Penulis : Ayu Prasandi
Editor : Muhammad Tazli
Sumber : Tribun Medan
Opique Pictures Medan Bukan Hanya Jago Kandang
Tribun Medan - Selasa, 30 Oktober 2012 12:30 WIB
Laporan Wartawan Tribunmedan/ Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Film indie saat ini sudah menarik perhatian di kalangan anak muda. Salah satunya film indie yang dihasilkan oleh komunitas yang dibentuk pada tahun 2007 oleh 5 orang yang awalnya menamai diri mereka sebagai ghoqielt community ini dulunya hanya terdiri dari Opik, Adit, Ardy, Johan dan Fadly . kemudian mereka mengganti nama menjadi Opique Picture.Di usianya yang kelima ini
Opique Picture, mereka sudah menghasilkan sekitar 50 buah judul film. Diantaranya adalah Rumah Kita, Global Never Warming, Gulung Uang, Jo mengejar Cinta, Hydrosper, Dari Hati, Choise Of Demo Grazy, Ketika Kekuatan menjadi Mayoritas, Museum Sejarah yang Terlupakan, 1000 Langkah Satu Tujuan, Pionaring Sahabat dan Kelas Berdinding Angin.
Batu-baru ini, Opique Pictures memunculkan film terbaru mereka yang berjudul Marjinal. Film ini mengangkat tema yang mengisahkan tentang Kulog, pengamen yang berjuang sendiri membiayai pendidikan adiknya, karena orang tuanya sudah meninggal dunia. Karena penghasilan sebagai pengamen tidak cukup, Kulog memutuskan menjual narkoba.
Opique Pictures juga menambahkan bumbu-bumbu percintaan agar film jadi lebih berasa dan tidak membosankan. Opique Pictures sadar membuat film memang memeras banyak tenaga, biaya, dan waktu. Seperti pada persiapan produksi film Marjinal yang memakan waktu satu tahun setengah.
Sutradara film Marjinal Ridho Pratama, mengaku rancangan biaya produksi menelan kurang lebih 102 juta rupiah. Namun, berkat kekompakan Opique Pictures biaya tersebut bisa diatasi.
Ridho memjelaskan, misalnya saja ketika memakai lokasi panti asuhan Opique Pictures mengaku dapat menggunakannya secara gratis. Begitu pula untuk mencari pemain, komunitas yang diketuai Ridho Pratama ini, mengandalkan pemain yang memang mau bergabung secara sukarela. Walau demikian Opique Pictures tidak asal memilih pemain, mereka tetap mengadakan
casting untuk menyeleksi pemain mana yang memang pantas untuk tampil di film yang mulai diproduksi sejak 16 Februari 2012 ini.
“Ya, kami tetap melihat apakah pemainnya cocok dari segi wajah, kemampuan peran, dan karakternya,” jelas Ridho kepada Tribun, Selasa(30/10/2012).
Setelah melewati proses seleksi, pemain diharuskan mengikuti karantina selama dua minggu agar mereka menemukan karakter dan menghayati peran yang mereka ambil. Kata Ridho lagi, hal paling penting untuk bermain di film ini adalah pembinaan hubungan nyaman antara kru dan pemain.
“Saya juga nggak menyangka bisa bergabung dengan tim Opique Pictures. Karena saya suka seni peran, saya memang menikmati karakter yang saya mainkan. Apalagi saya sudah tidak canggung lagi dengan orang-orang baru,” jawab Fany yang berperan sebagai Sofy dalam film marjinal.
menurut anggota Opique Pictures juga Opick mengatakan, salah satu keunggulan komunitas movie maker ini adalah mereka mampu membuat film yang berkualitas hanya dengan kamera sederhana. Bagi mereka yang membuat film itu bagus adalah ide cerita dan teknik pengambilan gambar yang bervariasi. Keterbatasan dana dan alat perekam tidak menjadikan komunitas ini berhenti berprestasi.
Opick menuturkan beberapa prestasi yang pernah Opique Pictures raih. Diantaranya adalah tahun 2008 Opick dinobatkan menjadi sutradara terbaik film pendek berjudul yang diselenggarakan Lembaga Sosial Masyarakat Pusat kajian Perlindungan Anak (LSM PKPA), tak puas sampai disitu, tahun 2009 mereka masuk ke dalam kategori editor terbaik, dan masih di tahun yang sama Opique Picture kembali menyabet juara II skrip berjudul Memulung Cita-Cita diselenggarakan oleh Festival Film Anak (FFA) pada hari anak nasional.
Tahun 2010 Juara II film dokumnter berskala nasional dalam ajang festival film anak 2010 dengan judul Museum Sejarah Yang Terlupakan dan di Tahun 2011 juara III film dokumenter berskala nasional dalam ajang Festival Jurnalistik Nasional dan Media Expo yang diselenggarakan Departemen Komunikasi FISIP USU dengan judul Kelas Berdinding Angin.
"Berbeda dengan film-film komersial, film indie tidak punya pasar untuk mendistribusikan karya kami. Hal inilah yang menyebabkan film-film indie kurang dikenal di masyarakat. Jika satu atau dua bioskop di Medan memberikan kesempatan untuk memutar film independen, saya yakin film jenis ini bisa dikenal masyarakat dan tidak dianggap sepele lagi," tutur Opick.
Opik mengatakan, Sampai saat ini kebanyakan mereka memutar film tersebut masih di dalam ruang lingkup sempit seperti kampus atau kalangan sendiri. Padahal seperti telah dibahas diatas banyak film-film indie yang kualitasnya sudah diakui lewat festival-festival film.
“Menurut saya film-film itu bisa untuk memberikan angin segar bagi penikmat film yang mulai bosan dengan suguhan film bertema horor plus pornografi yang marak di bioskop,” katanya Mahasiswa Ilmu Komunikasi USU ini.(Cr3/tribunmedan.com)
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Film indie saat ini sudah menarik perhatian di kalangan anak muda. Salah satunya film indie yang dihasilkan oleh komunitas yang dibentuk pada tahun 2007 oleh 5 orang yang awalnya menamai diri mereka sebagai ghoqielt community ini dulunya hanya terdiri dari Opik, Adit, Ardy, Johan dan Fadly . kemudian mereka mengganti nama menjadi Opique Picture.Di usianya yang kelima ini
Opique Picture, mereka sudah menghasilkan sekitar 50 buah judul film. Diantaranya adalah Rumah Kita, Global Never Warming, Gulung Uang, Jo mengejar Cinta, Hydrosper, Dari Hati, Choise Of Demo Grazy, Ketika Kekuatan menjadi Mayoritas, Museum Sejarah yang Terlupakan, 1000 Langkah Satu Tujuan, Pionaring Sahabat dan Kelas Berdinding Angin.
Batu-baru ini, Opique Pictures memunculkan film terbaru mereka yang berjudul Marjinal. Film ini mengangkat tema yang mengisahkan tentang Kulog, pengamen yang berjuang sendiri membiayai pendidikan adiknya, karena orang tuanya sudah meninggal dunia. Karena penghasilan sebagai pengamen tidak cukup, Kulog memutuskan menjual narkoba.
Opique Pictures juga menambahkan bumbu-bumbu percintaan agar film jadi lebih berasa dan tidak membosankan. Opique Pictures sadar membuat film memang memeras banyak tenaga, biaya, dan waktu. Seperti pada persiapan produksi film Marjinal yang memakan waktu satu tahun setengah.
Sutradara film Marjinal Ridho Pratama, mengaku rancangan biaya produksi menelan kurang lebih 102 juta rupiah. Namun, berkat kekompakan Opique Pictures biaya tersebut bisa diatasi.
Ridho memjelaskan, misalnya saja ketika memakai lokasi panti asuhan Opique Pictures mengaku dapat menggunakannya secara gratis. Begitu pula untuk mencari pemain, komunitas yang diketuai Ridho Pratama ini, mengandalkan pemain yang memang mau bergabung secara sukarela. Walau demikian Opique Pictures tidak asal memilih pemain, mereka tetap mengadakan
casting untuk menyeleksi pemain mana yang memang pantas untuk tampil di film yang mulai diproduksi sejak 16 Februari 2012 ini.
“Ya, kami tetap melihat apakah pemainnya cocok dari segi wajah, kemampuan peran, dan karakternya,” jelas Ridho kepada Tribun, Selasa(30/10/2012).
Setelah melewati proses seleksi, pemain diharuskan mengikuti karantina selama dua minggu agar mereka menemukan karakter dan menghayati peran yang mereka ambil. Kata Ridho lagi, hal paling penting untuk bermain di film ini adalah pembinaan hubungan nyaman antara kru dan pemain.
“Saya juga nggak menyangka bisa bergabung dengan tim Opique Pictures. Karena saya suka seni peran, saya memang menikmati karakter yang saya mainkan. Apalagi saya sudah tidak canggung lagi dengan orang-orang baru,” jawab Fany yang berperan sebagai Sofy dalam film marjinal.
menurut anggota Opique Pictures juga Opick mengatakan, salah satu keunggulan komunitas movie maker ini adalah mereka mampu membuat film yang berkualitas hanya dengan kamera sederhana. Bagi mereka yang membuat film itu bagus adalah ide cerita dan teknik pengambilan gambar yang bervariasi. Keterbatasan dana dan alat perekam tidak menjadikan komunitas ini berhenti berprestasi.
Opick menuturkan beberapa prestasi yang pernah Opique Pictures raih. Diantaranya adalah tahun 2008 Opick dinobatkan menjadi sutradara terbaik film pendek berjudul yang diselenggarakan Lembaga Sosial Masyarakat Pusat kajian Perlindungan Anak (LSM PKPA), tak puas sampai disitu, tahun 2009 mereka masuk ke dalam kategori editor terbaik, dan masih di tahun yang sama Opique Picture kembali menyabet juara II skrip berjudul Memulung Cita-Cita diselenggarakan oleh Festival Film Anak (FFA) pada hari anak nasional.
Tahun 2010 Juara II film dokumnter berskala nasional dalam ajang festival film anak 2010 dengan judul Museum Sejarah Yang Terlupakan dan di Tahun 2011 juara III film dokumenter berskala nasional dalam ajang Festival Jurnalistik Nasional dan Media Expo yang diselenggarakan Departemen Komunikasi FISIP USU dengan judul Kelas Berdinding Angin.
"Berbeda dengan film-film komersial, film indie tidak punya pasar untuk mendistribusikan karya kami. Hal inilah yang menyebabkan film-film indie kurang dikenal di masyarakat. Jika satu atau dua bioskop di Medan memberikan kesempatan untuk memutar film independen, saya yakin film jenis ini bisa dikenal masyarakat dan tidak dianggap sepele lagi," tutur Opick.
Opik mengatakan, Sampai saat ini kebanyakan mereka memutar film tersebut masih di dalam ruang lingkup sempit seperti kampus atau kalangan sendiri. Padahal seperti telah dibahas diatas banyak film-film indie yang kualitasnya sudah diakui lewat festival-festival film.
“Menurut saya film-film itu bisa untuk memberikan angin segar bagi penikmat film yang mulai bosan dengan suguhan film bertema horor plus pornografi yang marak di bioskop,” katanya Mahasiswa Ilmu Komunikasi USU ini.(Cr3/tribunmedan.com)
Penulis : Ayu Prasandi
Editor : Muhammad Tazli
Sumber : Tribun Medan